Intuisi

eva farahdiba
Karya eva farahdiba Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 23 Februari 2016
Intuisi

Intuisi ini berkata.. Akan ada yang berbeda. Bahkan sejak hari pertama. Di ruangan tak berpembatas itu akhirnya aku setengah menyimpulkan sesuatu. Aku terbiasa pergi ke dunia khayal tanpa pamit, bahkan ketika di sekitarku banyak teman yang sehrusnya lebih ku acuhkan, karena mereka itu nyata. Tidak seperti intuisi-intuisi yang kerap kali aku ciptakan sendiri.

Entah mengapa hari itu aku mudah sekali berfikiran yang tidak-tidak. Dari sekali berjabat tangan, mata ini menjelajah jauh. Aku melihat dia di msa depan, walau entah akhirnya akan seperti apa. Apa ini sebuah kelainan? Aku bisa merasakan masa depan, walau tak tahu jelas akan seperti apa.

Wajah itu menunduk, dan rasa-rasanya orang dengan gelagat seperti itu akan mencari pola-pola lantai untuk ia telusuri dengan jari-jari tangannya karena tak tahu harus melakukan apa. Apa asumsiku ini benar? Tentu saja iya, walaupun masih ada kemungkinan untuk meleset sedikit. Lalu aku harus menyimpulkan apa lagi untuk seorang yang sekedar perkara berjabat tanganpun harus aku yang memulai.

Esoknya? Duhai, intuisi ini benar-benar menyita perhatianku. Yang ada di kepalaku sekarang hanyalah rasa ingin tahu yang menyala-nyala. Keinginan untuk mencari tahu sosok yang selalu terkukung oleh stagnasi itu. Siapa dia? Bagaimana dia? Tapi kenapa pula aku begitu tertarik untuk mengetahui kehidupan pribadinya. Intuisi ini kuat sekali. Aku benar-benar melihat dia di masa depan, tapi bagaimana jadinya akupun tidak tahu.

Ah, ini tidak boleh berlangsung lama. Rasanya tidak etis ingin tahu kehidupan pribadi seseorang apalagi orang yang baru dikenal. Anggap saja intuisi ini sebuah penyakit, karena akupun tak bisa memastikan akan terjadi apa di masa depan.

Hari berganti hari, penyakitku yang sempat kumat mulai sembuh. Aku tak lagi ingin tahu tentang orang itu, tidak lagi menerka-nerka bagaimana ia di masa depan. Karena sekarang kita berteman baik, sangat baik. Dia sosok yang menyenangkan, perlahan dia mulai berontak dari keadaan stagnan yang membelitnya. Saat aku tanya mengapa ia memutuskan untuk berubah, ia menjawab ?Sebenarnya inilah saya, kemarin-kemarin bukan saya.? ?Loh, kenapa begitu?? Aku balik bertanya, tak mengerti. ?Aku membaca keadaan terlebih dahulu, baru menentukan akan menjadi apa? Jawabnya.

Aku kecolongan. Selama ini akulah yang dikenal sebagai sosok yang tak mudah ditebak, misterius. Tapi, predikat itu sekarang dia yang lebih pantas menyandangnya. Jadi apa arti intuisi-intuisiku selama ini? Ah, rasanya malas aku mengungkapnya, toh nyatanya dia lebih hebat dari aku dalam menyembunyikan sesuatu.

Waktu bergulir. menyiratkan banyak kisah, termasuk kisahnya yang telah berubah perilaku setelah ia membaca keadaan. Akupun perlahan lupa dengan intuisi-intuisi itu. Karena kali ini aku konsentrasi pada hal lain, membuat intuisi-intuisi tersebut terabaikan. Biarlah, kesimpulannya ia teman dekat yang sangat baik. Selalu membawa keceriaan dari hari ke hari.

