Pintu yang Terbuka

eva farahdiba
Karya eva farahdiba Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 03 Februari 2016
Pintu yang Terbuka

Asap mengepul serupa kabut, menyembul dari knalpot yang sekian detik lalu masih menyisakan dia di hadapanku. Walau begitu, aku tak serta merta berlalu dari halaman rumah kontrakanku. Aku suka berdiam diri, mengingat kembali punggung itu beberapa detik sebelum pergi. Lalu wajahnya berbalik mengucapkan sepotong salam yang ku jawab kaku. Wajah legam yang sebenarnya tak jelas terlihat karena berpadu dengan malam yang juga gelap.
Puluhan kaki menghentak, menerabas kelelahan akibat kejamnya rutinitas, dan aku berada asing diantara hentakan-hentakan itu. Pada dasarnya aku dan puluhan hentakan kaki itu sama, harus merelakan waktu-waktu berharga terpangkas rutinitas, lalu kembali ke rumah larut malam saat semua hal sudah tidak menyenangkan untuk dilakukan. Bedanya, mereka lebih mantap untuk menutup pintu saat merasa lelah karena tak ada lagi yang perlu di tunggu. Sementara aku tidak.
?Sedang apa di luar? Tidak masuk ke dalam rumah?? Seseorang menyapaku, membuyarkan imagiku. ?Eh, iya mbak. Saya baru mau masuk ke dalam rumah.? Jawabku sedikit gugup. Orang itu baru beberapa hari mengontrak di samping rumah kontrakanku dan tidak tahu kebiasaan tak lazimku sepulang dari rutinitas panjang ini.
Aku dan orang itu masuk ke rumah kontrakan masing-masing. Dalam hitungan 2, aku mendengar pintu kontrakan tetangga baruku sempurna di kunci. Sementara pintuku masih terbuka. Ya, ini ritualku setahun terakhir. Membiarkan pintu ini terbuka, lalu sekitar pukul 23.00? ia akan kembali untuk menepati janjinya.
?May, kita dekat sekali ya. Seperti??; ?Seperti apa?? Tanyaku penasaran. ?"Seperti?.? Aku menunggu kalimat itu sempurna menggelincir dari pita suaranya dengan hati membuncah. "Seperti kakak adik.? Jawabnya sedikit ragu. ?Buncahan-buncahan itu meluluh, menggelincir dari atas air terjun ke muara. Menyisakan mimik wajahku yang tertegun, berusaha merangkai kalimat-kalimat tadi kembali untuk akhirnya akan ku buang dan tak akan ku ingat lagi.
Laki-laki memang begitu, tidak peka. Bukankah selama ini banyak sekali malam yang tidak kita habiskan seorang diri? Bukankah sudah terlalu banyak dialog yang kita goreskan? Bahkan sudah tidak tepat lagi jika disebut sebagai dialog. Akan lebih tepat disebut sebagai sinetron striping yang episodenya panjang berlarut-larut. Tapi itu semua baginya belum cukup menjadi alasan untuk menarik konklusi yang istimewa.
Tapi tunggu dulu. Apa tadi ia bilang? ?Adik?.. Rupanya aku salah paham. 'Adik? adalah sebuah predikat yang tak mengenal kata 'bekas?. Adik adalah sebuah ikatan darah yang tak seorangpun bisa membantah dan memutuskannya. Oh, alangkah istimewanya aku ia anggap sebagai seorang adik. Meskipun sebenarnya aku lebih bahagia lagi jika?? ?Ah, sudahlah.?
Bulir-bulir hangat mengalir di pipiku. Ini sudah larut sekali, hampir pukul 02.00 dinihari, dan pintuku masih terbuka. Aroma dingin semakin menyengat, menggelitik sendi-sendi yang mulai kaku karena beku. Warung mie tempat biasa kita nongkrong pun terlihat sudah tutup. Rupanya ini memang sudah terlalu malam. Tapi aku tak akan menutup pintuku? sebelum ia sampai.
Sebulan terakhir, ia memang jarang singgah di pintuku. Bahkan hampir tak pernah. Lembur lah, ini lah, itu lah. Aku tak habis fikir dengan orang-orang yang pasrah dengan rutinitas yang menelan kebebasan mereka. Bukankah waktu 24 jam tersedia untuk melakukan banyak hal? Tapi hampir semua orang memilih untuk melakukan satu hal saja dalam waktu yang jika dikonversikan ke dalam ukuran milisekon, nominalnya akan sulit diucapkan.
?May, belum tidur?? Seseorang menghampiri pintuku. ?Belum Jos. Mana yang lain?? Tanyaku. ?Masih di kantor.?; ?Lebih baik kamu tidur, tutup pintunya. Dia tidak akan pulang.? Jos berlalu meninggalkanku. Selama ini, Jos tak pernah peduli padaku. Baru ketika melihat pintuku terlalu lama terbuka, ia seperti merasa kasihan melihatku selalu menunggu yang tak pasti datang.
Lantas, sekarang apa yang aku tunggu? Aku tidak mungkin membuka pintu sampai pagi hari tiba. Malam ini terlalu beku untukku menunggu, terlalu konyol untukku tetap membuka pintu.
