Dunia di luar Rumah

Eve Lynn
Karya Eve Lynn Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 25 Januari 2016
Dunia di luar Rumah

Siang itu aku tertegun, melihat suami tetangga depanku masih duduk meniup asap rokok dari mulutnya. Ini adalah bulan ke 6 sejak aku pindah ke sini, dan bulan pertama sejak tetangga depanku menikah. Namun entah mengapa suasananya tidak gempita, tidak semanis yang kubayangkan tinggi-tinggi.

Akhir Desember di pinggiran Sidoarjo

"Lah masa kamu ngga tau, Eve... Mba Nuke dan Mas Yono akan segera menikah," jelas Mba Dinda sambil setengah berbisik. Mba Dinda menurutku adalah yang cukup rasional membicarakan banyak fenomena sosial secara logika religius *dehem* sederhananya, nurani. Terlepas dari keimanan kami yang bersebrangan.

"Ah masa mba... Kenapa mendadak sih, atau memang udah direncanakan dari lama? Becanda kali." tanyaku penasaran. Singkatnya, Mba Nuke dan Mas Yono ini adalah pasangan beda generasi dan beda status. Mba Nuke pernah menikah sebelumnya, jauh sebelum aku tau ada kehidupan di tepi kota ini dan jauh sebelum hidup membawaku bertanggung jawab atas banyak hal yang belum waktunya. Usia Mba Nuke?setara?adik mamaku. Sementara Mas Yono berusia sepantaranku. Entah apa yang mempertemukan mereka. Mungkin yang ku mengerti hanya hal-hal dangkal, seperti kecintaan mereka pada kopi dan rokok, atau kebutuhan mendasar untuk diperhatikan, tanpa memperhitungkan postur atau latar belakang.

"Becanda dari Hongkong, si Nuke itu sudah mempersiapkan semuanya, sudah beli hantaran, sudah beli suguhan, sudah siap semua-mua-mua-muanya." Tolong maklumi, se-dewasa apapun seorang wanita, saat bercerita (apalagi mengenai hal yang sulit ia terima) pasti kumat alay ala ibu-ibu arisan yg ga dapet giliran udah lamaaa banget :D

Aku memandang Mba Dinda tepat di matanya. "Ooo..." (sambil membuang pandangan ke bawah dan tersadar) "Loh, maksudnya Mba Nuke udah siapin semuanya apa ya Mba?". Aku masih belum berpikir macam-macam. Semoga aku mendengar jawaban bahwa Mba Nuke hanya menjalankan mandat dari calon mertuanya. "Ya itu lah, Eve, kenapa kita duduk di sini. Aku susah menerima kenyataan bahwa harus Nuke yang menanggung semuanya, ngga tau dia sadar atau ngga, terlepas dia wanita baik-baik atau ngga, aku susah paham mengapa dia tidak memberikan kewajiban bagi pihak lakinya untuk turut andil menanggung beban yang nantinya dijalani berdua."

Aku tidak punya jawaban. Aku teringat saat masih memelihara hamster, dan aku suka sekali menyentuh punggungnya secara tiba-tiba. Mungkin hamsterku saat itu sekaget diriku sekarang. Bagiku, adalah sebuah kewajiban bagi pihak pria untuk memberikan keamanan pada pihak wanita, baik secara finansial maupun secara psikis. Ketika sudah berani memilih, maka sudah berani bertanggung jawab. Ya, itu bagiku. Bagiku yang sudah dibesarkan dengan batas jelas kewajiban wanita dan pria dalam sebuah relasi khusus. Aku tak bisa berhenti bertanya mengapa harus begitu, meski?memang ada adat yang mewajibkan pihak wanita yang melamar dan memahar. Tapi aku tak bisa berhenti bertanya mengapa.

Pekan ketiga bagi pasangan muda baru

Dan di situlah Mas Yono, di terasnya sambil menghisap rokok, tepat tengah hari saat ia harusnya membanting tulangnya demi lembaran yang mereka perlukan. Sehari sebelumnya aku bertamu di rumah Mba Dinda, hingga pada suatu percakapan ia bercerita bahwa Mba Nuke berniat mencarikan pekerjaan lain untuk suami barunya itu. Memang pekerjaannya?hanya buruh kasar, tapi setidaknya uangnya cukup kalau hanya untuk membayar kos dan kebutuhan sehari-hari lainnya. Di jam yang sama, Mba Lina, tetangga yang lebih akrab dengan Mba Nuke, malah bercerita bahwa Mas Yono sudah berhenti bekerja. Dengan istri yang juga tidak bekerja. Apa yang mau dibanggakan?

