Dunia Pendidikan Harus Berubah

Farid mps
Karya Farid mps Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Mei 2016
Dunia Pendidikan Harus Berubah

Pendidikan adalah kepentingan kita semua, menjadi terdidik dan pendidik secara berkualitas. Untuk mendidik saja mungkin semua orang bisa melakukannya. Namun mendapatkan itu secara berkualitas, belum tentu. Kalau memang pendidikan direncanakan menjadi tujuan kehidupan, tentu kehidupan kita jauh dari korupsi, kejahatan dan penderitaan. Karena proses pendidikan adalah usaha sadar setiap insan untuk tahu dan berubah ke arah yang lebih baik. Namun kenyataannya kehidupan manusia dipenuhi ketidak adilan, kejahatan, korupsi, peperangan dan penindasan antar manusia dan alam yang menjadi tempat hidupnya

Ditahun 80’an kita masih merasakan pusaran orang terdidik adalah dengan dekat dengan seorang Pendidik. Bayangkan saja disaat itu sampai persoalan mencari pasangan ditentukan seorang guru. Namun di era sekarang guru tidak begitu sakral lagi, karena perannya sudah tergantikan oleh sarana lainnya. Setidaknya ada dua unsur yang menyebabkan peran guru sebagai fungsi sosial terhormat di masyarakat ter degradasi. Dari unsur teknologi peran peran guru dikelas sudah banyak tergantikan dengan berbagai instrument kemajuan teknologi. Belajar tidak lagi harus didepan guru. Dengan hanya menjelajah dunia maya murid sudah menemukan jawabannya. Data KPAI 2015, anak korban pornografi dan kejahatan online telah menembus angka 1.022.  Dari unsur sosial peran guru sebagai tempat bertanya dan dihormati mulai ditinggalkan. Bahkan peran sacral guru di jaman ini merubah menjadi actor kekerasan. Data International for Reasearch on Women menyatakan 84% Anak mengalami kekerasan di sekolah.

Ancaman terbesar pendidikan diabad ini justru dihasilkan dari pendidikan itu sendiri. Secara sadar manusia dengan sarana pendidikan mulai berorientasi jauh dari tujuan utama. Berbagai produk pengganti pendidikan muncul memerangi orang yang ingin terdidik. yaitu anak anak kita. Secara tidak sadar persentase keingintahuan dan belajar didapatkan anak anak melalui sarana internet, yang pemilik dan penguasanya laksana hukum rimba. Siapa yang kuat dan memiliki follower terbanyak adalah pemiliknya. Namun cara cara untuk membesarkannya jauh dari imtervensi tujuan pendidikan.

Akhirnya kegagapan dunia pendidikan menghadapi dunia teknologi dan informasi lebih diarahkan kepada kekuasaan bukan tujuan dari Pendidikan. Mereka berlomba lomba menguasai dunia, tanpa memperhatikan tujuan  pendidikan membuat teknologi itu. Kesesatan dunia pendidikan dialam teknologi dan informasi justru hadir semakin kuat menghancurkan peradaban manusia itu sendiri dengan eksploitasi semua sumber kehidupan baik alam, sumber daya langit dan bumi, serta manusia. Yang dulunya diminta sebagai penjaga bumi dan alam semesta.

Apakah kemudian manusia siap menghadapi ciptaannya sendiri yang sudah laksana alien menghabisi bumi. Sudah saatnya kita kembali ke alam murni dalam memperjuangkan nilai nilai luhur pendidikan, dimana ketika listrik mulai diciptakan Thomas Alva Edison untuk menerangi bumi dan pencipta telepon Graham Bell ketika ingin semua manusia terkoneksi.

Mungkin bukan saatnya mempermasalahkan segala hal yang tercipta dari dunia pendidikan. Namun bisakah setiap karya mengusung sisi moral yaitu manfaat untuk peradaban kemanusiaan. Hal ini perlu didengungkan dengan kuat untuk para calon terdidik di dunia ini. Dunia Pendidikan mengalami kejumudan, dengan besarnya gap antara peluang kerja dengan besarnya lulusan mahasiswa tiap tahunnya. Hal ini dikarenakan aplikasi dari pendidikan masih dilakukan didalam gedung, padahal harusnya pendidikan itu hadir di tengah masyarakat yang membutuhkan. Hal ini lah yang menjadi tantangan para pendidik untuk menghadirkan pendidikan kepada yang membutuhkan

Sudah terlalu lelah kita melihat dunia pendidikan hadir di gedung, seminar, workshop. Yang terkesan dua kali menyampaikan, padahal yang butuh dilapangan. Sudah saatnya cara mendidik berubah, sesuai kebutuhan alam, lingkungan dan zamannya, bukan dikurung oleh berbagai program didalam intelektualitas yang terbang ke langit dan tidak menuju kebumi. Pendidikan sudah dikurung dengan paket paket ‘jualan’ pendidikan terbaik dan berkualitas. Namun sayangnya itu dibahas didalam gedung gedung megah, jauh dari kerusakan lingkungan, jauh dari kerusakan sosial di sebelah sekolahnya. Yang akhirnya pendidikan hanya hadir di mereka, tidak hadir membumi di sekitar sekolah. Ketika kemiskinan ternganga dan banyak orang membutuhkan, justru orang orang terdidik tidak dapat memenuhi kebutuhan masyarakat dan menghadirkan hasil dari pendidikannya. Saatnya dunia pendidikan secara dini mengenalkan peserta didiknya dunia dan kebutuhan lingkungan dan masyarakat. Bukan hasil pendidikan semakin menjauhi realitas kehidupan. Ubah kebiasaan mendidik, langsung bersentuhan, dan membuat agenda bersama perubahan.

  • view 142