Nanti Mau Menikah Dengan Siapa?

Eve Lynn
Karya Eve Lynn Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Januari 2016
Nanti Mau Menikah Dengan Siapa?

"Jadi nanti, kamu yang sok lugu ini mau menikah dengan siapa?"

Bagiku akan lebih mudah mengerjakan soal pilihan ganda ketimbang menjawab pertanyaan esai, atau mengerjakan soal-soal eksak dengan rumus daripada menguraikan teori. Ah bukan, aku ini bukan cerdas numerik tapi interpersonal, aku hanya tidak suka pertanyaan yang aku sudah tau jawabannya, itu saja. Ada banyak orang mengatakan tidak masalah untuk dikritik atau dinasehati secara lembut, tapi walaupun ditampar secara pelan-pelan bukankah rasanya sama tidak enaknya dengan disentil hidungnya, ini jadi ngomongin apa ya :D

"Yaa.. sama mas lah, memang mau sama siapa lagi, Mba". Mba Dinda tidak pernah - selalu tidak pernah lupa menanyakan kalimat itu setiap aku bertamu ke rumahnya. "Memang sama siapa lagi harus kubayangkan yang nantinya akan berjalan bersamaku di altar, mengucap janji sehidup semati dalam haru, dan merayakan cinta setiap hari?". Aku menjawab sebisaku. Dengan kenyataan yang ada di genggamanku.

"Memangnya nanti mas mu mau berjalan sama kamu di altar," kepalaku ditoyor, "Sudah yakin bisa jalan beda prinsip? Siap beribadah sendiri-sendiri?". Semua itu sudah semacam keripik melinjo?yang jadi camilan untuk menghabiskan sore yang mendung dengan udara yang dingin, yang sekali, dua kali, tiga kali menelannya masih kurang. Yang kalau ditelan masih ingin lagi, dan setiap kali mengunyahnya selalu terasa pahit.

Tepat 4 tahun yang lalu aku menuliskan ini semua:

"5 kriteria kekasih yang ku inginkan:

  1. Seiman
  2. Harus pintar, supaya bisa menangani aku yang agak meledak-ledak
  3. Dingin, tapi hangat (Dispenser kali...)
  4. Yang ganteng lah, kan aku pendek dan jelek biar anaknya ga sedih ortunya ga bisa disombongin (Ini ngomong apa sih?;( )
  5. Giat kerja dan bisa lihat situasi, karena aku bukan orang yang suka melakukan banyak hal untuk dibayar jadi dia harus pintar mencari uang"

Lalu bertemulah aku dengan lelaki ini. Lelaki yang memenuhi semua kriteria yang ku minta kecuali yang pertama. Dan dalam sekejap duniaku kacau balau. Entah siapa yang memulai, tiba-tiba kami tenggelam dalam putaran ombak kekaguman, dan sama-sama tenggelam dalam suasana penuh romansa ini. Lelaki yang sangat dingin, yang cenderung tidak punya perasaan dalam setiap gerak tubuhnya, namun begitu hangat di balik setiap ucapannya. Terlalu pintar untuk dijajarkan denganku yang sempat tidak lulus SMA. Pujaan gadis-gadis metropolitan di kelasnya. Dan sudah pasti, apapun yang dikerjakan tangannya bisa jadi uang, banyak dan halal *batuk-batuk*

3 tahun dalam dilema, aku ingin dia duduk di sisiku untuk beribadah. Begitupun dia, berharap untuk meletakkan kerudung di kepalaku. Tapi perbedaan ini terlalu tua untuk diterjang. 2 kutub yang sama kuatnya saling mendekat. Jauh sebelum eksistensi nenek buyut kami ada, mungkin. Semua orang menyebut kami bodoh, tapi anggaplah kami anak muda yang darahnya masih bergejolak, yang kata-kata bijak setengah matangnya hanya sebagian dari sikap sok, dan masih melangkah setengah melayang karena belum mantap memutuskan. Masalahnya, siapa yang bisa dikambing hitamkan? Kami sama-sama rajin beribadah, santun pada yang lebih tua dan melayani sesama dengan baik. Mau menyalahkan yang punya semesta? Bisa dikutuk sebelum tau pusingnya menjalani cinta! Nanti dicekal seperti film Cinta tapi Beda.

"Kan kamu tuh Eve, yang mati-matian ga bisa terima pernyataan Mas Yono karena bilang?"Aku yang jalani cinta ini kenapa kalian yang ribut?"?ke orang tuanya, sementara buah dari kata-kata itu sama sekali tidak bisa dipakai jadi modal dalam kehidupan berdua, gimana dong?". Mungkin Mba Dinda merasa membuatku jadi hilang semangat. Ya masalahnya kami juga memikirkan banyak jalan untuk keluar - dengan?sok?dewasanya pikiran kami, tentunya. "Apa ngga mau lihat-lihat lagi di gereja tuh, kan banyak koko-koko ganteng, yang kalau disejajarkan denganmu pasti jauh lebih teduh buat mata yang melihat."

