duka nenek indigo

euis siti komariah
Karya euis siti komariah Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 12 April 2018
duka nenek indigo

DUKA NENEK INDIGO

By: Euis Siti Komariah

 

 

Aku sekeluarga akan berkunjung ke rumah nenek ku yang ada di Banyuwangi, Jawa Timur.  Orang Sunda bilang, tidak boleh bepergian hari Sabtu. Katanya sih, pamali.  Tapi aku tidak terlalu percaya sama mitos-mitos zaman dulu seperti itu. Takutnya  nanti jadi tahayul.  Jadinya aku sekeluarga fixs berangkat hari ini.

Semua kebutuhan aku, ayah, ibu dan kedua adik ku yaitu Chiko dan Chika selama satu pekan ke depan telah siap. Rasanya sudah tak sabar untuk bertemu dengan nenek dan keluargaku yang ada di sana.  Dan sekarang waktunya untuk berangkat.

            Aku Chinta. Mahasiswa UNPAD semester empat. Jika kalian menulis namaku jangan lupa pakai–H, C-H-I-N-T-A bukan Cinta. Aku suka kesal sekali sama orang yang salah  jika menulis namaku. Tapi jika kalian mau memanggil aku panggil saja Cinta. Tak perlu pakai –H. Karna  jika pakai–H itu seperti mengejekku.

            Umurku 20 tahun dan aku singgle. Banyak yang bilang namaku itu alay bin lebay dan banyak aturan. Tapi bagiku tak masalah dan aku bersyukur bisa lahir ke bumi dengan selamat karena aku bisa menikmati indahnya panorama hidup ini.

            Sebenarnya nama Chinta itu sebuah keberuntungan bagiku. Karena jika ada yang bilang ‘aku cinta kamu’, dan aku tidak menyukainya pasti kujawab ‘iya memang namaku Chinta’. Dan perlu kalian ketahui, meskipun namaku Chinta tapi aku sangat sulit untuk jatuh cinta.

            Kalian mau tahu? Kenapa aku sulit jatuh hati pada seorang lelaki? Karena aku dihantui masa lalu yang menyakitkan dan trauma berkepanjang. Mulai saat itu aku hijrah dan memutuskan untuk tak ada lagi urusan hati dengan seorang lelaki.

            Ayahku orang Jawa Timur, ibuku orang Jakarta, dan aku lahir di Bandung.  Berhubung kantor ayah di Bandung jadi kami sekeluarga tinggal di Bandung.  Kebetulan selama satu pekan ke depan  aku dan adik ku libur.  Jadi kami sekeluarga ingin menghabiskan waktu liburan kami di rumah nenek.

            Sudah lama sekali aku tidak berkunjung ke rumah nenek. Terakhir aku berkunjung ke rumah nya ketika aku umur 7 tahun. Dan aku sudah lupa rumah nya seperti apa. Cuman yang aku ingat tentang rumahnya itu,  MENYERAMKAN!!!

            Mobil Terios silver kami melaju dengan kecepatan maksimal.  Aku terus bermunajat dan mengingat Allah semoga kami semua selamat sampai tujuan. Dan semoga tidak terjebak macet di jalan. Perlahan tapi pasti, kota demi kota kami lewati. Setiap sudut kota memiliki ciri khas tersendiri. Tak ada plagiat dan tak ada yang berkhianat karena mereka tau bagaimana cara hidup bermasyarakat.  Subhanallah Maha Suci Allah yang telah menciptakan jagad raya dan seisinya.

“Ibu kita udah sampai mana?” tanya Chiko.

“Cilacap, sayang...” jawab ibu.

“Masih lama, ya Bu?” Chiko bertanya lagi.

“Iya Sayang. Yang sabar, ya..” terang ibu.

“Dede udah bosen ibu. Pegel- pegel.” Chika merengek

“Nanti kita istirahat di Masjid Agung Yogyakarta,” jawab ayah, “sekalian beli oleh- oleh.”

“Asyik.... hore.... hore....”  respon kedua adikku kegirangan.

“Alhamdulillah, Aa, Dede!” tegasku sambil melotot.

