Never Ending Questions

Etty M Zuhro
Karya Etty M Zuhro Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Juni 2017
Never Ending Questions

Kamu tau apa bagian menyenangkan saat kumpul keluarga?
Buat saya sih makanannya. Soalnya setiap kumpul keluarga, biasanya disuguhi berbagai makanan yang belum tentu dirasakan ketika hari - hari biasa.

Lalu apa bagian menyedihkannya?
Buat saya adalah "never ending questions"

Pertanyaan basa - basi yang sering terdengar saat keluarga besar berkumpul adalah sudah hamil belum, kapan nambah anak, kapan nikah, kapan lulus, kapan kerja, dan teman - temannya. Orang - orang yang bertanya demikian rata - rata membela diri dengan jawaban demikian, yaa kan lama nggak ketemu jadi bingung mau nanya apa, itu kan pertanyaan basa - basi yang umum gitu. Sementara orang - orang yang mendapatkan pertanyaan demikian lalu membela diri dengan jawaban demikian, buat apa kepo sama hidup orang, nanya - nanya trus komen nyinyir kan bikin sakit ati.

See? Sudah tau bedanya belum?
Dilihat dari kacamata penanya, tentu "never ending questions" ini bukan hal yang salah. Dilihat dari kacamata yang ditanya, hal ini adalah hal yang salah.

Lalu bagaimana kita harus bersikap?
Ketika saya menulis ini, saya jadi membayangkan diri saya sendiri. Saya selalu berada di posisi yang ditanya. Yang selalu di cecar dengan si "never ending questions" ini. Yang abis itu di komenin, di nyinyirin, di kata - katain, trus jadi bahan obrolan sepanjang masa. Jadi menurut saya, bertanya itu nggak apa - apa, nggak salah kok, toh ada peribahasa menyebutkan "Malu Bertanya, Sesat di Jalan". Tapi tolong bapak dan ibu sekalian, bedakan antara bertanya untuk menanyakan kabar dan bertanya untuk kepo. Simpanlah ke-kepo-an bapak dan ibu jikalau hal itu kira - kira bisa menyakiti orang yang ditanya.

Bayangkan kalau kita ujug - ujug bertanya, "Kapan hamil?", lalu dibarengi dengan komen demikian, "Udah berapa lama sih nikahnya? Kok belum hamil juga? Udah periksa belum? Udah coba ini itu belum? Saya aja dulu nikah sekian bulan langsung hamil kok, bla bla bla bla bla"

Atau pertanyaan ini, "Kapan nikah?", lalu dibarengi dengan komen lanjutan, "Udah umur berapa? Jangan lama - lama kalo pacaran, jangan pilih - pilih, nanti keburu tua nggak nikah - nikah loh"

Lah hellooowww bapak ibu sekalian, dengan pertanyaan pertama Anda aja, mungkin si mbak atau mas yang ditanya sudah kelimpungan mau jawab apa. Belum ditambah dengan pertanyaan atau komen berbau nyinyir. Percayalah bapak dan ibu, mungkin mereka sudah melakukan banyak usaha yang kita nggak tahu. Mungkin mereka sudah melalui banyak hal yang kita nggak pernah tahu dan nggak pernah pengen tahu. Mungkin bagi kita, mereka terlihat punya banyak pilihan, sehingga sebegitu mudahnya bagi kita untuk memberikan komen - komen nyinyir ala lambe turah. Tapi bagi mereka, bisa jadi mereka tidak punya pilihan selain pasrah dengan ketentuanNya, bisa jadi mereka sudah punya pilihan - pilihan yang lain yang kita juga nggak tahu itu apa.

Jadi bapak dan ibu sekalian, menjelang Lebaran nanti, menjelang keluarga besar berkumpul semua, bertanyalah sewajarnya, kepo sewajarnya, jangan berlebihan. Mungkin kita sudah yakin betul pertanyaan yang dilontarkan tak membuat hati mereka tersayat, tapi bagi mereka siapa tau pertanyaan sederhana dari kita sudah cukup membuat hati mereka gelisah dan tersakiti. Siapa yang tahu setelah kita bertanya, lalu mereka pulang dengan tangisan mengingat pertanyaan dan komen yang membuat hati mereka terluka.

It is none of our business whether they get married or not, whether they have a child or not. It is their life. Jadi tahan diri, tanya seperlunya tanpa embel - embel komen mengarah nyinyir. Jadikan momen kumpul keluarga sebagai ajang silaturahim yang menyenangkan, dan bukan lagi momok bagi mereka yang sering di cecar dengan "never ending questions".

  • view 28