Malam berikutnya, aku tak melihat siluet punggungnya berlalu meninggalkan asap knalpot yang mengepul memerihkan mata. aku tak melihat wajah legamnya yang remang berpadu dengan malam mengucapkan salam kearahku, dan aku pun tak menjawab apa-apa. Singkatnya, ia tak mengantarku pulang hari ini. Itu artinya, malam ini ia akan pulang cepat.
Ku buka pintuku sedikit lebar dari biasanya. Dingin, tapi sepertinya aku mulai terbiasa dengan kebekuan ini. Biasanya ia tak langsung menyambar pintu kontrakannya, lantas mengurung diri di dalamnya. Tapi, ia pasti datang padaku, singgah di pintuku berlama-lama, kemudian dialog-dialog itu bergulir membentuk episode-episode panjang yang siap di tayangkan di layar kaca. Rasanya jika itu terjadi, kita berdua pasti sudah kaya raya dan tidak perlu mengontrak karena bisa membeli rumah sendiri.
Jadi bayangkanlah, betapa dekat hubungan kita. Namun sayangnya, ia mengkamuflasekannya dalam predikat 'kakak adik?. Tak ingin menyadari bahwa semua hal ini terlalu berlebihan dengan predikat itu.
Hampir satu jam aku menunggu di dekat pintu yang terbuka. Aku kerahkan seluruh energi mataku untuk menangkap bayangannya. Menyelidik bak detektif. Semoga dari radius sekian meter aku dapat mendeteksi kedatangannya lebih awal. Namun nyatanya tidak. Terlalu banyak melamun membuat informasi dari mata terlambat di transfer ke otak, hingga akupun terlambat menyadari bahwa kini kepulan asap itu tengah merapat di depan rumah kontrakannya.
Aku beringsut masuk, menghilang ke belakang pintu yang masih terbuka. Manusia kadang aneh, jika sesuatu tak ada di cari, namun jika ada malah sembunyi. Tapi bukan itu alasanku. Jika ia peka, ia akan mengerti dengan hanya aku membuka pintuku sedikit lebih lebar. Sayangnya, laki-laki memang tidak pernah peka.
Aku melihat sekian meter di sebrang rumah kontrakanku ia mengeluarkan sesuatu berbahan kuningan dari saku celananya. Ini yang aku benci, ini yang terjadi sebulan terakhir. Ia tak singgah di pintuku, dan lebih memilih berada di rumah kontrakannya semalaman tanpa semua kebiasaan kita. Lalu aku biasanya akan membiarkan keadaan itu berlangsung sampai pagi harinya. Berkutat dengan asumsi-asumsi negatifku sendiri. Membiarkan kedua pintu kita terbuka tanpa ada yang mengalah masuk ke salah satunya. Namun, entah setan apa yang merasuki fikiranku malam ini. Dengan spontan aku beranjak meninggalkan pintuku yang masih terbuka dan berlari menuju pintunya. Aku mengulang kebiasaannya mengucap salam tiap kali wajah legamnya menoleh kearahku sebelum ia beranjak pergi.
?Tumben kamu kesini May?? Tanya Jos. ?Nggak bisa tidur Jos.? Sepertinya aku salah menjawab. Jos tahu persis kalau setiap malam aku memang tidak bisa tidur karena selalu kedinginan dengan pintu yang terbuka.
Tempat ini terasa senyap. Jos sibuk dengan laptopnya. Sementara dia?..
Aku mohon jangan katakan bahwa orang yang persis duduk di depanku ini sedang serius membaca buku. Aku sangat tahu, ia tidak suka membaca buku. Dan apa yang ku lihat sekarang? Ia lebih memilih membaca buku itu daripada menyapaku, jadi kesimpulannya ia lebih tidak menyukai kehadiranku daripada membaca buku. Astaga?
Jos cukup mengerti. Ia meninggalkan kami berdua di tempat itu. Dengan dia yang masih lebih memilih buku itu, dan aku yang masih menunggu. Mengapa perempuan hanya di takdirkan menunggu? Dalam keadaan ini aku ingin akulah yang memutuskan, aku ingin akulah yang memulai.
?Kita hanya berdua di tempat ini. Apa kamu merasa nyaman?? Kalimat tanya itu begitu saja ia muntahkan, dan lazimnya jika kita melihat seseorang muntah, kita akan merasa sesuatu menohok ulu hati, mual, dan kitapun ingin muntah. Seperti aku sekarang yang rasanya ingin memaki-makinya agar aku tak mual lagi. Tapi aku urungkan. ?Itu gunanya kita membuka pintu. Jadi untuk apa merasa tidak nyaman?? Aku membantah. ?Memang?? Kalimatnya menggantung. Matanya tetap tak beralih dari buku yang ia baca.
Tanpa fikir panjang aku beranjak dari kediamanku. ?Lebih baik aku pergi. Sepertinya kamu yang merasa tidak nyaman.? Aku berlalu dari hadapannya yang masih lebih memilih buku yang tidak ia sukai ketimbang aku. Berlari menuju pintuku dengan mata basah. Aku tak tahu mengapa, yang pasti semuanya telah berubah, dan bodohnya aku masih saja membuka pintuku semalaman hingga pagi tiba, hingga malam menjelang lagi, hingga kepulan asap tak hanya memerihkan mata namun juga memerihkan hati. Pintu itu masih saja terbuka hingga entah kapan.

  • view 187