“Alhamdulillah...” jawab mereka serempak.

“Ayo anak- anak kita istirahat dulu aja.” Kata ayah ku.

“Ayo ayah..yeee.. yeee..” kedua adiku teriak senang.

“Ayah tunggu Kakak mau ke toilet dulu,” kataku sambil teriak “ jangan ninggalin yah..”

“Ayah tunggu di taman, Kak!.” Teriak ayah.

Kita lupakan keseruan adik-adikku.  Aku ingin menyampaikan sesuatu pada kalian.  Kalian pernah mendengar kata indigo? Kalian tau apa itu indigo? Apa kalian pernah merasakan bagaimana rasanya jadi seorang indigo ? Dan aku adalah seorang indigo!

Sebenarnya, sulit untukku menjelaskan bagaimana rasanya jadi seorang indigo. Aku turunan indigo dari nenek yang sekarang akan aku kunjungi.  Ketika aku umur tujuh tahun, aku baru tau bahwa yang selama ini selalu bermain dengan ku itu adalah arwah gentayangan anak anak jaman dulu. Aku kira mereka sahabat sejati ku. Ternyata bukan.

Waktu itu aku di ajak mereka ke sebuah taman yang sangat indah. Sampai aku lupa waktu untuk pulang. Disana banyak bunga warna warni. Juga kupu - kupu cantik.  Aku suka sekali.

“Chici, kamu mau ikut kami ke dalam sana gak?” ajak Edo padaku.

“Disana tempat nya lebih bagus dan indah sekali,” lanjut Uti.

“Iya, aku mau ikut kalian,” balasku sambil menyusul mereka.

            Mereka yang selalu menemaniku ketika aku di Banyuwangi, Jawa Timur. Tepatnya di rumah nenekku. Chici. Begitulah mereka memanggil ku. Edo (genderewo) itu anak laki- laki dan Uti (kuntilanak) adalah anak perempuan.

            Ketika aku  masuk terus kedalam melalui lorong cantik nan indah. Aku terus berlari  dan mendapati air terjun. Mereka bilang mereka akan turun ke bawah. Dan aku ingin ikut.  Tapi tiba tiba... ada yang mencegahku dan menarikku ke belakang. Tapi aku tak mau. Aku terus meronta tapi tak kuasa dan akhirnya aku menangis

            Ternyata itu ustadz, bersama nenek juga ibu. Ustadz bilang aku gak boleh ikut. Tapi aku tetep ngotot pengen ikut mereka karena mereka sahabat ku. Akhirnya ustadz berdoa dan membacakan do’a – do’a pilihan lalu mengusapkan ke ubun-ubun dan juga wajahku dengan jemari terbungkus sarung tangan.

Ustadz bilang, “Chinta, sadar kamu, Nak!  Lihat di sana mereka itu bukan temanmu. Tapi mereka ingin mencelaKakakn kamu. Ingin menjadikanmu sebagai TUMBAL!” kata Ustadz sambil menahanku agar tidak kabur.  “Lihat ke bawah, itu bukan air terjun tapi itu jurang yang ada kolam kotor buat tumbalnya. Dan apa kamu sadar? Sekarang kamu ada di mana?’ Aku menggelengkan kepala. “Kita ada di hutan terlarang. Tadi lorong yang kamu lewati adalah gua sempit dan taman yang kamu sukai adalah kuburan!”

            Dulu waktu aku kecil, aku diasuh oleh nenekku karena ayah dan ibu ku sibuk kerja. Dan setelah kejadian itu, ibu berhenti kerja dan aku pun kembali tinggal di bandung.

֍֎֎֎֎

            Kami sekeluarga sudah sampai di Banyuwangi. Aku menangis karena terharu sekali banyak yang menyambut kedatangan kami. Nenek, sodara – sodara, juga tetangga pun ikut menyambut kadatangan kami.

“Neneeeeeeeekk.....” panggilku, Chiko, dan Chika sambil berlari.  “ Rindu nenek....” Mereka berlarian ingin memeluk nenek.  Kami semua terlarut dalam kisah nostalgia zaman dulu.

