Apakah Dia Cemburu?

Exma Mu'tatal Hikmah
Karya Exma Mu'tatal Hikmah Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 14 Agustus 2017
Apakah Dia Cemburu?

"Prinsip dari pembimbingan adalah pertemuan, mbak. Segala kebingungan yang anda rasakan tidak untuk disimpan dan menyiksa diri sendiri. Datanglah kemari, kita selesaikan bersama-sama."

Prof. Dr. Paulus Liben, dr., M.S.

Hari ini saya melewati Senin yang cukup nano-nano. Kronologinya, saya yang sedang tahap awal menulis Tesis dan belum terbiasa dengan ritme belajar di FK, saya cukup sering menghempaskan diri di lautan jurnal, meresapi sesak dengan segala teori yang begitu rumit. Hal ini membuat saya enggan sekedar berkonsultasi dengan pembimbing. Alasannya sederhana, saya malu menemui beliau tanpa progress. Akhirnya, segala keruwetan itu saya telan mentah-mentah, setengah terpaksa.

Sampai pada Jum'at lalu, salah satu dosen ketua minat menginformasikan kalau pembimbing saya mengeluh saya tidak pernah muncul. Deg. Saya kaget. Akhirnya saya putuskan tulisan saya yang masih ala-ala diselesaikan weekend ini dan Senin saya harus menghadap beliau.

Menit pertama,
"Anda hanya sekali menghadap saya kan? Itupun hanya mengantar surat?"
"Iya, Prof." Saya sudah siap mental untuk dimarahi, meski saya tahu beliau dikenal sebagai pribadi yang tidak akan pernah marah-marah. Saya lanjutkan kalimat dengan banyak pengulangan kata maaf, saya jujur, "Saya bingung, Prof."

Menit selanjutnya dilanjutkan dengan diskusi. Nada beliau masih kesal tetapi cukup puas saya bisa menjawab beberapa teori. Setidaknya menandakan saya tidak benar-benar lenyap 2 bulan ini.

Pembimbing saya ini cukup senior, usianya sekitar hampir 80 an, bahkan sudah purna secara administratif, tapi semangat mengajarnya luar biasa. Terkenal sebagai pribadi yang menyenangkan, cara mengajarnya luar biasa, segala jenis mekanisme rumit dapat digambarkannya agar kita mudah memahami, mengingat dan tentunya tanpa menghafal. Sebab hafalan mati itu berbahaya, katanya.

Di akhir diskusi, beliau menekankan prinsip pertemuan kami, bahwa hubungan yang baik adalah hanya soal komunikasi yang baik. Beliau siap siaga di ruangannya, mengajak diskusi, apa yang saya tidak pahami, mari dipelajari bersama.

Rasanya, seperti dada ini seperti dihunjam. Ibarat saya sekarang harus memikul beban berat, rasa bersalah telah menyia-nyiakan perhatian dan cinta beliau untuk anak didiknya.

Di jalan keluar ruangan beliau, tiba-tiba saya tertegun.

Berapa banyak cinta yang selama ini saya sia-siakan?
Berapa banyak perhatian dan rengkuhan yang selama ini tidak saya sadari?

"Hakikat pembimbingan adalah pertemuan"

Saya tetiba sadar.

Apakah pertemuan saya dengan-Nya selalu berkualitas?
Apakah selama ini pertemuan saya dengan-Nya adalah pembimbingan, atau saya hanya mendatangi-Nya sebagai bentuk formalitas?
Apakah segala kebingungan yang saya rasakan sudah benar-benar saya sampaikan kepada-Nya atau saya menyimpannya sebab merasa bisa menyelesaikan semuanya secara tuntas?

Atau,

Apakah saya sebenarnya sungguh-sungguh ingin Dia bimbing?

Sungguh, dimana rasa syukurmu, Exma?

Ya Allah... Bahkan apabila ada manusia yang memberikan seluruh cinta dan selalu siap memeluk kapanpun, ia akan merasa cemburu apabila diabaikan.

Surabaya, 14 Agustus 2017.

  • view 29