Semakin Banyak Berolahraga Makin Baik Kualitas Tidur Kita

Fahar Aha
Karya Fahar Aha Kategori Kesehatan
dipublikasikan 25 November 2017
Semakin Banyak Berolahraga Makin Baik Kualitas Tidur Kita

Sebuah penelitian baru menunjukkan bahwa aktivitas fisik secara teratur dapat mendorong tidur yang lebih baik. Orang-orang yang memenuhi standar berolahraga dilaporkan dapat tidur lebih nyenyak dan tidak merasa lelah saat siang hari dibanding yang tidak berolahraga.

Namun penelitian ini tidak memastikan bahwa olahraga secara langsung mempengaruhi perbaikan tidur, mungkin saja ada penjelasan lain untuk hubungan antara olahraga dan tidur. Tetapi, temuan ini sebagian besar sesuai dengan penelitian sebelumnya, kata Matthew P. Buman, asisten profesor olahraga dan kesehatan di Arizona State University yang sudah tidak asing dengan penelitian seperti ini.

Tapi jika kamu berpikir berjalan-jalan atau jogging  setiap hari akan mengatasi masalah tidurmu, mungkin ada benarnya.  Secara umum, hubungan antara aktivitas fisik dan tidur itu sedang. Dan jika anda buka berpergian ada baiknya untuk menyiapkan asuransi perjalanan agar keamanan & kesehatan sama-sama terjaga.

Lebih dari sepertiga orang dewasa Amerika mengalami masalah tidur di malam hari dan mengantuk di siang hari. Menurut informasi dari latar belakang penelitian ini, tidur yang tidak memadai dapat dikaitkan dengan depresi, penyakit kardiovaskular dan masalah kesehatan lainnya.

Penelitian baru yang dipimpin oleh para peneliti di Oregon State University, mengamati statistik dari survei kesehatan Amerika yang dilakukan pada tahun 2005 sampai 2006. Peneliti memfokuskan pada lebih dari 2.600 pria dan wanita berusia 18 sampai 85 tahun dan mengukur tingkat aktivitas dan juga jawaban pertanyaan tentang tidur mereka.

Semua juga memakai accelerometers, perangkat yang mengukur aktivitas fisik, selama seminggu. Para peneliti menyesuaikan statistik mereka sehingga hasilnya tidak akan jauh dari pengaruh usia, tinggi, berat badan, kondisi kesehatan, riwayat merokok atau faktor lain seperti aktivatas pikniek atau tingkat kebahagiaan.

Para peneliti kemudian menentukan berapa banyak peserta yang memenuhi atau melampaui standar olahraga nasional dengan berolahraga minimal 150 menit seminggu atau berolahraga 75 menit seminggu atau keduanya.

Mereka yang memenuhi pedoman olahraga sebesar 65 persen lebih kecil kemungkinannya merasa mengantuk di siang hari dibandingkan mereka yang kurang berolahraga. Mereka yang melakukan 68 persen, lebih kecil kemungkinannya mengalami kram kaki dan yang 45 persen lebih kecil kemungkinannya mengalami kesulitan berkonsentrasi saat lelah.

Penelitian tersebut dimuat dalam jurnal Mental Health and Physical Activity edisi bulan Desember. Buman menyebut temuan itu menarik, meski tidak membuktikan bahwa olahraga akan meningkatkan kualitas tidur.

Jika demikian, penyebabnya tidak jelas. Beberapa peneliti berpikir aktivitas fisik meningkatkan tidur dengan membantu mengurangi tingkat stres, kecemasan dan depresi, katanya. "Yang lain menyarankan hipotesis konservasi energi, intinya mengatakan bahwa ketika kamu membakar lebih banyak kalori melalui olahraga, tubuh akan lebih efisien menggunakan saat tidur untuk memulihkan kondisi tubuh.

Sedang peneliti yang lain mengatakan, bahwa olahraga dapat mengurangi berat badan secara sederhana, yang dapat membantu orang untuk tidur dengan lebih baik." Hal yang sama jika kita lelas mengerjakan tugas atau belajar identitas trigonometri hal ini tentu membuat tidur lebih nyenyak.

Teori lain menunjukkan bahwa olahraga membantu tubuh mengatasi suhu dengan mendinginkan suhu tubuh saat tidur serta membuat tidur lebih baik, tambah Buman.

Jadi, adabaiknya kamu menghindari olahraga sebelum tidur, seperti yang disarankan oleh khalayak. Namun, penelitian baru pun tidak melihat waktu berolahraga sebagai faktor. Peneliti mencatat bahwa kebanyakan penelitian sebelumnya juga tidak menunjukkan bahwa latihan larut malam mengganggu kualitas tidur.

Peneliti, Brad Cardinal, seorang profesor ilmu olahraga di Oregon, mengatakan bahwa penelitian ini tidak biasa karena tidak meneliti secara langsung. Penelitian ini hanya menayakan pertanyaan pada orang-orang yang dijadikan sampel. Ingatan orang yang menjadi sampel tersebut bisa juga salah saat menjawab pertanyaan peneliti.

  • view 93