            Oiyah, aku hampir lupa, kakekku sudah tidak ada. Dia meninggalkan kami ketika aku umur 6 tahun.  Rasanya tak perlu kuceritakan kakek meninggal karena apa. Yang jelas keluarga besar kami sangat kehilangan beliau.

            Rumah nenek itu rumah peninggalan zaman Belanda. Bangunan nya panjaang........ sekali, dan  lebar. Halaman nya luas bisa di pakai parkir lebih dari 5 mobil. Dan ada bunga warna warni di pinggirnya sebagai penghias.  Pinggir kanan rumah ada kebun yang luas untuk sayuran. Pinggir kiri rumah ada kebun buah-buahan.  Di belakang rumah ada bojong (kebun kayu/bambu) yang luas, sejauh mata memandang. Memang rumah nenekku adalah yang paling besar di kampung ini.

            Model rumahnya kuno. Jika kalian masuk ke dalam rumah ada ruang utama.  Sebelum menuju ke toilet, ada semacam tanah yang panjang dan lebarnya seperti lapangan sekolah. Itu taman. Taman dalam rumah. Tanpa atap.  Di belakangnya ada ruangan sekat-sekat seperti penjara, banyak  sekali. Itu untuk hasil pertanian. Trus ke pinggir kiri ada bekas kolam ikan dan kandang ayam. Juga kandang sapi. Dan terlihat kumuh sekali.

            Ada penjara bawah tanah juga. Disana tempat untuk menyimpan barang barang peninggalan jaman dulu atau barang barang yang sakral. Dan harus di jaga benar-benar keadaan  nya. Tempatnya gelap, lembab, dan sunyi. Mengerikan!!  Membuat bulu kuduk merinding karena ada penjaganya. Dulu waktu aku masih kecil aku sering main di sana dengan seseorang yang membuatku merasa nyaman dan aman saat di samping nya.

            Mungkin bagi kalian yang tak pernah melihat rumah aneh seperti itu akan bingung dan tidak percaya. Jika kalian ingin memastikannya kalian boleh datang ke rumah nenekku. Karna jika dijelaskan oleh kata kata tak akan sejelas faktanya.

            Nenek adalah orang yang di segani oleh masyarakat. Bukan hanya karena dia kaya tapi nenek juga dermawan dan sering membantu orang. Nenek selalu baik kepada siapapun tak pernah memandang seseorang dari pekerjaan, agama, derajat sebagai apa. Bukannya aku sombong atau mau pamer tapi aku hanya ingin menjelaskan dengan rinci kepada kalian, itu saja.

            “Kakakk, Kak Chinta di panggil nenek sama ibu.” Teriak Chika sambil mengunyah makanannya.

“Iya, bentar, Dek....”   Aku segera menghadap setengah berlari dari kamar menuju ruang makan.

“Kakak, abis makan kita jalan jalan, ya?  Keliling rumah tetengga sekalian ngasih oleh- oleh.” Kata ibu.

“Iya, Bu.  Aku memang ingin keliling. Kali aja ada yang kenal he..he...,”

“Iya nanti kamu dapet jodoh orang sini,” lanjut nenek.

“Ha..ha nenek bisa aja.” Aku menjawab malu malu tapi mau.

            Akhirnya aku jadi pergi keliling kampung dengan nenek dan ibu sambil bawa buah tangan.

“Kakak...., ikutttt!” teriak Chika dan Chiko sambi lari.

“Ayo, Nak!”  jawab nenek melambaikan tangannya.

            Jadinya kami pergi keliling berlima.

            Banyak yang menyambut kami dengan antusias ada juga yang kaget karena tidak mengenal kami. Tapi ketika mereka melihat nenek pasti orang itu akan hormat dan ta’zim. Lalu ada seorang pemuda yang mendatangi kami

“Nek, Bu,” Ia menyapa sambil menyium tangan nenek.  Tapi pada ibu ia memberi salam di depan dadanya.  Salm khas orang Sunda.

Ketika dia melihatku, dia terkejut dan bahagia seperti mendapat harta karun.

“Chinta? Kamu Chinta, kan?” katanya.

