Seperti Anak Kecil

Eve Lynn
Karya Eve Lynn Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Februari 2016
Seperti Anak Kecil

"Mereka mengataiku seperti anak kecil. Tapi entahlah, apapun namanya, aku senang tetap begini. Meski aku dikatai bodoh atau sederet label yang bikin kuping sakit, aku akan tetap seperti ini."

Sepenggal pesan itu dikirimkan oleh sahabat jauh, yang sangat jauh untuk dikatakan dekat, baik secara?emosi maupun jarak. Mike, begitu aku memanggilnya, siang itu mengirimkan chat untuk memastikan apakah aku baik-baik saja setelah melewatkan awal tahun dengan penuh perjuangan. Well, meski tidak dekat secara emosi namun kami tidak terlalu berbeda. Dibesarkan dengan penuh penghakiman. Penuh keraguan setiap mengambil keputusan. Digandeng oleh segelintir orang yang ingin melihat kami menjadi lebih baik. Dan begitulah cara kami untuk tetap bergandengan setelah segelintir orang itu pergi. Percakapan kami selalu?penuh antusiasme, seperti 2 ekor kecebong yang saling?bercerita tentang?kaki belakangnya yang mulai tumbuh dan ekornya menyusut. Selalu ada kata-kata yang memukul kesombongan kami yang masih setengah matang.?

Di suatu siang, seorang ibu menyuruhku masuk rumahnya untuk berbincang. Aku disuruh duduk merapat dengan sedikit paksaan. "Hei, kamu lihat? Itu, sebelahmu, dia bawa laki-laki lagi ke kamarnya". Ya, aku tau siap yang dibicarakan. Seorang janda yang cukup sering menjamu kami di rumahnya. "Oh ya, kenapa memangnya?", aku tidak ingin melanjutkan pembicaraan ini. Sangat-sangat tidak ingin. "Ya menurutmu ngapain kalau ada orang laki dan perempuan dalam satu rumah, gimana sih kamu ini'. Aku mengusap kepala anak di gendongannya. "Jujur kalau mau mengarahkanku ke pikiran yang aku tidak tau kebenarannya, aku tidak berfikir ke sana. Aku yakin beliau tidak bodoh, atau terlalu murah untuk melakukan hal semacam itu". Tanganku ditepis dengan kasar. "Kamu ini,?bego?kah? Masa mikir gitu aja ga bisa, logika lah kamu udah umur berapa pake pura-pura ga ngerti!". Ibu ini marah. "Kalau memang dia begitu, ibu mau apa? Mau melabrak beliau? Mau buka pintunya secara paksa?". "Ya ngga gitu juga, kan kalo di ajaran kami ga pantes kayak gitu!". Aku menghela nafas, "Memangnya di ajaran saya boleh seperti itu? Toh kalaupun dia melakukan itu, kita ngga lihat, Bu. Apa pantas membicarakan hal yang kita ngga tau benar atau ngga nya, nanti kalau jadi fitnah Ibu mau menanggung? Biarlah, yang penting kita ngga membuat gosip. Ngga menyebarkan sesuatu yang bisa jadi fitnah. Nanti kalau ngga begitu, gimana?". Ibu itu cemberut. Di saat yang sama suaminya baru saja datang. Ah bukan, bukannya saling berbalas salam, Ibu ini langsung mengomel pada suaminya, "Yah, mba ini loh kayak anak kecil aja! Di ajak ngobrol dewasa malah sok polos."

Malam harinya aku bertanya pada langit-langit kamarku. Apakah salah bila aku berfikir bahwa wanita yang sering menjamu kami tidak melakukan apa-apa di dalam kamarnya? Menurutku sama sekali bukan hak ku - atau ibu yang tadi siang itu untuk menghakiminya. Bukankah mereka saling bertukar kisah hidup? Ah iya, mungkin ibu itu hanya tidak nyaman dengan laki-laki yang dibawa wanita ini. Lalu aku terbayang saat dia mengatakan aku seperti anak kecil, atau sok polos. Masa sih? Yah terlepas dari ukuran tubuhku yang mini, tapi aku tidak seperti anak kecil *kalut* Masa sih aku seperti anak kecil?

Handphone ku bergetar. Ah, aku melamun. Pasti karena sepenggal kalimat yang merupakan jawaban sekaligus kesimpulan tadi itu. "Mike... Aku percaya masih ada yang baik di dunia ini. Di berbagai lapisan sosial yang pernah ku kenal, masih ada setitik hal yang baik. Bukankah seorang penjahat juga memiliki keluarga yang menunggunya pulang untuk makan bersama?"

"Ya, kupikir begitu. Aku terkejut kamu juga berpikir tentang hal yang sama." Akhirnya aku lega, aku bukan anak kecil! Dan tentu saja aku ngga?bego! "Terlepas dari mereka benar atau salah, aku akan memilih untuk percaya bahwa selalu ada yang baik di balik pahit ?yang kita rasa. Kupikir memang sebuah kehormatan untuk dikatakan bodoh, atau seperti anak kecil, oleh mereka yang hanya jago menilai. Mungkin malah dunia memerlukan orang bego seperti kita, saking mereka sebal melihat kita ngotot bahwa semuanya masih bisa menjadi lebih baik, siapa tau?mereka akan berusaha membuat semuanya benar-benar jadi lebih baik supaya kita diam, haha." Pesan itu diakhiri dengan emoticon bayi. "Lagipula, polos seperti anak kecil dengan bego itu beda kan? Orang yang polos masih bisa diajari sampai mengerti, sementara bego itu sangat bodoh. Apa bedanya dengan mereka yang sekedar menilai dari sampulnya saja? Analoginya nih, kamu dapat hamburger gratis. Tapi karena sudah berfikir tentang banyak sekali lemak dan kalori di situ, kamu ngga mau makan walaupun tergiur, kan bego namanya."

"Emangnya kalau polos pasti makan gitu?", tanyaku. "Ya bukan, orang polos bisa diajari kalau kesempatan ngga datang 2 kali, kan dikasih toh bisa makan juga apalagi model anak kos kayak kita, samber dong... hehe."

Bersamaan dengan itu, wanita yang menjadi bahan pembicaraan seorang ibu denganku muncul di depan pintu. "Mba, ini ada oleh-oleh, kakak saya baru datang sekalian antar anak saya yang kecil ke sini, maklum sudah lama ngga ketemu," sambil menyerahkan sebuah kantung berisi snack lalu memeluk anak perempuannya. Aku berterima kasih dan tersenyum, sambil setengah mengejek diriku sendiri. Yah, mungkin tidak apa-apa menjadi seperti anak kecil. Bisa jadi, yang sebenarnya beda tipis bukan polos dan bego, tapi cerdas dan bego. Hanya saja, dilihat dari sudut pandang siapa, begitu kan? Tetapi kami akan tetap seperti ini.?Siapa tau, suatu saat itu akan meluputkan kami dari kemungkinan muka kami diletakkan sebagai keset di depan pintu orang.

  • view 439