Sebagian yang Tertinggal

eva farahdiba
Karya eva farahdiba Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Februari 2016
Sebagian yang Tertinggal

Di pintu ini, aku sudah siap dengan koper-koperku. Ini terlalu larut untukku memutuskan pergi. Namun, apa lagi yang pantas di tunggu jika semua yang terjadi memaksaku untuk tidak lagi bertahan.

"Kamu yakin May." Tanya Winda. Aku mengangguk mantap. Siapapun tak kan ada yang tahu, bahwasanya apa yang terjadi di hati selalu berbeda. Begitupun dengan hatiku saat ini. Tapi biarlah, aku memang tidak akan bisa mendesak sebagian hati untuk pergi bersamaku malam ini. Tapi aku masih memiliki sebagian yang lain bukan? Dengan ini lah aku akan hidup. Dengan ketidaknormalan, aku sungguh tidak menemukan kata yang lebih layak lagi.

Hidup dengan sebagian hati tidak akan jauh berbeda jika dibandingkan hidup dengan sebelah tangan, sebelah kaki, ataupun sebelah mata. Siklus hidup akan terasa lambat sekali berjalan, jauh lebih lambat dari orang-orang yang mempergunakan kedua tangan, mata, ataupun kaki. Tidak normal bukan? dan aku rasa 'ketidaknormalan' adalah hiperbolik yang paling sopan untuk mendeskripsikan keadaanku saat ini dan nanti setelah aku pergi dari tempat ini.

"Kamu tidak memberitahu dia lebih dulu? Ya walau bagaimanpun dia adalah satu-satunya alasan dari setiap hal yang kamu lakukan." Aku merenungkan kata-kata Winda. Dia memang harus tahu tentang kemenyerahan ini, tentang pilihanku untuk menjalani hidup dengan ketidaknormalan. Jika sudah begini, siapa yang akan disalahkan. Aku berlebihan bermimpi tentangnya, sementara dia pun berhak menentukan keberlanjutan hidupnya.

Sebenarnya selama ini ia mengartikanku apa? Bukankah dia tak pernah bicara? Ia hanya berkata dari keseolah-olahan yang ku simpulkan sendiri dari perubahanya, dan kesimpulan itu berujung pada pilihanku malam ini. Malam dimana aku memilih untuk melanjutkan hidup dengan ketidaknormalan. Malam dimana aku akan meninggalkan sebagian hatiku disini, karena ia tak mau dipaksa untuk ku ajak pergi.

Angin dingin menampar-nampar jendela. Membuatnya tak punya pendirian, menutup membuka, menutup lagi, membuka lagi. Namun perilaku jendela yang tergoyahkan angin malam ini sama sekali tak merubah apapun yang terjadi dalam hati, begitupun dengan keputusanku untuk pergi malam ini.

?

Travel yang aku pesan lama sekali datangnya. H min sekian dari tahun baru memang selalu begini, travel penuh dan jalanan macet hingga aku harus menunggu berjam-jam seperti ini. Lalu bagaimana kalau dia keburu datang? Apa yang akan aku katakan padanya perihal kepergianku malam ini. "Ah, tapi apa ia akan peduli."

Dari dekat aku melihat Winda sudah mulai terkantuk-kantuk. posisi duduknya oleng kemana-mana. Ia nampak lelah seharian membantuku mempersiapkan kepergian ini. Winda teman sekaligus tetangga yang baik. Padahal kami belum lama bertetangga. Ini karena aku terlalu terbuka menceritakan dia pada Winda.

"Win, lebih baik kamu pulang. kelihatannya kamu sudah lelah." "Tidak May, aku akan menemanimu sampai travelnya datang. " "Percayalah padaku Win, ini bukan terakhir kalinya kita akan bertemu. Jadi pulanglah." Aku mencoba membujuknya lagi. Kali ini berhasil. Setelah mengucapkan kata selamat jalan, ia pun pulang ke rumah kontrakanya, mengunci pintu dengan sempurna. Winda memang selalu begitu.

