Orangtua Istrimu Adalah Orangtuamu Juga

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 15 April 2016
Kata, Rasa, Tanya

Kata, Rasa, Tanya


Sekumpulan tulisan lepas Fahd Pahdepie di berbagai media online.

Kategori Spiritual

153.4 K Hak Cipta Terlindungi
Orangtua Istrimu Adalah Orangtuamu Juga

Pagi ini salah seorang karyawan saya mendatangi saya dengan wajah yang sedih. Ia butuh bantuan, katanya. Orangtuanya mengalami kecelakaan dan membutuhkan pertolongan segera. Segera saya katakan kepadanya bahwa saya akan membantunya, semoga itu bisa menenangkannya.

Namun, beberapa saat kemudian, ia menceritakan tentang bahwa ia terpaksa melakukan semua ini--bahkan hingga perlu berbicara kepada saya. "Istri saya selalu marah kalau menyangkut segala hal yang berhubungan dengan orangtua saya." Ceritanya. "Jika saya ingin membantu orangtua, ia seolah keberatan."

Saya berusaha tetap mendengarkan, meski sebetulnya sudah tidak bersemangat. Saya tak ingin terlibat ke dalam urusan pribadi terlalu dalam. Tetapi ia terus bercerita.

Ia terus bercerita hingga saya sampai pada sebuah kesimpulan bahwa semua ini bermula dari komunikasi yang tidak baik. "Apakah jika Anda ingin membantu orangtua Anda sudah pasti istri Anda menolaknya?"

Ia terdiam beberapa saat.

"Mungkin perlu dikomunikasikan dengan baik saja," Ujar saya.

Ia masih terdiam sebelum kalimat itu terlontar, "Biasanya begitu. Memang selalu begitu," Katanya.

Saya menggelengkan kepala. "Sekarang, apakah jika orangtua istri Anda membutuhkan bantuan, Anda akan segera mengizinkan istri Anda untuk membantunya, bisa uang, waktu, atau tenaga?"

"Tergantung," Jawabnya, "Asal jangan sampai kebiasaan. Sebab orangtuanya selalu lebih merepotkan kami,"

Kini saya tahu jawabannya.

"Berapa lama Anda sudah menikah?" Tanya saya.

"13 tahun," jawabnya.

"Mungkin, itulah masalahnya," sahut saya, "Selama 13 tahun Anda selalu menganggap orangtua istri Anda bukan orangtua Anda sendiri. Dan selama 13 tahun yang sama istri Anda gagal menganggap orangtua Anda seperti orangtuanya sendiri."

Ia terdiam.

 

FAHD PAHDEPIE
Penulis buku 'Sehidup Sesurga' (Coming Soon)


  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    *Manggut-manggut... ^_

  • Muafa R.
    Muafa R.
    1 tahun yang lalu.
    Sepemikiran...

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Menurut rumor orang-orang katanya itu berdasarkan agama yaitu :

    1. Seorang suami memiliki 2 beban kewajiban yang harus ditanggung, yg pertama adalah keluarga sendiri (istri dan anak) dan yang ke 2 adalah orang tua

    2. Seorang istri memiliki 2 beban kewajiban yang harus dijalankan, yang ke-1 mengurus suami dan anak-anaknya, dan ke 2 mengurus orangtua suami. Sedangkan untuk kebutuhan/ beban orangtuanya sendiri tergantung kebijakan sang suami karena beban orang tua istri sudah dilimpahkan ke anak laki-lakinya (kakak atau adik si istri)

    *opini saya walau belom berkeluarga, saya kurang sependapat karena :

    Dari Abdullah bin 'Amr beliau berkata; Rasulullah saw bersabda; Ridha Allah pada ridha orang tua dan murka Allah pada murka orangtua (H.R.Al-Baihaqy).

    1. Ada Hadist : " Ridho Allah tidak akan turun ke seorang Anak tanpa Ridho Orangtua si Anak" sedangkan seorang istri / suami adalah masih status seorang anak jika orang tuanya masih hidup. Hadist itu masih tetap berlaku selama orang tua masih hidup.

    2. Suami sebagai seorang pemimpin harus bijaksana, jika orang tua istri memiliki permasalahan dan butuh bantuan, suami harus bisa memberi bantuan berdasakan kemampuan keluarganya, jgn karena tidak memiliki kewajiban tersebut sang suami melarang atau menolak membantu orang tua istri.

    3. Suami harus menganggap keluarga (orang tua dan sodara) istri adalah keluarganya juga dan sebaliknya juga istri harus menganggap orang tua dan keluarga suami adalah keluarganya juga.

    Jika dari awal pacaran atau sebelum nikah tidak ada komitmen tentang itu, ya jadinya akan mucul kasus seperti di atas. Dan itu sering terjadi dalam pernikahan sekarang-sekarang ini.
    Intinya sih jgn egois dalam menjalani biduk rumah tangganya. Jangan sampai muncul ucapan "Gue nikahan istri gue bukan orang tuanya atau keluarga.. jadi tanggung jawab gue adalah istri /suami gue.. bukan orang tua istri/suami"
    Ingay semua pasti ada solusinya yang pasti musawarah antar anggota keluarga untuk mencapai mufakat. :-)