Kenapa ya?

Eve Lynn
Karya Eve Lynn Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Februari 2016
Kenapa ya?

Ini adalah 2 bulan yang heboh sejak 2016 dimulai. Saya tidak biasa menganggap serius hal-hal yang diperdebatkan karena masih fresh from the oven, yang sekarang adalah isu?LGBT dan?kebijakan diet kantung plastik. Keduanya sudah pernah diangkat ke publik namun tidak seheboh sekarang. Bahkan tanpa ramai dibicarakan para LGBT sudah memiliki markas dan komunitasnya sendiri, namun kini mereka seolah memiliki satu momen untuk bergerak lebih leluasa. Dan beberapa orang yang saya kenal sudah terbiasa membawa tas belanjaan sendiri untuk menggantikan kantung plastik yang tidak mudah terurai itu (padahal aslinya mumet liat kresek-kresek kecil dikresekin yang lebih besar dan jadilah timbunan kresek tanpa akhir meski dipakai untuk sampah). Cuma Rp. 200, ga mahal kan dibandingkan harga barang-barang yang akan dibeli? Sejak tanggal 21 Februari protes mengenai biaya Rp. 200?per kantung kresek ini tidak pernah berhenti. Mulai dari "Ini semacam kebijakan guyonan, karena Rp. 200?itu tidak ada apa-apanya", sampai "Lah rugi dong kita kresek kecil sama besar sama-sama Rp. 200 mending ambil yang besar" (ya elah ini kan bukan bisnis kresek bu), dan yang paling sering dipertanyakan, "Ke mana nantinya Rp. 200 ini?".
?
Apakah salah kalau mempertanyakan? Tidak, kan kita semua bekerja, banting tulang peres keringat buat lembaran-lembawan merah muda yang wangi tapi ga betah di dompet, kalau keuangan pribadi saja dicari sampai bawah kolong kekurangannya, apalagi yang konstan dibayarkan ke pihak lain. Apakah salah kalau setuju kebijakan ini dilanjutkan? Tidak juga, tentu yang duduk di kursi khusus para pengemban pelaksana kesejahteraan rakyat juga memiliki pemikiran yang lebih jauh mengenai anak cucunya, yang nanti akan hidup satu zaman dengan anak cucu kita. Jadi kalau keberatan dengan kebijakan ini bersalah? Sama sekali ngga kok! Tidak ada pernyataan bahwa mereka yang tidak setuju akan dihukum seumur hidup atau diasingkan di pulau terpencil. Malah, kita yang tidak setuju memiliki kebebasan bersuara yang dilindungi oleh UUD kan? Nah,?kalau seperti ini apa UUD juga?melindungi ya?
Itu adalah sepenggal status yang tidak berhenti muncul di beranda saya karena terus menerus dibagikan. Yang saya bingung, kenapa kasirnya dimarahi? Dan kenapa yang marah-marah ini merasa bangga? Kenapa ya?
?
Beberapa hari kemudian muncul pula surat terbuka yang membalas argumen dari status ini. Saya tidak pernah berfikir apakah surat terbuka itu akan sampai kepada pemilik status yang dimaksud atau tidak, tapi demi kebaikan bersama mudah-mudahan iya (kan sudah ada kata ditujukan, harusnya sampai ya). Mungkin mengenai keberaniannya memprotes kebijakan yang belum tersosialisasikan dengan baik mengenai tujuan dan aliran uang pembayaran itu yang dibanggakan, atau berhasil memiliki argumen mengenai industri-industri pengguna plastik yang lebih tebal ketimbang kresek bio-degradable yang harus dibayarnya. Okeilah, saya paham. Mungkin beliau hanya salah sasaran dengan memarahi pegawai yang juga dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup harus menghadapi manusia-manusia (agak menyebalkan) seperti beliau. Lalu bagaimana dengan mereka yang mengumpat dengan kata-kata kotor dan organ tubuh manusia dan segenap kata menjijikkan lainnya, meski dalam peraturan keanggotaan telah tertulis larangan berkata kasar? Semacam, di sebuah artikel ulasan bukan opini penulis sendiri? Apa dampaknya setelah menyerapah? Apakah ini juga suatu tindakan yang menunjukkan kerennya berani bersuara?
Kenapa ya?

  • view 135