Kita Yang Terlalu Sering Mendahului Kehendak Tuhan

Fachrul Muhammad
Karya Fachrul Muhammad Kategori Renungan
dipublikasikan 17 Juli 2016
Kita Yang Terlalu Sering Mendahului Kehendak Tuhan

“Sekali lagi aku menghadap pada cermin besar yang terpampang dihadapanku, hanya untuk kembali memastikan bahwa semuanya terlihat sempurna. Jas hitam dipadu dengan celana bahan hitam ini tampak gagah sekali aku pakai, kutarik nafas dalam-dalam meyakinkan diriku bahwa semuanya akan berjalan sesuai rencana. Sesekali kupandangi sebuah bingkai foto yang tertata rapih diatas meja disudut kamar, sepasang kekasih yang dalam beberapa jam kedepan menjadi sepasang teman seumur hidup dibawah janji suci yang akan mereka ucapkan. laki-laki didalam bingkai tersebut sekali lagi menghadap cermin dan kembali mengambil nafas dalam-dalam, ya, lelaki itu adalah aku yang dalam beberapa jam kemudian akan melangsungkan sebuah peristiwa sakral untuk mengikat janji sehidup semati dengan kekasihku yang sudah menemani selama 2 tahun terakhir. inilah hari dimana kami...”

 

"Plak" Bangun bro, masih pagi udah tidur aja, bilang temanku sembari memukul kepalaku pagi itu.

Itulah beberapa gambaran indah yang aku buat ketika bersamanya, setidaknya, itu yang kita rencanakan dengan sangat manis hingga nyaris semuanya sempurna. namun, saat ini rencana itu benar-benar hanya menjadi sebuah cerita tanpa asa.

Aku berfikir keras, sungguh lucu skenario yang tuhan kirimkan dan bagaimana tuhan merayu kita untuk selalu memainkan peran dalam satu-satu bagiannya. ada banyak reaksi yang kita bawakan dalam setiap bagiannya, terkadang tertawa terpingkal-pingkal, tersenyum tenang, sedih, bahkan terkadang air mata jatuh dalam beberapa bagian ceritanya. bukankah semuanya adalah skenario tuhan yang sedang kita mainkan? kenapa lantas kita menjadi begitu khawatir disetiap bagian yang kita mainkan? Ah, ternyata kita yang terlalu sering membuat sebuah cerita dalam skenario besar yang telah tuhan tuliskan untuk kita dimana kita telah mengetahuinya bersama. namun, nampaknya, kita terlalu naif untuk mengakuinya.

 

Sebagai satu-satunya mahluk tuhan yang diberi akal sehat, manusia kadang merasa terlalu pintar dari penciptanya hingga dengan sendirinya membuat rencananya sendiri tanpa mempertimbangkan konsep nyata yang telah tuhan gariskan. bermain dengan imajinasi, lantas membuat sebuah ekspektasi yang belum tentu tuhan sepakati.

 

Sayang, nampaknya kita terlalu sering mendahului kehendak tuhan, maka mulai saat ini, kita tidak perlu terburu-buru memainkan peran yang tuhan gariskan, bermain tebak-tebakan tentang akhir cerita yang kita jalani atau bahkan membuat cerita kita sendiri. Layaknya kita belajar untuk menyelaraskan hati, dan akal, dengan kehendak tuhan. mulailah berdo'a untuk tidak selalu menuntut, tapi perbanyaklah permintaan untuk sebuah keihkhlasan yang seringkali kita abaikan.

“Ya Allah Berikanlah Aku Keihklasan Untuk Tidak Mempercepat Apa Yang Kau Tunda Dan Tidak Menunda Apa Yang Kau Percepat”

 

Jakarta, 17 Juli 2016

 

  • view 312