Ayah Dan Waktu Yang Lalu

Eve Lynn
Karya Eve Lynn Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 29 Januari 2016
Ayah Dan Waktu Yang Lalu

Ayah, bisakah kita mengulang semuanya sekali lagi? Tidak sepanjang 22 tahun selama ayah menungguku dewasa. Mungkin hanya beberapa jam saja. Mungkin 1 jam akan cukup. Mungkin kurang. Entahlah, Ayah, lupakan soal cukup atau tidaknya. Beri aku jawaban, bisakah kita memulainya lagi, dengan cara yang berbeda? Dalam durasi yang begitu lama untuk dinikmati, dan begitu singkat untuk dikenang. Lalu kita akan duduk di bawah pohon besar, yang meneduhkan hati kita untuk mulai menghabiskan waktu bersama. Dan kali ini, hanya untuk kali ini saja, ijinkan aku untuk berbicara tanpa batas waktu, atau kuota kata-kata, secerewet saat aku masih berusia 2 tahun. Dengarkan aku, Ayah, duduklah diam dan paksa dirimu betah untuk tidak melontarkan jawaban.

Beri aku waktu lebih banyak untuk mendengarkan Ayah berkata "Ayah menyayangimu, Nak", dekap aku lebih sering dan letakkan tanganmu di kepalaku, supaya aku merasa aku mendapatkan kasih sayangmu. Dan merasa berharga, setidaknya bagi ayahku. Lelaki pertama yang membuat hatiku begitu lembut, yang setiap malam fotonya kuletakkan di bawah bantal, lalu menaikkan doa dengan diiringi air mata, memohon pada Tuhan supaya besok ayahku tidak perlu repot keliling atau keluar kota, aku memohon supaya Tuhan mengirimkan orang hanya untuk mengantar uang. Aku ingin ayahku lebih banyak di rumah, menemani ibuku memasak, atau menonton televisi, atau membawanya ke taman agar tidak bosan di rumah.

Puji aku sedikit lebih sering, Ayah. Aku bangun jauh sebelum tiang listrik di seberang rumah diketuk lima kali, mandi dan menyiapkan sarapanku sendiri, agar ayah dan ibuku tidak terlalu kerepotan membangunkan 3 anak yang lebih betah berlama-lama di kasur dan harus memecahkan ketenangan pagi hanya untuk mandi, dan masih harus menyiapkan berbagai keperluan lainnya: seragam, sarapan, dan terkadang pe-er yang terlupa. Katakan kau percaya kepadaku, Ayah, atau katakan terima kasih, saat aku hanya berani mengatakan lewat sms, bahwa aku bermimpi membangun sebuah villa, villa indah di tepi pantai, atau di atas bukit, atau di manapun yang ayah minta, untuk menghabiskan masa tua ayah dan ibu berdua. Ya, berdua saja. Juga, ayah dan ibu dapat kembali untuk tinggal bersamaku, kapanpun juga.

Karena itu, Ayah...

Jangan bentak aku saat menangis. Aku bukan cengeng, tapi aku merasa takut dan tidak berdaya, sampai aku bisa belajar menyumpah serapah. Jangan menuduhku dengan hal-hal yang tidak pernah terlintas di benakku, itu membuatku tidak bisa percaya orang lain. Jangan mengataiku dengan istilah-istilah yang tidak jauh dari sampah, aku tau ayah marah tapi suruh aku minta maaf maka aku akan lebih mampu melakukannya daripada melupakan nada tinggi yang masuk ke telingaku.

Suruh aku belajar dan berusaha lebih giat, Ayah, buka raporku dan katakan sesuatu. Mungkin nilainya tidak bagus tapi aku bermain bersih. Aku tidak turut membeli jawaban saat warga sekelas menyepakatinya, dan tidak menoleh untuk meminta jawaban cuma-cuma, bukankah itu yang kau ajarkan padaku, Ayah? Saat Ayah keluar dari perusahaan dengan alasan bahwa atasan Ayah "main kotor" dalam pekerjaannya? Selamanya ini akan menjadi kebangganku sendiri meski bukan sebuah prestasi.

Wejangi aku lebih banyak, Ayah. Beritahu aku untuk lebih gigih dalam menjalani hidup, tekun berjuang dan pantang menyerah. Berdirilah, Ayah, dan meminta maaflah dengan gagah. Jangan menangis agar aku tidak menjadi cengeng, bukankah itu yang selalu Ayah minta? Ceritakan tentang laki-laki yang pantas untuk memiliki putrimu ini, karena pasti Ayah kan yang paling mengenalku dari sisi pria? Ajari dia lebih banyak, minta dia untuk lebih sabar dan lebih kuat daripada anak gadismu yang sering mengeluh ini. Dengan ini aku bisa melupakan segala sesuatu yang telah kita lewati, sungguh, Ayah, aku pasti telah mengenal surga pertama di bumi. Lalu setelah itu, beritahu aku untuk datang lebih awal di hari kepergianmu, saat nyawa berpisah dari raga, suruh aku datang jauh lebih awal dan katakan segala sesuatu yang belum sempat Ayah utarakan padaku.

Tidak, Ayah, satu jam tidak mungkin cukup. Tidak akan cukup untuk mengosongi hati yang sudah terisi berbagai warna ini. Dan waktu tidak akan kembali. Sudah beberapa waktu sejak terakhir ayah datang ke mimpiku. Nanti bila ayah mampir lagi, bolehkah aku meminta sesuatu lagi? Ah iya, ayah sudah pergi... Mungkin lebih baik bagiku untuk menaruh iri kepada masa lalu, saat ayahku bisa tersenyum untuk menahan marah, tidak sabar menunggu nyanyianku sepanjang perjalanan menuju sekolah, atau menyelimutiku saat aku terlelap sebelum waktunya. Ayah telah pergi, dan kurang lebihnya aku harus rela...

  • view 281