"Iya teduh melihat laki-laki agak cantik ala Korea," timpalku. Dan ya, bukan tanpa alasan pilihanku jatuh ke lelaki yang tak dapat kugapai ini; dia ngga cerewet dengan kriteria yang terlalu tinggi seperti bodi aduhai, punya trofi dari SD sampai SMA, tinggi minimal 165cm, lulusan S1 Akutansi, wajah oriental dengan warna kulit yang lebih cerah, dan usia maksimal setahun lebih muda, ini mau jadi pacar atau ngelamar lowongan kerja? Sulit bagiku melihat lelaki di gerejaku memenuhi kriteria yang ku minta, dan akhirnya aku tau kenapa (Untuk yang Kristen bisa cek?Penebus, Gerbang, dan 10 saksi, atau videonya?di sini).

Suatu malam sang "mas" menelepon, tanpa angin tanpa hujan dia hanya menyanyikan sepenggal lirik?sambil gemetar;

"Memang hanya modal nekat gak banyak materi
tuk bisa pikat idaman hati sang calon istri
ga bekal uang dan tampang karna emang ga ada
Cuma nyali aja sekokoh baja mantap di dada
?
percaya dari semua ku yang paling setia
ku lah jodoh terbaikmu yang ada di dunia
meski Cuma modal cinta gak pakai guna guna
tuk kau tau ku bisa menjadi pria serbaguna
?
sungguh cintaku tulus bukan akalan bulus
yakin pasti tuhan kan berikan jalan termulus
boleh kau uji sayang tapi jangan terlalu lama
bila nanti terbukti pasti kau kan terima"
(8 Ball - Menikahlah Denganku)

Apa mungkin Tuhan sebenarnya sedang memintaku (yang berpikir kebanyakan lelaki berharap muluk-muluk pada wanitanya) untuk tidak berharap yang macam-macam? Entahlah. Tapi sekarang aku sudah kepalang, terlalu jauh untuk tiba-tiba berubah keputusan. Meski masih dibayangi ungkapan Annisa dalam film cin(T)a,?"Tuhan gue aja berani gue khianatin, apalagi loe ntar!?"

"Aku ngga tau, Mba. Kalau dari hati, jujur masih ingin yang seiman. Kami pernah membicarakan hal ini dan dia memiliki keinginan yang sama. Mungkin untuk sementara, kami akan berjalan saja. Berjalan sampai mencapai garis yang disepakati, entah untuk maju bersama-sama atau sendiri, atau berpisah lebih awal saat ada persimpangan yang menarik mata, tapi salah satu dari kami tidak bisa ikut ke sana. Anggap saja lah kami bodoh, sudah 3 tahun dan kami sudah terbiasa untuk tidak membela diri. Tapi kami tidak menyesal untuk sampai sejauh ini, karena apa yang kurang pada diri kami masing-masing akhirnya terjawab oleh satu sama lain, dengan pandangan dan pola pikir yang jauh berbeda."

Mba Dinda hanya menatapku dalam-dalam. Aku tertawa sambil memandangnya balik,"Eneg ya denger romansa anak labil?". Mba Dinda hanya tersenyum kecut dan menundukkan kepalanya. "Tapi nanti, bila memang tidak bisa bersama, aku akan tetap memintanya mengantarku ke altar, menyerahkanku dengan tulus pada laki-laki yang pasti akan banyak diwejangi olehnya, menggantikan papaku yang sudah meninggal. Harus dia, bagaimanapun caranya, dia yang telah membimbingku dalam perjalanan menjadi dewasa dan melihat dunia yang lebih luas di luar hatiku yang sempit ini."

"Hmm... Jadi nanti laki-laki seperti apa yang akan kamu pilih untuk jadi suami, menggantikan mas mu itu?". Mungkin Mba Dinda hanya sekedar penasaran atau memang memaksaku untuk segera berbalik dari kubangan dilema ini. "Aku akan menikah dengan orang yang mirip mas, minimal sifatnya, atau pola pikirnya, atau ketrampilannya, yang dalam memilih dan menjalaninya bisa kupertanggung jawabkan lebih dari ini, tanpa dikejar pertanyaan apa nantinya bisa bersama dan membangun masa depan dengan kepastian."

"Lalu siapa orang itu?", tanya nya masih belum puas. "Kan belum ketemu yang mirip mas, jadi untuk sementara maunya nikah sama mas", jawabku mantap. Dan kepalaku ditoyor untuk kedua kalinya.

  • view 259