“He...he iya, Mas” balasku.

“Aku Fahri, Chinta! Kamu inget aku gak?”

“Ohhh, Mas Fahri, to! Ha..ha aku hampir lupa, Mas. Maklum udah lama banget gak ketemu.”

֎֍֎֎֎

            Dia Fahri. Seseorang yang selalu menemaniku bermain di penjara bawah tanah nenek.  Umurku dengannya beda 3 tahun. Dan aku selalu memanggilnya dengan sebutan mas (Kakak dalam bahasa jawa). Dia bukan seorang indigo tapi dia selalu tahu ketika aku dalam masalah yang disebabkan setan-setan yang tidak tahu diri itu. Dan aku nyaman dekat dengannya.

            Pertama kali aku kenal dengannya ketika aku  dijailin sama Si Tajo (buta ijo).  Waktu  itu aku berumur lima tahun. Aku menangis karena ketakutan. Tiba tiba dia menarikku dan menyuruhku untuk berdiri di belakangnya. Lalu dia mengusir Sii Tajo.  Tapi si Tajo malah marah-marah gak jelas.  Entah bagaimana caranya, akhirnya Si Tajo kalah juga dan memilih pergi.

            Aku pernah bertanya padanya, “Mas, kamu itu bisa ngeliat setan juga, ya?  Sama kaya aku?”

“Mas nggak bisa ngeliat hal-hal yang ghaib kaya kamu.”  Dia seperti narik nafas berat,” Tapi entah kenapa aku bisa liat yang ghaib ketika kamu dalam masalah dengan mereka.”

Dari situ aku berfikir mungkin Mas Fahri adalah ksatria yang ada di film-film perang atau pangeran yang ada di dongeng Chinderella, yang di kirimkan tuhan untukku he...he.

            Jangan heran ketika adikku bilang Mas Fahri ganteng. Badannya six pack, tingginya atletis, wajahnya oriental, hidung nya mancung, matanya tajam, bibirnya tipis dan senyuman nya itu MEMATIKAN.  Pantas saja setan-setan tidak tahu diri itu pada takut kepadanya.

“Apa kabar Chinta?” katanya setelah duduk di kursi bambu depan rumah nenek.

“Kabar baik, Mas. Mas sendiri gimana?” tanyaku balik sambil menyimpan minuman untuknya.

“Luarbiasa sekali ketika bertemu kamu.” Seperti bicara kepada dirinya sendiri.

“Mas kerja dimana sekarang?” tanyaku mengalihkan pembicaraan.

“Di perusahaan minyak pusat kota. Sebagai sekretaris.  Kamu sendiri kuliah  dimana? Semester berapa?”

“Alhamdulillah Mas, aku kuliah di UNPAD semester empat jurusan geofisika.” Jawab ku padanya sambil mengucap syukur kepada Yang Mahakuasa.

“Berarti nanti kita bisa kerja bareng, dong?”

“Aammiinn...” jawab ku sambil malu-malu.

            Lalu kami terlarut dalam nostalgia masa lalu dan dipenuhi oleh tawa.

            Aku  rindu dengan tempat tempat main kami dulu. Jadinya kami membuat janji untuk bertemu besok di sini. Di rumah nenekku.  Aku sudah tak sabar menunggu esok tiba sampai aku tidak bisa tidur memikirkan itu semua.

            Tempat pertama yang kita kunjungi adalah penjara bawah tanah. Karena masih ada mainan kami dulu di sana.

“Lembab sekali di sini,” kataku “seperti tak pernah di kunjungi dan tak berpenghuni.”

“Iya. Aku pun memang sudah lama tidak berkunjung kesini,” jawabnya sambil memerhatikan setempat.

Tiba tiba.....BBRRUUKK... KKRREEKK... KREEEKK....  Lukisan monalisa terjatuh dan pintu.  Lemari terbuka dan tertutup dengan sendirinya. Membuat kami penasaran ada apa dan siapa yang ada di sana. Kamipun bergegas menuju lemari yang dituju. Tapi hasil nya nihil tak ada apa apa. Dan tak ada siapa-siapa di sana. Kami pun kecewa.