Suatu hari ia datang padaku, membawa satu kalimat simbolisasi dari bertambahnya usiaku hari ini. Bagaimana ia bisa tahu kalau hari ini hari ulang tahunku? Setelah sekian lamanya aku melupakan ritual tahunan itu. ?Tidak ada yang berulang dan tidak ada yang bertambah. Jadi kamu tidak perlu bilang selamat ulang tahun.? Aku menyeringai membuat ia bingung.?Kenapa? Kamu tidak suka ulang tahun?? Ia bertanya, penasaran. ?Bukan begitu. Aku memang terbiasa untuk tidak mengistimewakan sesuatu. Buatku, ini hanya hari Senin, tidak kurang dan tidak lebih.? Jelasku mantap, membuatnya semakin bingung. Yes!! aku berhasil menjadi sosok misterius lagi setelah sekian lama predikat itu ia curi dariku. Namun hari ini tak seperti biasa, ia seharian berada di tempatku. Biasanya hari libur begini ia pergi dengan perempuan pilihan hatinya.

?Aku dan Alya sudah putus?? Ujarnya datar. ?Hah! Sejak kapan?? Kini giliran aku yang terkejut, bingung. ?Sejak hari ini.? Kembali ia menjawab datar. Aku tidak melihat raut penyesalan barang sedikit dari mimik wajahnya. ?Kenapa?? Aku bertanya lagi, penasaran. Walau aku tak pernah bertemu Alya secara langsung, dari cerita-ceritanya aku bisa menyimpulkan kalau Alya perempuan yang baik, tapi kenapa ia sampai hati meninggalkannya? ?Aku tidak bisa menjanjikan apa-apa padanya. Jadi untuk apa dipertahankan.? Jawaban yang sama sekali tidak membuatku puas hati. Aku mencoba mencari-cari jawaban dari raut wajahnya, dari kernyitan dahinya, dan dari fluktuasi gerak alisnya. Nihil, aku tidak menemukan apa-apa selain gesturnya yang banyak berubah. Dulu, saat pertama bertemu, ia tak banyak tingkah dan cenderung stagnan. Kenapa orang yang satu ini begitu mudahnya berubah?

?Pokoknya dia lebih cantik, lebih pintar, dan lebih segala-galanya dari kamu.? Ia meledekku persis ketika aku penasaran dengan sosok Alya yang hampir setiap hari ia ceritakan. Aku sempat melihat fotonya, dan aku rasa ia benar. Alya sosok yang sempurna. Sekarang dengan mudahnya ia melepaskan kesempurnaan itu, benar-benar absurd.

Waktu beranjak senja, dan ia masih betah berkutat dengan komputer jadulku sambil sesekali mengajakku berdialog. Mengklik sana sini tidak jelas. Membuka file-fileku yang tak rapi ku simpan. Iseng-iseng membacanya. Jiwanya seperti melayang, tak berada di tempat. Tapi aku urung bertanya. Karena setiap pertanyaan yang aku lontarkan, akan memunculkan pertanyaan-pertanyaan baru di benakku. Jadi rasa-rasanya aku malas bertanya-tanya lagi. Ah, dia memang merepotkan.

?May, temani aku makan yuk.? Dalam situasinya yang boleh dibilang berkabung, ia bahkan masih ingat makan. Orang aneh, absurd, susah di tebak. Sial, predikat itu kembali padanya. ?Kenapa melamun. Ayo kita makan.? Ia membuyarkan lamunanku. ?Karena kamu ulang tahun jadi kamu yang traktir ya.? ?Sudah ku bilang ini cuma hari senin. Tidak ada yang berulang, dan tidak ada yang bertambah.? Aku berkata kesal, dan ia hanya tersenyum simpul. Bagaimana bisa kita dikatakan berteman baik, kalau kenyataannya aku masih sulit ia tebak, dan ia masih sulit untuk aku tebak.

Tapi tunggu dulu. Apa ini ada hubungannya dengan intuisi-intuisi itu? Ah, kenapa aku jadi memikirkannya lagi. Bukannya aku sudah lama melupakannya? Baiklah, tidak ada yang perlu difikirkan. Tidak perlu berkutat hebat bertanya-tanya ada apa dengan dia di masa depan. Dia ya dia. Dia begini adanya, sudah cukup.

?

  • view 132