Mencintaimu Seperti di Dunia Dongeng

Fahd Pahdepie
Karya Fahd Pahdepie Kategori Inspiratif
dipublikasikan 14 April 2016
Mencintaimu Seperti di Dunia Dongeng

Sudah hampir seminggu saya menyaksikan istri saya, Rizqa, sakit. Bukan sakit yang serius. Ia demam karena berhenti memberi ASI kepada putra kedua kami, Kemi.

"Gimana rasanya?" Tanya saya.

"Nggak bisa dijelaskan. Pokoknya gitu aja." Jawab Rizqa sambil meringis. Di situasi sepeti itu biasanya ia akan menambahkan, 'Nanti juga tahu sendiri rasanya', tapi untuk soal satu ini tentu tak mungkin. Ini sakit yang spesifik dan saya hanya bisa berusaha mengerti.

Namun, sulit juga berusaha mengerti untuk sesuatu yang benar-benar tak bisa kita pahami. Ketika saya bermaksud mengagetkannya dengan mengguncangkan bahunya saja, istri saya marah. Sakit, katanya. Dan ia jadi lebih sensitif, seperti saat datang bulan.

"Kalau sakit gini, apa nanti aja Kemi berhenti ASI-nya?" Tanya saya.

"Bisa aja sih, tapi nanti juga sama-sama sakit." Jawabnya. "Sekarang lebih baik, buat akunya dan juga buat Kemi-nya." Ia sudah punya pertimbangan tersendiri tentunya, selain juga karena saran dokter tempatnya selama ini berkonsultasi.

"Gimana sih rasanya?" Saya penasaran.

"Pokoknya gitu, deh... Tapi, yang ini lebih sakit sama waktu Kalky dulu."

Saya hanya bisa merespons dengan 'Oh', tak punya kata-kata lain lagi.

Melihatnya seperti ini, saya jadi berpikir, pengorabanan seorang istri sekaligus ibu begitu luar biasa. Dan laki-laki mungkin tak bisa membayangkannya begitu saja, apalagi menjalaninya.

"Boleh nggak aku tulis jadi cerita?" Tanya saya pada Rizqa.

Ia terdiam beberapa saat. "Hmmm... Boleh aja. Tapi gimana nyeritainnya?" Tanya Rizqa.

Saya berpikir sejenak. "Belum tahu..." Jawab saya.

"Lho? Aneh..." Ujarnya.

"Ya, penulis kan emang gitu." Sahut saya, "Ketika seorang penulis ingin menuliskan sesuatu, ia hanya ingin menuliskannya saja. Meski belum benar-benar tahu apa yang nanti akan ia tuliskan..." Rizqa memerhatikan wajah saya yang berubah serius. Saya terdiam beberapa saat dan balik menatap wajah Rizqa, "Seperti mencintaimu, seperti menikahimu..." Sambung saya.

Rizqa mengerutkan dahinya. Ia memberi isyarat pertanyaan.

"Ya, seperti menuliskan sebuah kisah... Aku mencintaimu dan menikahimu tanpa benar-benar tahu apa yang nanti akan terjadi di antara kita."

Rizqa tersenyum.

"Aku hanya ingin melakukannya. Seperti di dunia dongeng. Aku mencintaimu sejak 'pada suatu hari...' hingga kita 'hidup bahagia untuk selama-lamanya'."

Rizqa tertawa kecil sambil menepuk pundak saya. Saya membalas menepuk pundaknya... Lalu ia meringis kesakitan.

Pamulang, 14 April 2016

FAHD PAHDEPIE
Penulis buku Sehidup, Sesurga (Coming Soon)


  • Nana Mu'awanah
    Nana Mu'awanah
    1 tahun yang lalu.
    Uhuy..bang fahd ni selalu romantis sama teh rizka..

  • Ilham Wahyudi :D
    Ilham Wahyudi :D
    1 tahun yang lalu.
    Asik asik asik seterus

  • Muthmainnah Rati
    Muthmainnah Rati
    1 tahun yang lalu.
    Saya paling suka bagian ini:
    "Aku hanya ingin melakukannya. Seperti di dunia dongeng. Aku mencintaimu sejak 'pada suatu hari...' hingga kita 'hidup bahagia untuk selama-lamanya'."
    Duh jadi merinding bacanya, saya bisa merasakan betapa Bang Fahd begitu mencintai mbak Rizqa..
    Semoga langgeng, sehidup, semati, sesurga, aamiin ... \(^_^\)

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Ending posting yang blink-blink... ^_

  • Agung Pangestu 
    Agung Pangestu 
    1 tahun yang lalu.
    Saya kok kangen tulisan khasnya Fahd Djibran bukan Fahd Pahdepie

    • Lihat 2 Respon