            Kami puas melihat kembali tempat itu, setelah bertahun-tahun aku tak melihatnya.  Kami memutuskan untuk meninggalkan ruangan itu. Tapi di sana di pojok bawah tangga yang akan kami naiki ada seorang  perempuan berambut panjang ban berbaju lusuh sedang menangis. Dan aku pura pura tidak melihatnya. Karena aku yakin Mas Fahri tidak bisa melihatnya.

            Aku yakin dia pasti tau bahwa aku melihat sesuatu.  Dia membalikkan wajahnya ketika aku  mau menaiki tangga pertama. HAAH! Aku kaget bukan main. Wajahnya seram sekali. Matanya menonjol sebelah dan mengeluarkan darah. Usus yang ada dalam perutnya keluar seperti cacing panjang yang kepanasan. Tubuh nya penuh darah dan dia tidak berhenti menatap ku. Karena aku tak mau tahu, aku lanjutkan langkah ku menaiki tangga.

            Ketika aku sampai ditangga ke tiga, ada yang menarikku ke belakang. Alhasil aku terbanting dan jatuh. Mas Fahri pun kaget dan tak bisa mencegah. Kejadiannya sangat cepat sekali. Sekarang dia tahu ada sesuatu yang melakukan itu semua. Itu berarti aku dalam bahaya. 

            Dia roh jahat. Badannya sangat besar. Matanya merah menonjol. Kulitnya hitam pekat. Mulutnya di penuhi oleh darah. Ketika aku akan di bawa pergi olehnya, Mas Fahri lebih cepat menghadang. Alhasil aku pun terbanting dan jatuh kembali. Aku langsung dia amankan di belakangnya. Si Oja (roh jahat) itu marah sekali. Dia mengamuk.  Mas Fahri melawannya, tapi Si Oja kuat sekali sampai Mas Fahri pun kewalahan melawannya.

Tiba tiba  terdengar suara......TTUUKK...TTUUKKK....TTUUKK.  Ternyata itu adalah suara tongkat nenek. Aku sempat bingung kenapa nenek tiba-tiba bisa ada di sini? Dan untuk apa? Nenek mendatangiku lalu berdiri di depanku.

“Jangan ganggu cucuku!!!” ancam nenek kepada roh jahat.

“AKU MAU DIA!” jawabnya dengan suara yang menakutkan.

“Aku katakan padamu sekali lagi. JANGAN GANGGU CUCU KU!! Dan sekarang kamu PERGI !!!” ancam nenek pada Si Oja.

            Si Oja terlihat marah sekali. Tapi dia lebih memilih mengalah lalu pergi.

            Rencanaku untuk mengelilingi tempat-tempat bersejarah kami gagal. Gara-gara Si Oja. Tujuan nenekku ke sana adalah untuk menyelamatkan aku.  Baru pertama di umurku yang duapuluh ini aku menemukan setan seperti itu.

“Nek, kenapa Si Oja itu mau aku ?” tanyaku pada nenek .

“Karna kamu cantik Chinta,” jawab Mas Fahri

Ibu tersenyum mendengar celetukan nya.

“Aku bukan nanya sama kamu, Mas. Aku nanya ke nenek!” kataku dengan kesal.

“Benar kata Fahri, Chinta,” kata nenekku.  “Hhmm.. Fahri, tolong jagain Chinta, ya!. Mungkin dia akan lebih aman jika bersama denganmu.”

“Siap nenek...” tegas nya.

“Kau memang calon menantu yang baik,” kata nenekku sambil mengelus rambutnya.

            Dalam hati aku hanya bisa mengamini semuanya. Karena malu untukku berterus terang, bahwa aku mau.

֎֍֎֎֍

            Waktu terus bergulir, kejadian demi kejadian aku lewati. Banyak sekali yang menggangguku di sini.  Tapi itu tak menggubris.  Niatku ingin bertahan dulu di sini. Aku hanya berfikir mereka mungkin kesepian hanya ingin bermain saja denganku.  Namun  nyatanya tak semuanya seperti itu.

