Benarkah, Terlalu Lama Menonton TV berakibat Mengurangi Usia?

Benarkah, Terlalu Lama Menonton TV berakibat Mengurangi Usia?

Fahar Aha
Karya Fahar Aha Kategori Kesehatan
dipublikasikan 19 Desember 2017
Benarkah, Terlalu Lama Menonton TV berakibat Mengurangi Usia?

Inilah alasan mengapa para ahli mengatakan kenapa orang-orang akan lebih banyak makan dan sedikit bergerak jika sedang di depan TV
Sebuah penelitian baru menyatakan bahwa menghabiskan waktu dengan menonton TV dapat memperpendek masa hidup Anda.

Godaan untuk menonton TV sangatlah banyak dan bermacam-macam untuk setiap orang, seperti mengagumi pemeran utama dalam acara TV yang ditonton salah satunya siapa coba yang ngga ngefans sama aktris cantik seperti Raline Shah, pasti banyak anak muda baik cewek maupun cotok yang ingin cari tahu bagaimana kehidupan Raline Shah dan keluarga baik dalam araca tv maupun dalam kehidupan sehari-hari.

Quote:Para peneliti di Australia menemukan (hasil penelitian masih diperdebatkan) bahwa orang yang meghabiskan rata-rata enam jam dalam sehari untuk menonton TV hidupnya akan menjadi lima tahun lebih pendek dari yang tidak menonton TV sama sekali.
Menurut penelitian yang dipimpin oleh Dr. J. Lennert Veerman dari University of Queensland, orang di atas umur 25 tahun akan berkurang masa hidupnya selama 22 menit setiap jam dia menonton TV. Namun ada juga beberapa ahli yang menyatakan, bahwa menoton TV tidak dapat membuat orang meninggal lebih dini. Mereka hanya menemukan bawah ada kaitanya menoton TV dalam waktu lama dengan pendeknya umur tidak berkurangnya umur.

Meskipun kaitan antara menonton TV dan pendeknya umur masih menjadi perdebatan, namun dampak buruk dari menoton TV juga bisa langsung kita rasakan kata Dr. David L. Katz, direktur dari Prevention Research Center di Yale University School of Medicine. “Semakin lama kita menonton TV, maka semakin lama juga kita tanpa sadar makan cemilan di depan TV dan semakin singkat juga waktu kita untuk bergerak aktif.”

Quote:Dengan semakin seringnya tubuh mengkonsumsi makanan tanpa gerakan fisik, maka akan memperbesar resiko terkena obesitas dan penyakit berbahaya lainnya seperti penyakit jantung, diabetes dan kanker.
Pada dasarnya resiko yang sama atau lebih buruk juga mengancap anak anak remaja/muda jaman sekarang yang suka bermalas-malas sambil main game atau nonton drama korea, cewek mana coba yang tidak nonton drama korea bakan bisa jadi kebanyakan anak jaman sekarang lebih hapal biodata Song Joong Ki lengkap dibanding biodata R.A. Kartini.

Penjelasan lainnya Dari dokter Katz tentang kaitan antara menonton TV dan pendeknya umur adalah; orang yang menoton TV dalam waktu lama mungkin sedang merasa depresi, sendiri dan terisolasi, nah kondisi tersebut sangat dimungkinkan dapat membuat seseorang meninggal.

Sebuah penelitian yang dipublikasikan oleh British Journal of Sports Medicine meneliti 11.000 orang dari Australian Diabetes, Obesity and Lifestyle Study yang berumur di atas 25 tahun, dengan menyurvey seberapa lama mereka menonton TV dalam seminggu. Peneliti juga menggunakan data nasional kematian dalam studi ini.

Di 2008 orang dewas di Australia menghabiskan waktu 9.8 miliyar jam untuk menonton TV. Serta orang dengan rata-rata menonton TV enam jam sehari berada di peringkat teratas. “Dari data statistik tersebut menunjukan bahwa mennonton TV terlalu lama juga sama bahayanya dengan merokok, karena membuat kita tidak punya waktu untuk berolahraga dan menurunkan peluang hidup” terang para peneliti.

Quote:Sebagai contoh, merokok dapat mengurangi masa hidup kita setelah umur 50 tahun selama 11 menit tiap batangnya, ini sama dengan terlalu lama menonton TV yang akan memotong masa hidup kita selama 22 menit tiap satu jam kita menonton TV.
Hal yang lebih parah lagi pada kebiasaan begadang dan menonton TV, ini hal yang sering dialami oleh pengemar pertandingan sepakbola. Orang-orang yang hobi mengikuti perkembangan sepak bola bisa lebih tau deretan penghargaan Crisitano Ronaldo dari pada prestasi atlet nasional.

Dengan tidak menonton TV, para peneliti memperkirakan peluang hidup seseorang akan bertambah, untuk laki-laki 1,8 tahun dan perempuan 1,5 tahun. Peneliti menyatakan bahwa, karena studi ini mengambil data dari Australia, maka studi ini bisa digunakan juga hasilnya untuk negara indsutri dan negara berkembang lainnya. Dari data ini bisa dilihat seberapa lama orang menonton TV serta kesamaan pola penyakitnya.

Dr. Gregg Fonarow, kepala bagian kardiologi di David Geffen School of Medicine, University of California, Los Angeles menyatakan bahwa adanya perbedaan antara waktu yang dihabiskan untuk tidak bergerak, seperti menonton TV dengan waktu yang dihabiskan untuk berolahraga dan dampaknya terhadap kesehatan.

Meskipun Anda telah berolahraga secara rutin, namun ini masih tidak cukup untuk mengurangi resiko terkena penyakit, jika Anda masih bersantai sepanjang hari dan tidak melakukan olahraga ringan ketika di rumah.

“Tetap bergerak aktif dan mengurangi waktu yang terbuang hanya untuk santai-santai akan sangat berguna menurunkan resiko penyakit kardiovaskular dan bisa juga menjadi pendekatan yang baik untuk meningkatkan kesehatan kardiovaskular tubuh kita” tambah Fonarow.

Dr. Robert J. Myerburg, profesor kesehatan di University of Miami Miller School of Medicine, Menambahkan gaya hidup yang minim gerak dapat menurunkan peluang hidup seseorang.

Myeburg menyatakan bahwa ia tidak menemukan manfaat dari ‘hanya duduk –duduk’ menonton TV dapat memberikan dampak yang baik bagi kesehatan. “Gerak aktif-tubuh lah yang dapat melindungi kita dari penyakit” tambahnya.

  • view 197