Valentine: (Sejarah singkatnya) Perlu Tidak Perlu

Eve Lynn
Karya Eve Lynn Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 04 Februari 2016
Valentine: (Sejarah singkatnya) Perlu Tidak Perlu

Setahun yang lalu, kira-kira?di awal minggu bulan Februari, saya?menyindir pegawai minimarket. "Memangnya kondomnya ga laku ya Mba, sampai harus dibandrol sama cokelat?". Mereka hanya cengar-cengir. Tanpa sepatah jawaban, malah menawarkan promo merk cokelat tertentu yang tidak berbonus kondom. "Mba punya saudara ngga? Perempuan?", saya bertanya?lagi. Lalu beberapa?dari mereka menganggukkan kepalanya. "Terus gimana, kalo saudaranya Mba yang beli itu, dipakai dengan alasan "Loh saya kan ngga beli, orang dapet gratis waktu beli cokelat... terus kata pacarku mumpung...", gimana dong Mba?". "Astafiruglah, jangan lah Mba kalau sampai gitu", mereka berlomba mendoakan kata-kata saya supaya tidak terjadi. "Udah gitu bocor lagi Mba kondomnya, waduh gimana ya itu", saya lanjutkan?sambil meletakkan barang belanjaan di kasir. "Aduh Mba kita ini juga disuruh, kalau mau berontak gimana Mba namanya dari kota kecil ke sini buat mengadu nasib. Jangan lah Mba kalau sampai gitu, kan kita juga yang kerja biayain adik-adik kita di rumah, orang tua juga udah berumur Mba gimana dong nanti dilihat orang, kan kasihan". Yah okelah, mungkin mereka juga bukan orang dengan moral yang rusak. Ngga mungkin lah ya kalau orang dengan keadaan nurani yang ga beres bisa bekerja setiap hari denngan rajin, ingat orang tua dan saudara, toh mereka kerja di mini market, bukan tempat yang dipandang sinis oleh masyarakat. Ah iya, saya?juga pegawai dan sering dilabrak orang, sudah resiko kan? Apalagi mencari pekerjaan, pekerjaan yang baik tentunya, sangat susah. Mungkin sebaiknya saya?berhenti membuat mereka merasa bersalah, sepertinya mereka juga merasa begitu sebelum saya?lontarkan sindiran apa-apa.?

Bagi saya secara pribadi, hari Valentine adalah salah satu hari yang spesial. Se-spesial hari ulang tahun, atau tahun baru, atau hari kemerdekaan. Ya karena saya merayakan semuanya. Sebuah hari yang khusus dimana semua orang bisa menjadi orang baik tanpa alasan. Kurang lebih seperti saat kita mendapatkan liburan panjang mendekati lebaran, atau natal dan tahun baru yang berdempetan. Alasan untuk bergembira di hari-hari itu meningkat tajam tanpa paksaan. Tetapi saya tidak pernah mencari-cari asal mula hari valentine, karena menurut saya itu hanya sebuah budaya yang berlaku bagi semua orang di seluruh dunia tanpa keharusan. Semacam hari bumi, hari ayah, hari ibu, hari anak, atau hari senin selasa rabu kamis jumat sabtu minggu.

Beberapa hari sebelum ini, di grup sosial media atas nama kota, seseorang membuka sebuah diskusi dengan pertanyaan: "Menurut anda, pantaskah merayakan Valentine tanggal 14 Februari yang selalu menjadi pro dan kontra di belahan bumi timur ini?". Dan sudah bisa ditebak, berbagai kalangan menjawab sesuai dengan sudut pandangnya masing-masing. Para pengusaha kecil berpendapat bahwa hal ini sah saja dirayakan, karena tentu meningkatkan omzet sampingan seperti larisnya mawar, boneka, atau surat bermotif romantisme. Mungkin juga cokelat berbandrol kondom bagi mini market. Sementara itu seorang muslimah tidak berkomentar banyak, hanya meminta maaf dan menyuruh kami untuk mencari asal-usul perayaan itu yang tidak sesuai dalam ajarannya. Ada yang berpendapat bahwa tidak perlu hari khusus untuk menyatakan kasih sayang. Lainnya lagi berkomentar tanpa dasar, seperti "Apapun budaya barat, saya tidak setuju!" Bagaimana dengan wifi? Saat Amerika sudah menjadikannya sebuah bagian dari gaya hidup negaranya di tahun 2000-an, dan sekarang menjadi bagian dari kebutuhan kita? Bagaimana dengan kebiasaan minum teh rakyat Inggris, bukankah kita yang mendukungnya dengan mengimpor teh sebanyak-banyaknya ke Eropa? Tentunya dengan melupakan fakta bahwa kita sebagai salah satu produsen teh terbesar di dunia harus juga menikmatinya, kecuali dengan kualitas yang paling rendah.Di antara itu semua yang mengganggu saya adalah sebuah meme, yang menyatakan bahwa hari valentine adalah peringatan untuk Santo Valentine yang tidak bisa lepas dari kekasihnya dan lalu meninggal dalam posisi berhubungan intim. Saya akhirnya mencari tahu mengenai asal-usul hari Valentine ini.

