Selaksa Cinta

Nurul Fadhilah IA
Karya Nurul Fadhilah IA Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 28 Mei 2016
Selaksa Cinta

Menelisik rekam jejak percakapan kita dulu. Begitu manis saat aku dan kamu berbicara soal aku menjadi bagian hidupmu dan kamu menjadi bagian hidupku.. Ikrar janji kita untuk membawa hubungan ini di hadapan-Nya, nyatanya tak bisa kita wujudkan. Aku yang tak setia? Ataukah kamu yang diambang keraguan? Yang pasti, Allah tak pernah ingkar janji. Mungkin semua ini terjadi akibat lalainya hati yang lebih memilih berdua tanpa ada partisi yang menjadi penghalang bahwa kita tak seharusnya melanggar perintah-Nya.. "Saya yakin denganmu", ungkapmu saat itu. Namun pada hakikatnya, keyakinan itu rapuh tersebab aku memilih menjauh. Apa artinya sebuah hubungan jika tak mendatangkan keberkahan? Kita pun sama-sama takut akan murka-Nya, namun sayang seribu kali sayang, berdua kita terpenjara godaan nafsu yang seringkali menjangkiti dua sejoli yang di mabuk cinta. Kaca yang terlanjur pecah tidak akan bisa kembali utuh. Begitu pun kepercayaan, takkan lagi sama jika salah satu sisi diguncang pengkhianatan! Tak ada yang dapat aku dan kamu lakukan, selain benar-benar menerima, mengikhlaskan punahnya impian yang dulu ingin tuliskan di langit. Pemilik hati nyatanya telah memperingatkan kita akan hubungan yang salah ini, dasar aku dan kamu saja yang hobby membangkang. Maka tak salah, jika pada akhirnya ada hati yang terluka. Dan tidak lain itu adalah hatiku. Retak! Namun kini, segalanya telah usai. Langkah kita tak lagi sama, kita tak dapat beriringan. Kau memilih berjalan dengan yang lain, tidak denganku. Tak mengapa, sebab aku jadi sadar betapa selama ini aku tak memakai ilmuNya dalam mengelola hati dan perasaan. Betapa bodohnya diri ini terkungkung dalam perasaan yang sama. Tenang saja. Aku mengikhlaskan segala hal tentang kita. Telah aku kubur janji kita dulu. Kulipat segala kenangan lalu kumasukkan dalam kotak yang kuncinya telah kulempar jauh ke dalam samudera. Pilihanku adalah mendaur ulang rasa ini agar tak lagi salah menempatkan. Ku ingin Allah berkahi langkahku juga pilihanku. Meski harus berlelah-lelah mendapatkan dia yang setia dengan keindahan akhlaknya, tak mengapa asal bersamanya surga terasa lebih dekat. Akan selalu kuingat kalimat ini, "Jika memilih, pilihlah dengan ilmu-Nya yang meliputi segala. Bukan dengan ilmu kita yang tak menjangkau segala rahasia" Tetaplah bahagia untukmu, Dengannya aku pun ingin bahagia :) Mencintai karena-Nya *Yang telah usang dan berdebu

  • view 133