Jika Puasa Ramadhan Terasa Terlalu Mudah Bagimu

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 17 Juni 2016
Jika Puasa Ramadhan Terasa Terlalu Mudah Bagimu

Sejak pagi, bau masakan menguar dari arah dapur. Hari ini Rizqa memasak banyak sekali.

“Masak apa?” Tanya saya.

“Kesukaanmu,” jawabnya sambil tersenyum.

Saya membalas senyumnya. Saya tahu apa yang sedang dimasaknya. Martabak telur. “Tapi kok lama banget masak martabak telur?”

“Masaknya banyak. Bisa buat sampai sahur,” Sahut Rizqa. “Aku juga masak ayam suwir dan lain-lain, sih...”

Tiba-tiba perut saya jadi lapar. “Udah boleh dimakan?” Saya mencomot satu martabak telur yang baru saja masak.

“Ya boleh, lah… Kayak apaan aja.” Rizqa tertawa geli, “Tapi nanti kita makan bareng ya, setelah Kalky pulang sekolah. Munggahan. Sambil berdoa bersama mau puasa.”

Saya mengangguk. Tentu saja. Tak ada alasan untuk tak menyetujuinya.

Ini kali kedua kami akan berpuasa di ‘negeri orang’. Rasanya memang beda. Sepi-sepi saja di sini... Jika dibandingkan dengan di Indonesia, sehari menjelang puasa seperti ini, suara-suara kaset pengajian akan mulai berkumandang dari masjid-masjid di sekeliling rumah. Orang boleh berdebat soal apakah suara karet itu mengganggu atau tidak, bid’ah atau tidak, tetapi bagi saya suara-suara itu adalah warna tersendiri dari Ramadhan di Indonesia yang begitu Indah jika dikenang dari negeri orang. Ada suasana semarak yang tiba-tiba menyeruak, memberi tanda bagi sesuatu yang berbeda dan istimewa: Penghulu para bulan sudah datang!

Lalu penjual-penjual makanan mulai menghiasi pinggiran jalan. Spanduk-spanduk bernada religius tiba-tiba memenuhi wajah kota. Sementara di televisi, saban hari kita bisa melihat berbagai ceramah ustad, acara sahur atau ngabuburit, hingga iklan Promag dan sirup Marjan. Semua itu, di luar hal-hal yang membuat puasa Ramadhan begitu berkesan sebagai ‘arena berjualan’, ‘pamer kesalehan’, atau ‘pencitaraan politik keagamaan’, tetap saja menerbitkan rasa kangen tersendiri tentang suasana di sebuah negeri bernama Indonesia.

Ramadhan selalu istimewa bagi kami sekeluarga. Sebisa mungkin kami selalu ingin ‘menyambut’ bulan ini dengan perasaan dan persiapan yang lain dari peristiwa-peristiwa biasanya. Dan hari ini, Rizqa memasak yang lain dari biasanya, lebih banyak dari biasanya…

“Kita sudah nyiapin apa aja buat puasa, Mi?”

Rizqa diam sejenak. “Beras habis, Pi. Bahan-bahan makanan juga perlu belanja lagi…”

Saya nyengir, “Maksudnya, persiapan diri, Mi…”

“Oh…,” Rizqa nyengir. “Yuk kita siapin yang terbaik, Pi! Mudah-mudahan Ramadhan tahun ini kualitas puasa dan ibadah kita makin baik, ya…”

“Aamiin…” Jawab saya.

“Nanti malem kita tarawih ke masjid?” Tanya Rizqa.

Saya mengangguk. “Yuk!” Saya terdiam beberapa saat, “Tapi, Kemi gimana ya?”

“Iya, ya… Di luar lagi dingin banget soalnya!”

“Ya udah, kamu di rumah aja. Aku dan Kalky yang ke masjid, deh.”

Rizqa tampak sedih… “Yah, nggak seru.”

Saya berusaha tersenyum ke arahnya.

“Iya… Nggak apa-apa…” Jawab Rizqa.

Bagaimanapun, percakapan-percakapan semacam ini hanya ada di bulan Ramadhan. Saat kami kadang harus berdebat soal ‘Tarawih di rumah aja, kan lebih baik di rumah, bukan?’ atau ‘Tapi kan aku pengin dengerin ceramahnya juga di masjid’. Semua ini hanya ada di bulan puasa… Semua percakapan tentang ‘Sahur sama apa?’ atau ‘Nanti buka puasa enaknya apa, ya?’ atau ‘Bangunin aku jam empat, ya!’ atau ‘Tadi naro Al-Quran di mana, ya?’… Semua yang begitu berharga dalam maknanya jika kita pikirkan dengan seksama.

“Eh, puasa di sini enak, ya, Pi? Cuma sebelas jam. Bahkan sepuluh setengah jam.” Ujar Rizqa.

“Eh, iya, ya?” saya mengangguk. “Enak, banget, ya? Yang kasihan di Iceland, bisa sampai dua puluh dua jam. Atau di Eropa yang bisa lebih dari 15 jam.”

“Emang paling enak di Indonesia, sih.” Ujar Rizqa, “Puasa selalu stabil 13,5 jam…”

Saya mengiyakan. Tetapi tertahan oleh sebuah pertanyaan yang tiba-tiba muncul dari dalam pikiran, “Mi, ngerasa nggak kalau puasa itu makin gampang?”

Rizqa tampak berpikir. “Hmmm…, iya, sih…”

Tiba-tiba saya ingat nasihat guru saya. Katanya, jika engkau sudah merasa bahwa puasa terlalu mudah bagimu, berarti ada yang salah dengan puasamu!

“Puasa kan seharusnya medan ujian? Latihan buat diri… Untuk mengubah ulat diri jadi kupu-kupu takwa. Kalau cuma menahan haus dan lapar, gampang banget, kan?” Tanya saya pada Rizqa.

Rizqa mengangguk. Tersenyum. “Berarti kita harus berhenti berpuasa seperti anak-anak yang hanya menahan haus dan lapar.”

Saya terdiam. Mengangguk setuju. Lembaran-lembaran Al-Quran memanggil-manggil meminta dibaca. Hati yang bebal ingin dilembutkan. Pikiran yang kotor harus segera dijernihkan. Harta harus disucikan. Sementara sesuatu terus berbisik lembut dan menggetarkan, ‘Jika kau merasa puasa terlalu mudah bagimu, berarti ada yang salah dengan puasamu!’

Melbourne, 17 Juni 2015

FAHD PAHDEPIE