Agustus di Bulan Juli

eva farahdiba
Karya eva farahdiba Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 05 Februari 2016
Agustus di Bulan Juli

Masih dengan aku dan malamku. Setelah beberapa hal mengecewakan yang terjadi siang tadi, aku masih berfikir atas apa yang sebenarnya terjadi. Apa benar-benar kejadian yang tak di inginkan? Atau justru ada unsur kesengajaan yang membumbuinya. Ok, mungkin hal itu bukanlah topik utama yang aku paparkan di sini. Hal itu hanyalah sebagian kecil dari alur hidup yang selalu terjadi berulang-ulang tanpa ku tahu apa sebenarnya yang tersembunyi di belakangnya.?


Hari ini hari Sabtu, tepat 23 hari dari 19 tahun yang aku lewati. Seperti biasa, aku hanya menjelajah memori semampuku. Terkadang berlari ke masa depan, dan lebih sering merangkak ke masa lalu. Apalagi dengan keadaanku sekarang yang belum sepenuhnya pulih dari sakit yang kurang lebih seminggu aku derita. Bukan suatu yang berbahaya memang, namun aku hanya ingin memaparkan seberapa dalam memori beberapa bulan lalu menguasai akal sehatku dalam kondisi yang boleh di katakan jauh dari keteguhan raga yang baik.?


Agustus lagi. Selalu Agustus tahun lalu yang memaksaku kembali mengingat sosok itu. Lelah memang, namun terkadang ku merasa bahagia, karena aku tak harus beranjak keluar memandang langit. Untuk apa? Jika bintang itu memang berada di hatiku dan aku bisa merasakan Agustus setiap saat. Lagipula, udara malam ini terlalu dingin jika ku harus beranjak ke luar dengan peluang bintang itu ada hanya beberapa persen.?


Malam ini aku lebih memilih duduk di depan komputer yang cd mother boardnya belum berhasil aku temukan hingga tak menghasilkan suara sedikitpun. Mungkin hanya bunyi sendok beradu dengan piring yang menemaniku saat ini, sambil sesekali menyuapkan isinya ke mulutku yang masih terasa pahit. Maklum, di kota-kota besar seperti halnya Bandung, suara hiruk pikuk jangkrik sudah tergantikan oleh suara bising kendaraan yang menurutku tak syahdu seperti ketika sepasang jangkrik bersahut-sahutan saling membagi kabar gembira di siang hari.?


Ku terima. Walaupun tak sampai 15 menit suara sendok dan piring berhenti menemani kesendirianku. Kadang ketika ku bosan dengan winamp yang ber volume nol di komputerku, ku cek layar di handphoneku. Namun, tak ada suatu pemberitahuan. Yang ada hanya gambar wallpaper spongebob yang sepertinya tersenyum ke arahku.?


Aku mulai bosan. Lantas ku gerakan joystick handphoneku yang juga semakin sulit di ajak berkompromi. Ku buka facebook. Ah dia lagi. Aku memang butuh dia, tapi apa tak lebih baik jika saat ku buka facebook ku, yang pertama ada dan yang pertama ku lihat adalah secarik pesan dari sosok Agustus tahun laluku. Ku rasa itu lebih bisa membuat ku bahagia. Tapi entahlah, karena malam ini aku melihat dia begitu kagum akan sesuatu yang tidak ku ketahui.
Ku putuskan untuk kembali ke Agustus. Melihat sosokku yang pergi meninggalkan gubug yang menjadi tempat di mana aku bisa berhembus untuk pertama kali. Berat memang, tapi ketidaksejalanan hati dan akal sehat yang sempat aku alami di sana memaksaku untuk tetap pada pendirianku, hidup mandiri dan berusaha mengubur dalam-dalam apa yang menjadikan hati dan akal sehatku tak berjalan berdampingan. Dan berhasil. Sosoknya hadir menggantikan. Walaupun semakin hari hal itu semakin menambah problematika yang ada.?


Begitulah. Tak seistimewa yang ku alami memang. Ketika dunia memanjakanku akan harapan atas banyak persamaan. Namun ada satu yang berbeda, yakni mimpi. Mimpinya yang ada di hulu, sementara aku berada di hilir, dan tak mungkin dengan posisinya yang lebih tinggi dariku, aku bisa mengalirkan mimpi ke arahnya.?


Sudahlah, mungkin memang semua itu cukup menghiburku. Bagaimana tidak, sampai Agustus tahun ini pun aku masih berada pada posisi di mana aku hanya bisa memandang langit sembari sesekali berfikir bahwa itu adalah suatu hal yang nilai kerasionalannya nol, namun tak pernah ada niat untuk mengubahnya menjadi sepuluh, seratus, atau mungkin lebih dari itu. Sebab sesuatu yang nol lebih memiliki tingkat konsistensi akan kelipatannya. Aku percaya itu, aku percaya akan rencana kehidupan yang terbingkai dalam lipatan kertas.?

?

  • view 142