Untuk Anna

Fadly Poetra
Karya Fadly Poetra Kategori Buku
dipublikasikan 12 September 2016
Untuk Anna

BAG. 1

Untuk kamu tahu

 

Anna,
Hari kelulusan sekolah dasar 6 tahun lalu, adalah hari yang sangat mematahkan dalam perjalanan hidupku dimana itu adalah hari terahir kita bertemu sebelum akhirnya kita berpisah cukup lama,jarak yang jauh ,komunikasi yang masih terbatas kala itu ,menjadikanku seolah melupakan semua kenangan dan cerita indah tentang masa kecil dulu ,dimana diam-diam aku selalu ingin menjadi lebih pintar dari kamu di hadapan guru-guru dan teman-teman kita, aku senang saat kita berebut soal yang guru kita berikan,aku senang saat kita ditunjuk sebagai perwakilan untuk sekolah kita dalam perlombaan ,aku senang mereka selalu memasangkanku denganmu dalam lomba cerdas cermat se kabupaten tersebut.


Bahkan ada hal yang sangat aku banggakan kala itu ,di pertengahan jam pelajaran matematika,saat kita masih menduduki bangku kelas 5. Dimana pak Sucipto memberikan soal matematika yang cukup sulit bagi murid di kelasnya kala itu, ia menyuruh Ade untuk menuliskan soalnya di papan tulis. Papan hitam yang sudah tak benar-benar hitam ,dipenuhi sisa-sisa kapur yang susah untuk dihilangkan .aku masih sangat mengingatnya , hingga lebih dari 20menit setelah Pak Sucipto memberikan tugas pada kita, suasana kelas masih tetap saja hening. Langit-langit kelas serasa begitu tinggi hingga menyisakan ruang kosong yang luas antaranya dengan lantai yang berkeramik hitam,memberikan kesan kolosal pada ruangan sekaligus memberikan hawa lembab yang menyejukan.

An, waktu itu diantara kita semua masih belum ada juga yang bisa menjawab soal itu dengan benar ,hingga pak Sucipto mengiming-imingi hadiah satu pack buku tulis bagi mereka yang bisa menjawab . Hingga akhirnya,
"Pak !!.." seraya mengangkat tangan kamu berteriak, memecahkan keheningan kelas, sehingga Pak Sucipto menganggukan kepalanya dan mempersilahkanmu untuk mengerjakan soal tersebut.

"ahhh .. kamu lagi !!" Umpatku dalam hati ,merasa didului aku sempat berhenti mengerjakanya di buku tugasku, aku menatap kosong pada mejaku,meja yang entah berapa generasi membawa anak yang mendudukinya berjuang melawan tugas-tugas guru,meja yang sudah dipenuhi coretan-coretan jail tangan lentik yang bingung harus menulis apa ,bahkan ada yang bertulisan,"joko,anake bapak luyo" . Tulisan yang digoreskan dengan pensil berulang-ulang kali rasanya ,senyum geli begitu saja keluar dari bibirku ditengah kegundahanku setelah membacanya,

merasa telah usai perjuanganku untuk mengalahkanmu dan aku hanya bisa menyesali kelemahanku .
Sembari melihatmu mengerjakan soal2 tersebut aku memperhatikan lengan indahmu dan jemari lentikmu aku mencoba menyamakan dengan hasil perhitunganku yang ternyata jawaban pada papan tulis yang sedang kamu buat, berbeda dengan hasil perhitunganku,aku sangat mengingat hasil akhir pada jawabanmu adalah 256. sedangkan jawabanku 236 membuatku harus menguras otak dua kali lipat untuk kembali mencari jawabanya ,tapi lagi-lagi hasilnya berbeda dengan kepunyaanmu.aku menggaruk-garuk kepala yang tidak gatal, sungguh aku hanya pasrah ,yakin dengan jawabanmu yang selalu benar,seakan dewi fortuna membocorkan jawabanya di telinga kecilmu ,seraya memutarkan tongkat sihirnya agar semua siswa menjadi seolah-olah kebingungan.

Dan hilanglah sudah harapanku untuk menyaingimu sekaligus mendapatkan 1pack buku tulis hadiah dari pak Sucipto. Aku benar2 pasrah ,hanya terdiam dan menyaksikan dirimu berdiri menunggu keputusan dari pak Sucipto,disitulah aku melihat mahluk kecil cantik yang lugu dengan baju yang selalu rapi, bajumu tak pernah kusut,selalu rapi kamu memasukanya kedalam rok mu ,rambutmu yang menjadi keemasan tersorot sinar matahari yang masuk melalui kaca jendela yang merambat menuju rambutmu yang mulai kering tidak seperti jam pertama pelajaran, matahari seperti berada di ujung rambutmu.