Tinggallah aku sendiri di temaram ini. Mencoba mereka ulang banyak hal. Terlalu banyak sejarah yang terukir, namun lebih banyak lagi kepastian-kepastian yang mengambang, tidak jelas. Waktu menunjukkan pukul 22.30. Tapi travel yang ku pesan tak juga datang. Yang datang malah yang lain. Takdir benar-benar memberinya kesempatan bertemu denganku untuk terakhir kalinya sebelum aku pergi.

"Kamu mau pergi kemana?" "Aku mau pulang." "Kembali lagi kan?" Aku menggeleng. Ada kediaman beberapa detik setelah kalimat terakhirku itu mencuat. Tapi ini rasanya lama sekali, berpuluh-puluh jam. "Ayo bicaralah. Kau terlalu lama diam. Terlalu sering berpura-pura. Terlalu tidak peka." Gumamku.

"Kenapa? Kamu tidak betah disini?" Lagi-lagi aku menggeleng. Kini giliran aku yang banyak diam, dan dia yang banyak bicara. Ternyata balas dendam itu menyenangkan juga.

"May." Kali ini ia menatapku tajam. Tatapan yang sulit untuk ku artikan. Tapi, jika aku boleh berasumsi, tatapan itu seperti sebuah pengharapan, keinginan agar aku tidak pergi. Boleh kan sesekali aku gede rasa?

"Kamu tahu kan, aku tidak suka sendirian, dan selama ini aku merasa sendirian." "Siapa bilang. Ada aku disini, kamu tidak sendirian." Ia menjawab cepat. Baru kali ini aku merasa ia cepat menanggapiku. Ia tepat waktu untukku. Ia menatapku lebih tajam dari sebelumnya.

"Jangan pergi May." Ia berusaha membujukku. Namun aku masih diam, karena kali ini aku memang harus diam, bukan karena aku ingin membalas dendam, tapi... Sungguh aku menikmati ia yang tak lagi diam, sungguh aku tak ingin melewatkan satu hurufpun yang keluar dari pita suaranya untuk tidak alpa di telingaku.

Goresan-goresan hitam semakin memenuhi malam, namun kali ini tak membuat wajah legamnya kabur termakan malam. Wajahnya penuh binar harap. Ya Tuhan, apa itu artinya ia telah kembali setelah sekian lama ia menghindariku?

Saat ini mungkin saja aku mengembalikan kata-katanya malam itu. Bertanya apakah ia nyaman hanya berdua denganku seperti ini. Tapi sungguh, aku tidak akan pernah melakukan itu, membalas dendam pada seseorang yang ku titipkan sebagian hatiku padanya.

Dari kejauhan, nampak sebuah kendaraan tengah merapat di dekat warung mie biasa tempat aku dan dia nongkrong. Sopirnya keluar, nampaknya menanyakan sebuah alamat pada penjual mie disana. Apa mungkin itu travel yang aku pesan?

"Aku harus pergi. Travelku sudah datang." "Jadi kamu benar-benar akan pergi?" Ia menatapku lagi. Kali ini dengan sedikit berembun di pelupuk mata. Wajah legamnya terlihat memanas, dan.... Ah, aku tidak mau menatapnya lagi. Menatapnya hanya akan membuatku kehilangan pendirian, hanya akan membuatku plinplan. Sekarang aku harus harus pergi, aku tak mungkin membiarkan sopir travel itu mengumpat-ngumpat dalam hati jika harus menungguku terlalu lama setelah berjam-jam ia terjebak macet.

"May, kamu akan kembali kan?" Lagi-lagi ia mencoba menahanku. Aku berfikir sejenak. Apa aku harus mengurungkan niatku? Apa ia benar-benar sudah kembali padaku, menjadi seseorang yang selama ini aku kenal? Apa ia tidak akan berubah lagi? Bukankah omongan laki-laki itu sesuatu yang hiperbolik, selalu berlebih dari kenyataannya. Tapi.... Ah, aku butuh waktu. Sungguh butuh waktu. "May..." Kalimatnya menggantung. "Kamu akan kembali kan?" "Aku tidak tahu..."

?