            Setiap malam aku tidur di kamar sendirian, yang sebenarnya aku di temani banyak setan. Kadang mereka membiarkanku tidur dengan nyenyak, tapi mereka lebih sering membuat ku menderita dengan gangguan mereka saat aku tidur.

Mereka hanya kesepian, membutuhkan banyak teman yang membuat mereka nyaman.

            Aku mencoba mengambil pelajaran dari semua ini, bahwa hidup itu tidak bisa bergerak sendiri. Ada seseorang yang membuat kita nyaman dan tidak merasa kesepian. Termasuk makhluk ghaib seperti jin juga begitu.

            Hari ini kami berencana pergi ke kebun untuk membawa hasil panen. Kami sekeluarga akan pergi ke sana. Mas Fahri juga.

            Kami terlarut dengan kesibukan masin-masing. Banyak sekali buah-buahan dan sayuran yang akan kami panen sekarang. Dan aku terus maju ke kebun buah yang ada di ujung sana.

Tanpa disangka-sangka ada yang menarikku ke dalam bojong.  Aku teriak ketakutan. Refleks Mas Fahri langsung mengejarku yang di culik oleh Si Oji. Semua bergegas ambil posisi ada juga yang lari memanggil ustadz.

“Lepasin Chinta!”  bentak mas Fahri.

“HA...HA....HA, TIDAK!!!   AKAN AKU BAWA DIA KEDALAM  DUNIAKU  DAN AKAN KUJADIKAN  PERMAISURIKU  DI KERAJAANKU!”  kata Si Oji kepada semuanya.

“Tidak bisa!! Dia adalah permaisuriku. Jika kamu mau, kamu harus melangkahi mayatku dulu.”

            Aku tertegun mendengarnya.

Lalu tanpa BA BI BU Si Oja membanting tubuhku ke tanah. Dia melawan Mas Fahri. Susah untukku menjelaskan kepada kalian bagaimana pertengkaran manusia dengan jin. Yang jelas hanya orang ‘bisa’ saja yang tahu bagaimana semua itu terjadi.

Meraka berdua sama kuat, dengan licik nya roh jahat itu membawaku lagi ke atas.

            Tiba tiba nenek datang.

            “Hey, kamu jangan lukai cucuku! Jika kau berani ambilah saja aku. Biarlah aku mati dari pada cucuku kau sakiti!”

           Dia terlihat kesal sekali. Lalu dia membantingku lagi. Dan berbicara kepada nenek.“ HEY NENEK TUA BANGKA! AKAN KU JADIKAN KAU TUMBAL! MATILAH KAU HAH!!!”

           Si Oja menarik tubuh nenek yang sudah renta lalu mencekiknya.

           “ NENEEEKKKK......” teriakku sambil menangis tergugu.  

           Ibu datang tergesa gesa dengan seorang ustadz. Tapi semua sudah terlambat. Ketika ustadz tiba, nenek sudah beradu dengan Si Oja.  Dan nenek sudah tiada.  Alhamdulillah dengan izin allah dan kekuatan ayat suci Al-quran roh jahat itu bisa di kalahkan oleh ustadz.

֎֍֎֎֍

            Kami sedih sekali dengan kepergian nenek yang disebabkan olehku. Tapi mereka bilang jangan menyalahkan diriku sendiri atas kejadian ini. Karena mungkin ini sudah masuk takdir garis hidupnya. Setelah pemakaman bubar, Mas Fahri bilang pada ayah dan keluargaku akan melamar dan menikahiku sebulan setelah kejadian duka ini. Dan mereka menerima menerima niat baiknya. Aku juga menerima lamarannya. Aku bersyukur doa nenek agar aku dapat suami dari daerahnya tercapai. Keinginannya untuk Mas Fahri menikahi dan menjagaku terkabulkan.

            Namaku Chinta. Banyak orang yang jatuh cinta padaku tapi aku tak mencintainya. Dan liburanku di Banyuwangi memberikan jawaban atas segala pertanyaan yang selalu ku lontarkan.

            Aku mendapat CINTA dan DUKA ketika diriku sudah DEWASA..

  • view 33