Kebanyakan artikel memuat tentang kebiasaan bangsa Roma memuja dewa kasih sayang, yang merayakannya dengan mencambuk gadis-gadis muda di jalanan dengan kulit kambing agar gadis tersebut menjadi subur, akhirnya digeser kebiasaannya oleh Gereja Katolik di masa itu untuk merayakan hari kasih sayang, meminjam nama seorang Santo untuk menggantikan dewa tersebut. Mengenai hal ini, saya memandangnya sebagai sebuah usaha untuk menarik simpati dari pemuja dewa menuju ke Gereja. Tanggal perayaan bangsa Roma yang berlangsung pada 15 Februari didahului gempitanya oleh Gereja Katolik pada 14 Februari. Meski begitu, Paus yang menetapkan hari Santo Valentinus ini mengaku tidak ada yang dapat diketahui mengenai martir-martir dengan nama yang sama. Lalu mulai diadakan misa khusus pasangan muda-mudi. Juga tentang kerangka yang diklaim milik St. Valentino dan diziarahi banyak orang. Di tengah-tengah itu semua, orang-orang mulai melupakan unsur "rohani" yang dimasukkan oleh Gereja. Orang Inggris dan Perancis bertukar kartu dengan acuan pada tanggal 14 Februari adalah hari di mana burung mencari pasangan untuk kawin. Namun sebelum ini semua di abad awal ada seorang calon uskup yang memiliki ajaran nyeleneh dengan menjadikan tempat tidur pelaminan sebagai tempat utama dalam konsep cinta kasih Kristiani versinya, dan?tidak ada kelanjutan mengenai perkembangan ajarannya. Kemudian tahun 1969, misa bagi pasangan muda-mudi tersebut dihapuskan karena dinilai hanya berbasis legenda.

Namun Valentine sudah terlalu populer untuk dilupakan. Dalam sekian abad itu kebiasaan yang terjadi hanya saling bertukar kartu, tidak ada hadiah atau permen sekalipun, karena di abad ke-13 gula masih menjadi komoditas penting yang harganya cukup mahal di Eropa. Para pelukis mulai mencoba mengilustrasikan Valentine ini dengan sesuatu yang romantis, dengan takaran zaman itu, dimana lukisan berbentuk anak bayi mungil dan montok sangat diminati dan kembali dipadukan dengan budaya setempat (sudah menghilangkan unsur Santo atau apapun yang dimasukkan Gereja di masa itu), lukisan tersebut akhirnya populer sebagai Eros, meskipun penggambaran menurut mitologi Yunani sangat jauh berbeda. Eros digambarkan sebagai laki-laki yang gagah dan tampan. Setelah itu, mulai muncul gestur yang lebih sopan dalam tindakan berpasangan: memberikan mawar. Negara-negara Eropa memang lebih tinggi kelasnya dalam beretika dan berkata-kata. Barulah pada abad ke-18, Richard Cadbury memasarkan cokelatnya dengan kemasan kotak yang dirancangnya sendiri. Selain rasanya yang enak dan harga yang cukup terjangkau, kotak kemasan tersebut dapat digunakan sebagai kotak penyimpan, dari pita sampai surat cinta. Hingga saat ini, mawar dan cokelat indentik dengan Valentine. Tidak ada unsur sensualitas. Tidak ada hubungannya dengan hormon seksual. Mawar hanyalah sebuah simbolitas kesopanan cinta, dan cokelat valentine tidak lebih dari hasil pemasaran dengan slogan "Nyatakan cinta dengan sesuatu yang manis". Dan tidak dibandrol dengan kondom. Mungkin kalau industri berlian memasarkannya sebagai hadiah yang lebih cocok untuk Valentine sebelum 1980 dengan harga yang terjangkau, tentu kita tidak melihat warna merah berbagai spektrum pada bulan Februari. Yah, mungkin juga kondom.

Jadi?meme tersebut, darimana asalnya? Entahlah. Bukan hanya seorang yang menyebarkannya hingga bisa dipastikan bila ditanya mereka hanya akan menjawab "dapat broadcast". Tidak ada yang pasti dari semua informasi digital ini. Tidak juga mengenai artikel yang saya uraikan di atas. Dan tidak perlu semua orang menjadi arkeolog untuk mencari artifak atau dokumen yang menjelaskan awal kemunculan hari Valentine. Singkatnya, Valentine yang kita rayakan tidak lebih daripada hasil marketing. Dari gencarnya setiap industri memperkenalkan kita akan kebiasaan ini. Mengapa mempermasalahkan masa lalu yang sejarah saja sudah melupakannya?

