Menaklukan Ego (Cerita Gunung Cikuray)

Fadlan Ramadlan
Karya Fadlan Ramadlan Kategori Inspiratif
dipublikasikan 27 Januari 2016
Menaklukan Ego (Cerita Gunung Cikuray)

Setelah semua berkumpul kemudian kami berangkat dengan angkutan umum bernomor 06 dengan cat biru-putih, kami duduk manis di bangku penumpang dengan lamunan masing-masing, tenggelam pada pikiran masing-masing. Aku berpikir hari ini adalah hari yang sebenarnya, resmi hari ini aku pertama kali mendaki gunung, perasaan campur-aduk senang, terharu, tak percaya, sekaligus menegangkan?dijadikan satu. Ku pikir temanku merasakan hal yang serupa, maka aku hendak menenangkan diri. Seorang ibu penumpang bertanya lirih, seakan mencairkan suasana, ia menanyakan kemana kita akan pergi, dengan mantap aku menjawab perihal perjalanan kita mendaki Gunung Cikuray untuk mengisi hari libur. Jalanan berkelok-kelok dengan suguhan udara sejuk membikin kita terbawa suasana dan waktu seperti tak terasa. Kami turun dari angkutan umum dan melanjutkan dengan ojek untuk sampai di pos pemancar, dimana pos itulah awal kita mulai mendaki.

Sesampai di Pos Pemancar kami mengisi data buku kunjungan, menyamakan waktu pada jam tangan, kemudian berdoa dan memulai perjalanan. Awal perjalanan kita disuguhi pemandangan khas perkebunan teh yang hijau dengan jalan menanjak curam, setelah itu kami mulai memasuki pintu masuk kawasan hutan dan mulai merapatkan barisan agar tidak terlalu berjarak. Kita sepakat ketika ada yang lelah semua istirahat. Perjalanan ini sunyi seperti hanya seorang grup kami yang mendaki hari ini. Ratusan peluh terus mengalir diatas kulit, ribuan kalor terbakar. Cuaca berubah dengan cepat, kabut mulai menyelimuti pandangan kami, udara menjadi dingin dan semakin mencekam, ditambah tenda yang terjatuh ke pinggiran jurang namun masih tersangkut oleh dahan, untung masih bisa diselamatkan. Kamipun semakin merapatkan barisan, tak lama kemudian rintik hujan berjatuhan perlahan namun pasti?terpaan hujan membikin kami basah kuyup.


Kepanikan mulai datang, semangat untuk sampai puncak mulai hilang, kami terus melanjutkan pendakian dengan gopah-gopoh sampai akhirnya melihat suatu tenda berwana oranye berdiri kokoh dengan flysheet diatasnya sebagai penghalang air hujan. Kami minta izin untuk berteduh dibawah flysheetnya dan mereka mengiyakan. Percakapan kecil mulai terlontar, mereka berasal dari Tangerang dan ingin mendaki sampai puncak, tapi karena hujan mereka memutuskan untuk rehat sejenak dibawah lindungan tenda, mereka menyarankan kita untuk mendirikan tenda terlebih dahulu sampai hujan reda. Kamipun mengikuti sarannya untuk mendirikan tenda tapi sudah terlanjur basah, di dalam tenda basah dan lembab karena sudah terkena hujan, kami memutuskan untuk mengisi perut yang mulai keroncongan di dalam tenda dan terjadi percakapan.

Alm.Rizky membuka pembicaraan perihal pendakian panjang ini harus berakhir disini dan turun lagi, aku diam menolak, karena ego?kesempatan kita sampai ke puncak Cikuray, tinggal sedikit lagi, beberapa ratus langkah lagi, sudah setengah perjalanan. Rifanpun diam?kupikir dia sependapat denganku?perjalanan ini belum berakhir. Ecky mulai menengahi dan menyarankan kita berkemah semalam menunda kepulangan kami, karena hari sudah siang menjelang sore, karena akan sulit sekali jika kita kemalaman di perjalanan akan lebih berbahaya lagi?melihat perlengkapan pencahayaan kita yang minim. Pembicaraan berjalan alot, Eko tak ikut campur, hanya mengeluh dingin. Namun Alm.Rizky mencoba meyakinkan kembali masih ada waktu, beban kita bisa dikurangi, logistik yang membikin berat bisa dibuang terutama air mineral, berada di ketinggian dengan keadaan basah akan membahayakan kita. Ditambah telepon dari Ibunya yang sakit membikin kita empati dan prihatin kemudian keputusan menjadi bulat untuk pulang pada hari yang sama.

Bergegas kami membereskan tenda dan perlengkapan, dan pamit untuk pulang kepada tenda di depan sembari menawarkan air mineral, mereka menolak karena persediaan masih cukup dan tak ada logistik yang perlu ditambah. Dan perjalanan pulang dimulai, siang menjelang sore yang cukup menegangkan. Perjalanan pulang terasa sangat berbeda dengan jalanan yang bercabang dan jurang yang mangawasi kita pulang, sekali salah jalan kita bisa terperosok ke dalamnya. Cahaya matahari kala itu sangat minim menambah suasana gelap dan mencekam. Di tengah perjalanan tiba-tiba Alm.Rizky membuka pembicaraan perihal tenda yang menghambat perjalanan yang menegangkan ini, dan menyarankan untuk dibuang. Aku langsung menjawab dengan tegas menolak karena tenda itu adalah tenda pinjaman dari sekolah tempat ibuku bekerja. Ia kembali berbicara, dengan meyakinkan bahwa tenda yang lusuh itu akan kita ganti dengan uang hasil patungan. Aku kedua kalinya menjawab dan langsung naik pitam, Ini bukan soal uang, tapi ini tentang kepercayaan yang menambat kita. Aku telah berbicara panjang lebar perihal perjalanan kita mendaki Gunung dan dengan sudi sekolah ibuku meminjamkan tenda kepada kita, apakah kita akan menghancurkan kepercayaan itu?, kemudian semua diam setelah mendengarkan jawabanku, Alm.Rizky tak meneruskan ia terus gopah-gopoh berjalan duluan. Akhirnya Ecky menengahi dia bak pahlawan kesiangan dan berkata biar tenda yang lusuh itu dia bawa. Perjalan menjadi tambah dingin dan menegangkan, ratusan langkah ini tak terasa lelah karena desakan waktu. Tak terasa cahaya matahari mulai nampak dan pemancar-pemancar gagah berdiri di pandangan kita?kita mulai keluar dari lebatnya hutan rimba.. ya kami telah keluar dari pelukan hutan gelap nan lebat itu. Kita saling bertemu pandang, aku dengan Alm.Rizky ia tersenyum sebaliknya juga aku ikut tersenyum, dia meminta maaf kepadaku dan akupun sama. Semua tersenyum, kita sudah keluar, kita sampai!

?

  • view 188