Tentang Menerima, Mencintai, dan Melepaskan pada Saat yang Sama

Exma Mu'tatal Hikmah
Karya Exma Mu'tatal Hikmah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Mei 2016
Tentang Menerima, Mencintai, dan Melepaskan pada Saat yang Sama

Namanya Raina Nailal Haq, perempuan yang usianya setahun lebih tua dariku ini sanggup membuatku jatuh cinta bahkan sebelum aku bertatap muka dengannya. Dari yang aku tahu, aku dapat mengerti bahwa dia bukan muslimah biasa, abaikan prestasi segudangnya di universitas dan bidang kepenulisan atau kepiawaiannya membagi kesibukannya dalam berorganisasi dengan tetap bersosial dengan teman dan keluarganya, cara dia memandang dan menata kehidupan-lah yang membuatku jatuh cinta.

Aku sering membaca tulisannya di akun sosial media. Tak banyak memang, terkadang panjang, ada pula hanya sebaris kalimat pendek. Kalau ditarik benang merahnya, aku tahu apa yang ingin dia sampaikan dari tulisannya : menerima takdir tuhan. Terlalu naif mungkin? Tapi menurutku tidak. Aku tahu, penulis mempunyai cara sendiri dalam menuangkan fikirannya, kita juga pasti tahu tujuan menulis adalah untuk membuat pembaca mendapatkan manfaat dari apa yang dia tulis, paling tidak bagi dirinya sendiri.

Dia selalu sanggup menggoreskan keindahan kata tanpa rasa menggurui sedikitpun, terlihat dari caranya menggunakan kata ganti pertama pada beberapa tulisannya, aku tahu dia tidak ingin merasa pintar di hadapan yang lainnya. Akupun mengerti apa cita-citanya, menjadi penulis, hidup berbahagia dengan laki-laki yang dicintainya dan putra putri yang disayanginya, melanjutkan pendidikan setinggi-tingginya untuk menjadi sebaik-baik sekolah pertama demi mencetak generasi terbaik. Cita-cita luhur yang membuatku luluh bahkan sebelum mengetahui rupanya.

Sebelum kakakku bercerita tentangnya, aku sudah menjadi pembaca setia tulisannya baik di media cetak dan elektronik maupun sosial media meski hanya sesekali aku meninggalkan jejak berupa komentar pendek. Raina pun tidak akan curiga padaku yang sebenarnya adalah salah satu dari banyak laki-laki yang jatuh hati padanya, dia hanya mengenal aku sebagai adik dari temannya.

 

Tampaknya aku sudah banyak menceritakan dirimu di belakangmu, maka sekarang biarlah aku bercerita seakan sedang di hadapanmu, wahai perempuan yang akan menyempurnakan separuh agamaku...

Hai, Raina.

Mungkin kamu tak banyak mengenalku, memang aku tidak termasuk dalam deretan rekanmu di organisasi atau teman sekelasmu yang banyak berinteraksi denganmu setiap hari. Akupun tak cukup penting untuk kau ketahui.

Bulan lalu, abah mengutarakan niatnya untuk menjodohkanku dengan seseorang, dan tahukah kau? Abah menyebut namamu. Beliau kemudian melanjutkan dengan informasi ringan seperti usiamu, tempat kuliah dan jurusanmu dan pesantrenmu yang sebenarnya aku telah hafal semuanya di luar kepala. Maafkan otakku yang bahkan terlalu banyak menyimpan memori tentangmu tanpa izin darimu terlebih dahulu.

Aku tahu, atau lebih tepatnya aku sangat tahu, tentang siapa yang sedang mengisi hatimu saat ini. Tentang laki-laki itu, yang kau sebut sebagai si istimewa. Kalau kau pernah membaca suatu kalimat : ‘Perasaan cinta adalah ketika kita mengikhlaskan kebahagiaannya tanpa kita’ agaknya hal itu tidak seluruhnya benar, mungkin perlu disisipkan kata ‘mencoba’. Rasa cinta mana yang akan rela tanpanya sedangkan kita tahu bahwa cinta adalah rasa paling egois, lupakanlah kata-kata ‘cinta tidak harus memiliki’, adakah rasa cinta tanpa rasa ingin memiliki? Menurutku tak akan ada.

Begitulah. Apa yang dapat kulakukan detik demi detik kemudian hanyalah mencoba, mencoba untuk mengikhlaskan. Terkadang aku juga menertawakan diriku sendiri, hak apa yang kupunya sehingga aku dapat merasa gelisah setiap melihat catatan di blog mu tentang si istimewamu? Aku memang terlalu bodoh bahkan hanya untuk berkaca.

Sekarang, setelah aku dijodohkan denganmu, kau mungkin akan berfikiran bahwa aku adalah laki-laki paling jahat, akulah benalu yang hinggap pada perasaan saling cinta antara kalian. Biarlah, aku tak akan merasa marah apabila kau memang benar adanya berfikiran demikian terhadapku. Tapi, ada yang harus kau tahu, aku dan kamu sama, kita sama, adakah balasan yang lebih indah untuk kita yang menjalankan perintah guru sekaligus orangtua kita selain surga?

 

 

Raina...

Hari – hari yang akan kita hadapi ke depan tidak lagi kita lalui sendirian, selanjutnya kita akan mengarungi lautan kehidupan berdua, maka izinkan aku menjadi pemimpin bagimu, menjadi sandaran bagimu, menjadi tempatmu berbagi tawa dan air mata yang semoga aku mampu menjadi orang pertama yang sanggup menghapusnya, menjadi orang yang berusaha menjadi yang terbaik untuk keluarga kita, menjadi nafas yang akan kau hirup setiap hela.

Aku mungkin tidak sepertimu yang cerdas dalam banyak bidang, tapi yakinlah, aku berjanji tidak akan menyiakan kehadiranmu yang akan memberiku banyak putra putri cerdas dan shalih shalihah seperti ibunya, izinkan aku untuk berusaha menjadi ayah yang baik untuk mereka, yang akan menjadi investasi kita berdua hingga akhirat nantinya..

 

Perkenankan aku, Zaidan Fahmi Muhammad, untuk hadir dan menjadi bagian dari hidupmu, Raina...