Tulang Pikiran

Evi Cassiopeia
Karya Evi Cassiopeia Kategori Psikologi
dipublikasikan 27 September 2016
Tulang Pikiran

Kita akan mengaduh jika tulang kita membentur sesuatu yang bersifat sama seperti sifat tulang, hal-hal yang keras. Setidaknya akan keluarlah kata; “Duh..”, “Shh’, ataupun “Aww”. Satu kata yang mengandung makna yang dalam dan menyakitkan. Kemudian dalam waktu 24 jam atau kurang dari itu, jika intensitas benturan tulang kita itu kuat, maka timbul peradangan pada daging disekitarnya. Lebam, biru dan bengkak. Peradangan itu bisa sembuh dalam beberapa hari atau bisa masuk dalam hitungan minggu.

Namun, alangkah sialnya jika mengalami kejadian benturan yang mengakibatkan tulang kita patah. Segala macam bentuk pengobatan akan dijalani untuk membenarkan tulang yang telah rusak tersebut agar kembali seperti semula. Jika kasus ini terjadi, tentu proses penyembuhannya akan memakan waktu yang lebih lama bahkan lama sekali. Berbulan-bulan bahkan bertahun-tahun. Yah, itu pun ketika tulang yang patah telah sembuh, akan timbul semacam trauma telah menghinggapi tulang tersebut dan susah untuk disembuhkan. Saya bisa menyebut hal ini dengan keadaan trauma ‘psikis” pada si tulang dan pemiliknya, seperti tidak bisa tidur pada posisi tertentu karena perasaan was-was si pemilik tulang.

Mari kita lihat pada cerita yang lain. Pada cerita perdebatan, perdebatan panjang antara dua mulut atau yang melibatkan lebih banyak mulut. Ah, saya lupa.. DI zaman modern ini perdebatan lebih banyak ditemukan di media sosial. Baik hanya sekedar opini maupun opini yang disangka fakta.  Jika dalam aksi perdebatan tersebut sang maha sensitif yaitu sang 'hati' sudah mengambil alih, bukan lagi menggunakan logika, maka si pemilik 'hati' itu akan terbentur. Eh? Kok terbentur? Ya iya lah. Sering merasa sakitnya tuh disini ala Cita Citata kan? kalo apa-apa pakai 'hati' dan si 'hati' pun tersakiti. Mungkin sakitnya 'hati' bukan hanya dalam bentuk kekecewaan, bisa jadi perasaan kesal dan marah. Kalau dipikir-pikir jika sang 'hati' sudah tersakiti efeknya akan bermacam-macam. Duh buyung... Hari pertama sang 'hati' tersakiti rasanya pengen nimpuk/nonjok siapa gitu kan ya? Tapi lagi-lagi anarkis itu dilarang oleh si 'hati'. Kurang baik apa si 'hati' tersakiti tapi tidak untuk anarki.

Perdebatan pelik selalu berasal dari pemikiran yang sama-sama tidak bisa open-minded. Kenapa sama-sama? Andai satu saja yang bisa memiliki pemikiran yang terbuka (open minded) pasti nggak akan bisa sepelik itu. Paling nggak ya udah, hasilnya akan terjadi  satu orang akan merasa telah menang jika si open-minded ini mengalah. Padahal konsepnya nggak seperti itu ya. Kita sama-sama tahu lah. Si open-minded lah pemenang sebenarnya. Susah loh mencari si open-minded, mereka itu barang langka, karena biasanya kita tidak akan menemukan si open-minded diperdebatan, karena si open-minded tidak suka berdebat. Titik. Mereka biasanya jadi penengah atau yang hanya mendengarkan atau melihat saja dalam diam . Ingat pribahasa tong kosong nyaring bunyinya kan? Sepertinya hal ini nggak jauh-jauh dari itu. Hihihi. Biasanya sesuatu yang bersifat terbuka atau open lebih mudah memperoleh ilmu baru, sekalipun ilmu baru itu telah membelokan konsep ilmu yang dia punya, konsep ilmu yang baru itu akan diterima dengan lapang dada loh.

Kita lupakan si open-minded. Mari berfokus ke para closed-minded. Saya lebih suka menyamakan para closed-minded ini sebagai si pemilik otak yang bertulang. Mereka mempunyai sebuah konsep yang bersifat ‘keras dan kaku’ yang merupakan sifat alami tulang dalam tubuh (ini membicarakan tulang keras bukan tulang rawan), konsep yang ‘keras dan kaku’ ini akan membentur konsep lain yang juga mempunyai sifat yang sama. Yah, seperti yang sudah dibahas diawal. Sesama benda keras seperti tulang jika berbenturan akan timbul akibat selanjutnya seperti radang bahkan bisa patah, tergantung itensitas benturan itu. Alangkah memalukannya jika pada akhir perdebatan mengakibatnya patahnya tulang pikiran salah satu pendebat dengan kata lain si pendebat menjadi sakit hati. Saya bingung loh ndok, ‘hati’ yang disebut orang-orang sering tersakiti itu sebenarnya letaknya ada di organ hati, jantung atau malah di otak manusia. Duh, buyung seumur-umur hidup memikirkannya saya tidak bisa menemukan jawabannya tuh. Tapi, di dunia ini semua itu sebenarnya terangkai, bukan? tidak hidup sendiri-sendiri. Mungkin, konsep ‘hati’ yang tersakiti sebenarnya perpaduan kerja antara pikiran dalam otak dan denyut jantung. Coba deh jika sakit hati? Kerja organ mana yang lebih berasa? Yang mana yang lebih berasa hayooo?

Jadi kalau tidak mau repot mengurusi tulang pikiran yang patah atau terjadi peradangan yang berujung pada sakit hati dan lelah pikiran, mari belajar jadilah si open-minded, walau dalam perakteknya sepertinya belajar menjadi open-minded ini rada-rada susah susah gampang, alias lebih banyak susahnya dibandingkan gampangnya. Tapi insya Allah bisa asal selalu berusaha. Semangat aka aka aka Fighting sobat ^.^

Sebijak-bijaknya penulis ini mencoba menganalisis atau mencoba menjadi bijak, sebenarnya si penulis ini si closed-minded. Si penulis hanya ingin berbagi karena sudah sering merasakan tulang pikiran si penulis yang patah karena terlalu banyak berbentur. Salah siapa kalau sudah patah? Ya, salah sendiri. Siapa suruh cari penyakit? Si penulis suka sekali berimajinasi sewaktu tulang pikirannya sedang patah lagi dan lagi. Isi imajinasi penulis: "Enak kali ya jadi open-minded."

Semoga itu bukan hanya sekedar khayalan si penulis dan kita. Amin.

"Ayo open-minded, datang lah kepadaku. Kalau bisa segera ya, aku sudah capek, hihihi ^.^" << Lagi dan lagi dia berimajinasi

Salam sejahtera. Eh maksud saya, salam berpikir bersih bebas beban.

  • view 367