"Mba Dinda, kalau ku tawari lowongan penjual crepes ini kira-kira Mas Yono mau ngga ya? Daripada sama-sama ngga kerja nanti pusing." Aku meminta pendapat Mba Dinda tanpa menjelaskan apa-apa. "Loh memangnya udah berhenti kah, Eve? Kemarin bilangnya masih rencana." Jadi kusampaikan sesuai cerita Mba Lina.

"Kalau sudah seperti ini, mau gimana? Sudah pasti dia ngga akan mau melakukan pekerjaan yang harus berkeliling begitu. Bukannya suatu saat dia akan punya anak, si Nuke juga kalau sudah punya anak, masa iya tetep suapin bapaknya mulu setiap makan? Apa ngga perlu menggendong, gantiin popok, dan yang lainnya."

Dan lagi aku tidak punya rangkaian kata untuk menjawabnya. Aku tak ingin menduga-duga lalu terjerat lingkaran fitnah. Sejauh yang ku ingat, saat aku masih aktif di kegerakan pemuda di salah satu gereja di sini, hanyalah persoalan sederhana semacam anak yang mengancam mau bunuh diri karena dipaksa belajar 24/7, atau gadis yang memutuskan untuk total masuk ke dalam kehidupan jalanan yang menjanjikan kebebasan sampai akhirnya dia hamil. Aku bisa memaklumi bahwa mereka mengikuti usianya yang mentah, dan menyesal karena malu setelah jatuh dan menyadari bahwa orang tua yang digariskan bukan sekedar menjadi polisi di masa labilnya.

"Aku bingung, Mba Dinda," kataku lirih, "Aku tak pernah mengenal hal hal semacam ini, ?yang membuat hatimu gemas setengah mati karena ngga bisa mengubah apa-apa, sementara yang dipikirkan hanya merasa semuanya ini normal, sebuah proses yang harus dijalani, meski menurutku semuanya bisa dihindari." Aku berusaha menahan tangis. Mba Dinda menepuk bahuku dengan lembut. "Eve... terbiasalah. Bahkan di duniaku ?tak pernah ada tanda-tanda akan berhubungan dengan hal semacam ini. Suatu ketika sebelum di sini, aku punya sebuah toko kecil yang lumayan untuk menghidupi keluarga sebelum suamiku akhirnya mau bekerja. Pelanggan tokoku bahkan lebih parah dari ini semua. Kalau ku ingat ada yang perawakannya lebih kecil darimu, berjilbab, cantiiik sekali. Suatu sabtu dia dijemput 4 laki-laki dan 1 perempuan dengan mobil. Malam itu dia ngga pulang. Besoknya mobil itu datang lagi, menurunkan dia di depan toko ku lalu cepat-cepat pergi. Sementara gadis ini, dia berjalan tertatih, sambil setengah badannya ditempelkan dan di seret di tembok toko ku. Menurutmu, apa yang terjadi?"

Aku memutuskan untuk tidak menjawab, bukan karena aku tidak mengerti. Aku hanya tidak bisa membayangkan hal-hal mengerikan semacam itu. ?Cerita di atas hanya ringkasan dari puluhan hari yang ruwet dan penuh ketegangan antar tetangga, karena konflik internalnya meluas jadi rahasia yang agak umum. 5 tahun yang lalu aku membayangkan kehidupan di luar rumahku, hidup tanpa orang tua di tengah masyarakat luas dan memiliki pekerjaan, bukankah itu cukup?

Tidak, tidak ada yang pernah cukup bagi hati yang lemah, yang terlalu banyak di rumah.?Siapa yang tidak betah di rumah? Di sekeliling makhluk yang mendukungmu saat benar atau salah, dan menjadi alasan untuk tetap hidup , baik ketika kau mampu atau tidak. Terlepas dari baik atau berandalnya makhluk yang jadi kawan hidupmu. Gereja, pesantren, bahkan rumahmu sendiri, penuh dengan segala kebaikan dan kelembutan yang dunia bisa tawarkan. Namun siapkah menghadapi kejamnya kenyataan? Karena berpura-pura bahwa semuanya biasa saja itu susah, kalau salah langkah, malah jadi karma *curhat* Apa tidak ada yang baik di luar rumah? Tentu saja ada, tapi begitulah faktanya, dunia di luar rumah itu jauh dari bayangan kita sewaktu beranjak dewasa, dan hati kita cenderung menikmati sensasi ketakutan dan kesedihan. "Bukan urusanmu," memang... namun hidup bersosial itu tidak semudah bangun untuk mematikan lampu sebelum tidur. Setidaknya, setelah itu semua... menjadikan semua pihak yang mengetahui semakin dewasa dan bijak dalam bertindak.

Sidoarjo, 25 Januari 2015

*Ditulis tanpa mendiskreditkan agama apapun
**Seluruh pihak yang terlibat telah disamarkan
***Udah gitu aja

  • view 207