Ternyata jawabanmu salah An. Setidaknya itu kata Pak Sucipto setelah meneliti hasil jawabanmu. Deg,hatiku mulai tergugah lagi . Aku kembali bersemangat untuk mengajukan hasil perhitunganku ini, nadiku berdetak cepat,hangatnya darah begitu terasa mengalir di daerah dadaku. Tak tunggu lama aku langsung maju tanpa mengangkat tangan sepertimu , aku langsung menghampiri Pak Sucipto ,

"saya mau coba Pak !" Kataku bersemangat sekali ,sambil memegang erat buku tugasku .

"Ya sudah,silahkan.." Pak sucipto memberikan kode kepadaku untuk segera mengisi jawabanya di papan tulis .

Sambil berjalan menuju papan tulis, pojok kiri pada mata kiriku menangkap ke arahmu,entah kenapa terlihat begitu jelas walau aku tak memandangimu ,mataku menangkap gerakan tanganmu yang sedang membolak-balikan halaman pada buku tempatmu mengerjakan tugas itu, kamu sedang memeriksa kembali sekaligus mungkin penasaran dengan garapanmu sendiri,seolah belum percaya begitu saja kamu masih meneliti tiap-tiap langkah dalam rumus aritmatikamu itu hingga kamu mendapati tempat dudukmu .

Dengan cepat aku menyalin jawaban di papan tulis itu dari buku tugas yang sedari tadi sudah rampung aku kerjakan .

"Inilah hasilku An " agak sombong aku mengumpatmu dalam hati .

"Selesai Pak !" Sembari menghantarkan kapur tulis ke meja Pak Sucipto aku mengatakan padanya.

Lalu aku kembali menghampiri tempat duduk ku ,sambil berjalan aku tersenyum bangga ,jalanku seolah menjadi tegap , aku merasakan kalian memperhatikanku dengan bangga. Pak Sucipto mulai menerangkan pada kita semua langkah-langkah jawaban yang baru selesai ku tulis , bermaksud ingin pamer aku memanggil mu ,

" An ,begitu tuh .hehehe" . Aku ingat jelas raut wajahmu,raut wajah yang masih menempel menjadi satu pada penyesalanku karna telah mengatakan itu. Raut wajah yang dengan ketus tersenyum membalas perkataanku, kemudian kamu menunduk, mungkin kamu malu atau merasa bodoh telah menjawabnya dengan salah . Mengingat raut wajahmu tadi aku begitu menyesal telah memamerkan dan menyombongkan hasil jawabanku, 

"Kenapa aku begitu sombong ! Ingin sekali terlihat pintar dimatanya ,tapi malah menyakiti perasaanya ! "

Selesai pula penjelasan Pak Sucipto itu, "masih ada yang belum jelas? Sudah jelas semua kan ? " begitu kata-kata yang aku ingat di ahir  penjelasannya.

***

(Ting..ting..ting..ting..) terdengar suara besi yang dipukul dengan pemukul berbahan besi pula. Itu adalah bel tanda istirahat di sekolah kita ,bel yang sangat sederhana ,bel yang dibuat dari besi pipih tua ,yang menjadi coklat tertutupi oleh karat di permukaanya. Merupakan suara faforit kita di akhir pelajaran, suara yang selalu kita tunggu-tunggu untuk segera beristirahat ,membeli makanan atau apapun yang kita cita-citakan sebelum masuk jam sekolah . Aku selalu membeli bakwan,ketupat plastik ,dan es teh manis di warung depan sekolah kita dulu. Tapi maaf aku tidak tahu kebiasaanmu ketika jam istirahat .Aku tidak begitu tahu kamu istirahat dimana, aku selalu bergabung bersama anak-anak yang lain . Aku agak menyesal tidak mengetahui makanan faforitmu di jam istirahat ,tempat faforitmu memakan jajanmu ,dan permainan apa yang kamu mainkan setelahnya.

