Kita dan Berbagai Batas

Eve Lynn
Karya Eve Lynn Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 20 Februari 2016
Kita dan Berbagai Batas

Hanya sebuah tengah malam, saat aku tidak bisa tidur nyenyak. Kurang, aku merasa kurang. Selalu kurang untuk bersyukur, selalu kurang saat meminta. "Kenapa sih, udah tau lagi flu." Tak ada yang tidak suka memberiku sebuah toyoran. "Kepalaku panas, makanya aku mandi. Siapa tau pikirannya bisa jernih," jawabku. Kamu menggenggam tanganku dengan lembut. "Apa lagi yang ada di pikiranmu, yang kacau dan serba nanggung itu?". Aku tidak menjawab. "Apa yang akan kamu minta, kalau kamu boleh meminta sesuatu yang di luar batas?", tanyamu lagi. Apa yang akan kuminta? Tak pernah terpikirkan olehku yang selalu mempertebal garis batas. "Kalau aku, aku akan meminta garis batas kita dihapuskan. Pasti aku akan melihatmu menangis bahagia di hari itu. Dan aku akan turut menangis, karena untuk sekali saja, kamu menangis bukan karena aku mengecewakanmu." Lalu aku, apa yang akan kuminta? "Apa boleh lebih dari satu?" Aku selalu menawar, untuk memastikan perbatasan yang tidak boleh kulewati. "Ya, boleh saja, ku rasa." "Kalau begitu, aku ingin berani, itu saja." Kamu menatapku bingung. "Keberanian apa yang kurang dari wanita yg berjalan kaki puluhan kilo hanya untuk memperhatikan detail jalanan?" "Aku hanya ingin berani untuk membenci, dan berani untuk mencintai." Genggaman tanganmu semakin erat. "Aku ingin membenci dengan sempurna. Berani berserapah saat aku ingin. Dan tak punya alasan untuk merasa sebal pada orang yang menyebalkan, semacam kamu," lanjutku. Untuk ke sekian kalinya kepalaku jadi bahan pelampiasan emosi orang. "Masa kamu minta begitu setelah aku bicara seromantis tadi?". Aku tertawa melihatmu cemberut. "Dan aku ingin berani mencintai dengan tulus. Mengagumi sepenuh hati. Melangkah dengan harapan yang pasti. Ya, itu semua akan cukup." Di dalam hati aku memohon agar senyummu tak pernah pudar. Dan kita akan terus duduk berdampingan, selamanya. Saat bangun pagi, saat makan siang, dan saat menghitung bintang. Atau kapanpun di sela-sela kesibukan kita. Tapi meski ikhlas ku kata, semuanya akan tetap kurang. Selalu kurang untuk disyukuri, sampai kita selalu meminta lebih. Lalu aku terbatuk, tersadar dalam gelapnya kamarku. Handphoneku menunjukkan waktu pergantian hari, dan belum ada pesan darimu sama sekali.