Harapan Sebuah Benang - Preambule

Fajar Nurhaditia Putra
Karya Fajar Nurhaditia Putra Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 Juli 2016
Harapan Sebuah Benang - Preambule

Sungguh bejat kelakuan Raka kemaren sore. Sepatuku yang kujaga dan kusayangi selalu kini telah menjadi sebuah sepatu yang bau, busuk hingga sudah tak sudi aku mau memakainya. Kini aku pun hanya bisa lesu. Sepatuku tak kunjung bisa hilang bau busuknya setelah kemaren jatuh ke dalam selokan depan sekolah. Ya dasar Raka keparat.
Hidupku sungguh tak mujur sekali. Hidup di daerah pedesaan yang terpencil membuatku tak tahan untuk segera lepas dari genggaman budaya yang terlalu absurd. Burung - burung yang terbang pun seolah - olah mengejek keadaanku sekarang. Sungguh malang, sungguh sialnya nasibku. Raka bajingan itu hanya bisa meminta maaf atas kelakuannya itu, namun sayang sepatuku sudah tak bisa tertolong lagi.

Disaat - saat seperti ini aku selalu ingat akan ayahku yang selalu mengingatkanku, bahkan hampir setiap hari aku mendengar nasehat monotonnya yang keluar dari mulutnya.
“ Sebagai bagian dari keluarga Sastra kamu itu harus kuat, jangan mudah menyerah. Kalau belum hidup setengah abad janganlah menyesali dahulu hidup ini.”
Agaknya meskipun hati ini sudah risih mendengarkan nasehat ini, ada benarnya juga. Suara Ayah masih terngiang - ngiang jelas di dalam pikiranku. Nasehat ini tak bisa lepas saja dari pikiranku meskipun ayahku sedang tidak berada di sampingku.

Lain halnya dengan ibuku, seorang ibu yang dengan polosnya tidak memiliki ambisi didalam hidupnya. Kesengannya semata adalah melihat anak - anaknya hidup dalam kebahagiaan seperti yang dialami oleh kakak perempuanku, Kinasih yang sekarang hidup dengan suaminya yang telah meminangnya. Namun sudah 3 tahun ini dia tidak berkunjung ke rumah kami di kampung. Paling - paling hanya melalui telepon atau hanya sekedar SMS. Meskipun begitu Ibuku tetap menyayangi dia selayaknya seorang anak kandung.
Ibuku bernama Retna, namun lebih suka dipanggil dengan nama panggilan “ibu ben” marena kepiawaiannya menjahit di kampung kami. Agak absurd juga namun ibu tidak mempermasalahkan hal tersebut malahan menjadikannya sebagi motivasi. Ibuku adalah orang yang baik, tapi sayang dia tidak terlalu terbuka dengan budaya baru apalagi budaya - budaya yang terlalu absurd seperti yang terlihat di Televisi sekarang.

Cuaca hari ini tidak bersahabat, sepatuku yang belum kering terpaksa aku bawa ke dalam rumahku untuk aku kipas - kipas supaya cepat kering.

“dasar cuaca sialan” gerutuku.

“Hush, jangan menyalahkan cuaca lah nak ! ga baik ! salah siapa kemaren pake acara surprise ultah segala” sela ibuku.

“tapi buuu….semua orang melakukan itu di jaman sekarang. Apalagi anak - anak baru gede macam aku ini !” balas diriku.

“Dasar kau nak ! telur dan tepung itu mendingan buat makan saja go, ngapain dilempar - lempar ke orang lain. Kasian nak! mubadzir pula !”

Sudah kubilang kan, dia tak terlalu suka dan tertutup dengan budaya yang kebarat - baratan.

“Aduh terserah ibu saja deh, yang penting sepatuku harus kering malam ini supaya bisa buat sekolah besok, kalo nggak aku ga bakalan sekolah" 

"Loh bukannya masih ada sepatu yang satunya ya ? ” ucap ibuku dengan nada kaget.

“Anu bu , udah jelek jadi males pake”

“Dasar alasan, mana ibu lihat sepatunya !”

“Anu bu, nanti aj adeh bu hehe”

“Hayo , cepetan ibu lihat.. Tak mungkin lah sejelak itu wong belinya baru satu tahun yang lalu. ”

Ibu pun terus bertanya tentang keberadaan sepatuku yang satunya hingga akhirnya aku menyerah. Kuambil sepatu tersebut dari kamar dan mengaku kepadanya.

“Ini bu, tapi bagian atasnya sobek hehe” dengan nada bersalah

“Ya sudah nanti ibu jahit biar bisa dipakai. Kalau ada masalah bilang - bilang dong biar Ibu tahu”

Bukannya aku tak peduli dengan sepatuku yang satu, tapi aku tak mau merepotkan ibuku. Membuat ibuku sampai menjahit pakaian kami yang rusak bukan masalah yang sangat mudah bagiku karena hal tersebut sudah aku wanti - wanti untuk tidak terjadi.Pokoknya jangan sampai bisa terjadi.

Meskipun begitu kepiawaian ibuku bermain dengan benang telah membuatku tersenyum lega. Ucapan terima kasih dari mulutku pantas kuucapkan kepadanya.

Sebenarnya dahulu aku tidak seperti ini, semenjak kakak perempuanku meninggalkan kami dan tak pernah memberikan kami sisa penghasilannya untuk kami di kampung dan kabar dari ayah yang tak kunjung kami terima darinya, telah membuat ibuku secara tidak langsung menjadi tulang punggung keluarga untuk dirinya dan diriku. Kebahagiaan yang dulu kini telah sirna dihapus oleh gelombang kesedihan yang terus manyapu keadaan keluarga kami.

Dari benang ibulah, kini aku masih tetap bisa makan,
dan dari benang ibulah masih bisa kujalani hidup ini
dan aku berjanji untuk membalas jasanya yang sangat besar terhadapku

—Cerita Sebuah Benang—

  • view 185