Aku dipanggil Pak Sucipto ke ruang guru setelah membeli makanan kebiasaanku, An ,kamu tahu ? Dia memberiku uang kertas berwarna coklat kemerah-merahan  bernominal 100 ribu rupiah . Ia menyuruhku untuk membeli satu pack buku SIDU .Aku gemetar memegangnya, bagaimana tidak, seorang anak SD yang sehari-hari hanya membawa uang 300 rupiah di saku kecil celana merahnya untuk bekal jajan di sekolah, kini harus membawa uang milik guru kita ,aku takut menghilangkanya An atau menjatuhkanya ketika ingin ku belikan di sebuah warung . Aku tahu aku teledor ,itu kenapa aku sangat ketakutan dan gemetar memegangnya . Tapi An, aku bahagia menerimanya ,karena ini adalah hasil kemenanganku melawan kepintaran otakmu . Aku tidak peduli waktu itu, bahwa aku tidak berhati mulia untuk tidak usah menerima uang hadiah itu, aku sudah terlalu larut dalam pertandingan kita, pertandingan yang sebenarnya aku sendiri yang mengadakanya .

Tapi aku menyesal An, karena akulah yang menjadi pemenangnya ,menang dengan hati yang sombong ,yang hanya bertujuan mengalahkanmu. Tapi ketahuilah An, itu semua aku lakukan karena aku ingin menjadi pintar dimatamu ,agar kamu mau berteman denganku ,agar kamu selalu bertanya kepadaku tentang soal-soal yang kamu tidak bisa menjawabnya, dan agar kita bisa punya waktu bersama. Merangkai cerita-cerita indah kita , membuat memori tentang diskusi dan canda tawa kita . Itu yang aku inginkan An ,untuk kamu ketahui hanya seperti itu sebenarnya . 

Maafkan aku An, 

***

Waktu itu adalah hari senin , saat semua murid kelas 6 kembali datang ke sekolahan setelah liburan panjang, untuk melihat hasil kelulusan pada ujian akhir kita semua .

"Mau lanjutin kemana kamu Put ?"  Tiba-tiba suara lembutmu memecahkan kegelisahan hatiku .

Ingin sekali aku memegang lembut lenganmu dan memandangi lama wajahmu yang begitu manis, dan lugu .

"Masih belum tau An, mungkin di SMP N 1 TAMBAK"

Ketika itu aku sadar kita akan berpisan An, aku tak lagi bisa berdebat denganmu, beradu kepintaran, tak lagi berebut siapa yang berhasil menjawab tugas-tugas dengan cepat, tak lagi bisa melihat wajahmu yang begitu manis dan manja,tak lagi bisa usil kepadamu agar aku mendapat perhatian darimu dan pastinya kita tidak akan pernah mengikuti lomba cerdas cermat bersama lagi. Ketika itu aku ingin menangis ,hatiku sungguh bersidih .

"Ohh gitu, yaudah aku pulang duluan ya Put !" Kamu berpamitan ,dan bergegas pulang menaiki sepeda mu .

 Kamu terlalu terburu-buru An, kamu tidak tahu bahwa aku ingin sekali mengucapkan sesuatu yang dapat mengingatkanmu kepada ku, aku ingin sekali mengatakanmu bahwa aku akan pindah ke Bogor , kota yang jauh ,yang aku yakin kamu belum pernah kunjungi, kota yang akan memisahkan aku dan kamu entah sampai berapa lama .

Kamu terlalu acuh untuk mendengar salam terahirku An , Bahkan aku belum sempat menanyakan kemana kamu akan melanjutkan sekolahmu setelah ini ,aku sungguh tidak tahu dan sungguh ingin tahu . Aku kesal perpisahan kita tidak begitu indah. Tanpa kata perpisahan, tanpa saling berpesan untuk tidak saling melupakan. 

Aku memandangimu mulai menjauh dari pandanganku ,dan hilang termakan tikungan di sudut jalan sana .

Setelah itu aku pulang berjalan kaki sendirian, sesekali menengok ke belakang berharap kamu kembali atau setidaknya masih bisa kulihat ,bersedih karena akan meninggalkan kamu ,dan teman-teman kita semua .

Aku pulang dan mencoba melupakan kesedihanku dengan menyampaikan kabar gembira kepada keluargaku tentang kelulusanku. Mereka menyambut senang tapi terlihat santai, seakan mereka sudah mengetahui bahwa aku akan lulus .

***

"Sayang kamu masih belum selesai nulisnya ya ? " suara lembut itu adalah milik Rere yang tiba-tiba membawaku kembali dari ingatan-ingatan masa kecil kita , seakan mengeluarkanku dari mesin waktu dan membuatku harus myelesaikan tulisan-tulisan ini untuk sementara .

"Kita pulang sekarang yuk !" ,lanjutnya. Mengajakku untuk pulang bersamanya .

Ya Rere, begitu aku memanggilnya An,

Perempuan yang akhirnya aku pilih untuk menjadi kekasihku kini, dia mempunyai kesamaan denganmu . Sama-sama berprestasi di sekolah .

 ***

  • view 165