Makan karena Rasa Ingin Dapat Mengaktifkan Sistem Otak

Fahar Aha
Karya Fahar Aha Kategori Kesehatan
dipublikasikan 21 Desember 2017
Makan karena Rasa Ingin Dapat Mengaktifkan Sistem Otak

'Kelaparan hedonik' atau keinginan untuk makan karena rasa ingin memicu sistem otak kita untuk merangsang tubuh makan secara berlebih. Hal ini seperti saat kamu perempuan cantik bijak menemukan diskon yang seringkali tidak bisa melewatkannya.

Tentu makanan penutup seperti es krim atau cheese cake akan mengoda kita untuk melahapnya. Ketika menu makanan penutup tersebut disajikan, banyak dari kita mulai berpikir bahwa kita bisa menemukan sedikit ruang lagi di perut kita untuk sepotong makanan yang enak ini.

Begitu makanan penutup itu sendiri tiba, "hanya satu gigitan" berubah menjadi lima dan akan membuat kita makan berlebihan. Keinginan untuk makan guna menyenangkan diri disebut juga ‘kelaparan hedonik’ dan hal ini dapat menyebabkan beberapa orang makan lebih banyak dan mungkin akan mengarah ke obesitas.

Makan karena rasa ingin, berlawanan dengan makan karena lapar. Hal ini dapat ‘mengaktifkan sinyal’ endogen di otak, yang jika diaktifkan akan membuat orang makan lebih banyak makanan yang dia sukai seperti saat melihat resep masakan indonesia kesukaannya, bahkan ketika sudah kenyang. Sebuah studi yang diterbitkan dalam Journal of Clinical Endocrinology and Metabolism menemukan fenomena ini.


Hal ini terkait erat dengan indeks massa tubuh (BMI) dan mungkin merupakan faktor penyebab obesitas, ungkap para peneliti yang melakukan penelitian di University of Naples SUN di Italia. Para peneliti percaya bahwa mekanisme ‘meberi hadiah’ pada otak, khususnya hormon ghrelin dan senyawa kimia 2-arachidonoylglycerol (2-AG) dapat memicu respons tubuh terhadap makanan yang menggoda.

Untuk membantu mengatasi hal ini, mereka menguji delapan orang dewasa, memberi mereka makanan favorit mereka terlebih dahulu dan kemudian makanan yang kurang disukai dengan nilai kalori dan gizi yang sama. Tingkat gyrelin dan 2-AG secara tidak sadar meningkat saat mereka menikmati makanan favorit mereka, tapi tidak ketika makan makanan yang kurang enak. Ini menunjukkan bahwa sistem kimia di otak bisa mempengaruhi keinginan untuk makan secara berlebih.

"Memahami mekanisme fisiologis yang mendasari perilaku makan ini dapat menjelaskan epidemi obesitas," kata Palmiero Monteleone, MD, dari University of Naples SUN di Italia dan penulis utama studi ini. "Penelitian lebih lanjut harus dapat menyakinkan dan memperluas hasil penelitian kami kepada penderita obesitas atau gangguan makan agar bisa lebih memahami fenomena makan karena tergoda."

Ketika harus berdiet, ada banyak informasi yang saling bertentangan tentang seberapa sering kita harus makan. Ikuti langkah-langkah berikut ini untuk mengatasi rasa ingin makan pada saat kamu kenyang dan dihadapkan pada makanan yang terlalu menggoda:

  • Minum air. Seringkali, kita pikir kita merasa lapar tapi sebenarnya haus. Langkah pertama untuk menghentikan keinginan makan adalah dengan menenggak segelas penuh air. Puaskan kehausanmu lalu hasrat untuk makan mungkin akan berhenti.
  • Mengunyah permen karet. Ambil sepotong saja permen karet rendah gula agar tidak kecanduan makan permen karet. Mengunyah akan membuatmu cenderung tidak jadi makan.
  • Cari hal yang dapat mengurungkan keinginanmu tersebut. Saat kamu ada di rumah atau duduk di meja kerja, kamu bisa saja tergoda untuk makan nasi karena merasa bosan, bukan karena kelaparan. Setiap kali kamu membuka lemari es, bersiaplah tergoda untuk makan. Coba berjalan-jalan di sekitar rumah atau membaca buku, yang penting berbuatlah apa pun yang bisa mengalihkanmu dari makanan.
  • Mencicipi sedikit. Jika semuanya cara menghentikan hobi makan gagal dan kamu memang menginginkannya, gunakan ‘tiga aturan gigitan’: Makanlah cukup dengan tiga gigitan, yang cukup untuk memuaskan rasa ingin. Setelah itu ada baiknya kamu ‘menjauh’ dari makanan tersebut supaya tidak tergoda lagi.

  • view 207