Lalu pemilik status mulai berkomentar, "Bagaimana dengan anak-anak muda di negri kita? Yang tidak malu berduaan di kafe, saling merangkul dan sebagainya?". Apakah tindakan seperti itu hanya muncul pada saat merayakan Valentine? Saya rasa tidak. Seorang kawan saya hamil ketika menjelang UNAS, bukan saat Valentine. Komentar lainnya mengatakan, "Jangan tukar kesucianmu dengan sepotong coklat atau setangkai mawar!". Pernah dengar pembunuhan di Sun Hotel Sidoarjo? Si korban meninggal karena setelah "transaksi" hanya dibayar Rp. 200.000 dari perjanjian awal Rp. 20.000.000, jadi kalau hal seperti itu ada yang bersedia ditukar dengan sepotong coklat atau sebatang mawar, kira-kira apa yang salah? "Itu hari raya orang Kristen dan Katolik, merayakannya berarti ....." (Mohon dilanjutkan sendiri, maaf saya menuliskan ini). Perlu diketahui Valentine bukanlah sebuah hari raya. Kami tidak membuat sebuah ibadah khusus untuk merayakannya, sebaliknya karena ada "Event Valentine" maka kami mengadakan acara-acara yang tidak telalu sering kami lakukan: sekedar menelepon orang tua hanya untuk berkata "Saya sayang mama papa", membeli boneka untuk saudara perempuan, atau repot-repot memasak untuk malam keluarga. Atau mengenalkan kasih sayang kepada mereka di panti asuhan. Kami merayakannya sendiri dengan cara masing-masing, dan "event" ini seolah menjadi sebuah alasan untuk melakukan sesuatu yang baik. Itu saja, tidak lebih.

Mengenai Valentine, bukanlah suatu keharusan. Valentine bukanlah suatu ritual ibadah. Gereja Katolik?telah menghapuskan misa Valentine karena dinilai hanya berdasarkan legenda.?Lalu mengenai moral, itu bukan salah suatu acara, atau kegiatan, atau kebiasaan, yang mungkin?tidak terkait?unsur seks atau kemerosotan moral. Para ksatria Inggris memberikan mawar karena menghormati kekasihnya bukan untuk tidur dengannya. Sementara kesempatan untuk berbuat mesum ada 7 hari dalam seminggu. Lalu bagaimana cara menaikkan moral bangsa ini, sehingga tidak perlu memfitnah segala sesuatu sebagai alasan untuk berbuat bejat; entah itu kemiskinan sampai perlu memperkosa atau menjual diri, atau kekayaan hingga bisa sewa berbagai wanita, keingintahuan katanya agar mengerti apa itu seks, dan yang lebih bodoh lagi mengatasnamakan cinta? Mungkin mereka yang mengemban titel "Perwakilan Rakyat" lebih bisa menjawabnya, apakah mereka berdasarkan cinta sebelum menebarkan kondom yang masih ada isinya di sekitaran gedung tempatnya bekerja. Bukan waktu Valentine tapi nyaris setiap hari (artinya beli bukan bandrolan cokelat). Tidak semua orang mengenal "budaya barat" yang dimaksud. Borok?kita hanya kita yang mengenalnya, sampai bagian paling najis sekalipun. Mungkin kita yang kurang berpendidikan. Kurang berani mengambil keputusan untuk maju. Kurang banyak melihat dunia luar sehingga pikiran kita hanya sebesar kotak jendela. Mungkin kita yang kurang berani "berbeda karena benar" sampai tren seks bebas bisa marak, dimulai dari "keperluan" satu orang. Kurang berani mengajar dan menghukum generasi muda mengenai benar dan salah. Karena kalau diberitahu "Ini salah" yang tua takut diprotes "Loh kok dilakukan?"

Inti dari tulisan panjang ini, rayakanlah Valentine dengan caramu sendiri. Bisa jadi dengan cara tidak merayakannya, seperti sahabat saya yang selalu menolak diberi ucapan tahun baru. Atau tahan dirimu dari mengucap fakta yang belum tentu kepastiannya. Nenek saya percaya bahwa akan tumbuh pohon cabe jika menelan bijinya, tetapi tante saya takut pedas, jadi meskipun ingin tahu apa benar akan tumbuh pohon cabe atau tidak, dia tidak pernah menyentuh cabe. Berhati-hati lebih baik daripada usus buntu.

Gambar:?Google

  • view 276