Jihad yang Dilupakan

Esty Imaniar
Karya Esty Imaniar Kategori Agama
dipublikasikan 22 Februari 2016
Jihad yang Dilupakan

...surga itu di telapak kaki ibu...

?

Beberapa pendapat menyatakan bahwa kalimat di atas bukanlah hadist melainkan nasihat populer. Meski begitu, dalam riwayat lain, terdapat hadist yang mewakili spirit nasihat di atas:

Dari Mu?wiyah bin Jahimah as-Salami bahwasanya Jahimah pernah datang menemui Nabi SAW lalu berkata, ?Wahai Rasulullah, aku ingin pergi jihad (perang), dan sungguh aku datang kepadamu untuk meminta pendapatmu.? Beliau berkata, ?Apakah engkau masih mempunyai ibu?? Ia menjawab, ?Ya, masih.? Beliau bersabda, ?Hendaklah engkau tetap berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.? (Diriwayatkan oleh an-Nasa?i (Jilid 2) dan ath-Thabrani (Jilid 1), dishahihkan oleh al-Hakim (Jilid 4)).

Dengan mempelajari versi lengkap sekaligus shahih dari frasa ?surga di telapak kaki ibu? ini, kita bukan hanya menemukan pengukuhan kedudukan mulia perempuan dalam Islam, melainkan pada keutamaan ibadah anti-kekerasan dalam upaya menjemput surga.

?

Jihad yang Dilupakan

?

Dalam hadist di atas dijelaskan bahwa anjuran berbakti pada ibu disampaikan Rasulullah SAW kepada pemuda yang ingin ikut perang (jihad). Ketika dimintai pendapat, Rasulullah tidak serta-merta mengomando??Berangkatlah perang!? melainkan meminta?pemuda tersebut kembali pada ibunya dan berbakti kepadanya, karena sesungguhnya surga itu di bawah kedua kakinya.

Ada yang meyakini bahwa perang merupakan satu-satunya cara bersungguh-sungguh membela agama Allah SWT. Padahal, dalam hadist di atas begitu terlihat bagaimana dalam keadaan tidak mendesak, Rasulullah menghindari perang dan mengutamakan birrulwalidain sebagai bentuk bersungguh-sungguh (jihad) dalam agama Allah SWT.

Jika hari ini kita masih keukeuh bahwa hanya jihad perang yang disukai Allah SWT, mungkin kita perlu kembali mengingat hadist berikut:

Dari Ibnu Mas?ud ia berkata, ?Saya bertanya kepada Rasulullah, ?Apakah amal yang paling dicintai Allah?? Beliau bersabda, ?Sholat pada waktunya.? Saya bertanya, ?Kemudian apa lagi?? Beliau bersabda, ?Berbakti kepada kedua orang tua.? Saya bertanya lagi, ?Kemudian apa lagi?? Beliau bersabda, ?Berjihad (berjuang) di jalan Allah? (HR. Bukhari dan Muslim).

Dalam hadist shahih tersebut Rasulullah SAW pun menyampaikan bahwa berbakti kepada orang tua merupakan amalan yang paling disukai Allah SWT setelah sholat, serta mendahului berjihad. Maka jika hari ini orang tua kita masih hidup, membutuhkan pengabdian kita, menantikan bantuan kita, sudah sepantasnya kita mengutamakan jihad yang terlupakan itu.

Jika bagimu berperang merupakan satu-satunya jalan menjemput cinta Allah, bakti orang tua pun akan memberimu cinta Allah.

Jika bagimu berperang merupakan satu-satunya jalan mencapai kemuliaan sebagai muslim, kita perlu menengok sejarah Uwais bin Amir yang mulia bersama ibundanya.

Uwais bukanlah panglima perang yang membantu perluasan wilayah pembebasan, bukan pula saudagar kaya yang hartanya mengalir untuk perjuangan, atau ?ulama yang nasihat-nasihatnya dihapal banyak murid. Uwais adalah pemuda sederhana dari Yaman yang tidak dilihat bumi tapi begitu dikenal langit karena baktinya pada ibunya. Kemuliaan Uwais sampai-sampai membuat Rasulullah SAW memerintahkan para sahabat untuk meminta doa dari Uwais jika bertemu dengannya (HR.Muslim), yang diantaranya dilakukan Umar bin Khatab.

Sekalipun berbakti kepada ibu dapat menjadikan kita dicintai Allah SWT dan memperoleh kemuliaan, cinta kasih padanya bukan berarti tanpa syarat. Dalam Birr al-Walidayn, Ibnul Jauzi menjelaskan perihal berbuat baik kepada orang tua sebagai menaati perintahnya kecuali itu bertentangan dengan perintah Allah, memprioritaskan perintah orang tua daripada ibadah tidak wajib, menjauhi larangannya, melayani mereka, bersikap lembut dan penuh kasih sayang, tidak meninggikan suara, tidak memanggil dengan nama mereka, serta bersabar pada mereka.

?

Kenapa di Telapak Kaki Ibu?

?

Pada agama-agama yang meyakini konsep surga dan neraka, semua amal dimaksudkan untuk menghindari neraka dan mendapatkan surga. Uniknya, tidak ada agama yang menempatkan surga begitu ?rendah?, yakni di telapak kaki manusia (lebih-lebih perempuan), selain Islam. Tapi bukannya terkesan melecehkan ?hadiah terbesar? peribadatan itu, ?peletakan? surga di bawah telapak kaki ibu justru menunjukkan betapa Islam memuliakan peran perempuan ini.

Hari ini kita hidup dalam irisan ideologi yang seringkali membuat kita gamang dengan peran perempuan sebagai ibu. Dalam tradisi Barat, perempuan dihargai ketika dia bisa sukses dalam karir independen dan tidak direpotkan dalam urusan domestik rumah tangga seperti ibu. Di lain sisi, tradisi Timur menghargai perempuan hanya sebagai kanca wingking untuk urusan domestik rumah tangga (macak, masak, manak), tanpa memperoleh hak pendidikan dan pengembangan dirinya.

Tetapi Islam bukanlah tentang Timur atau Barat. Islam menghargai peran perempuan sebagai ibu secara holistik. Tidak membebaskannya menolak menjadi ibu, tetapi tidak juga membiarkannya tumbuh tanpa pengembangan diri. Justru dalam Islam, seorang ibu mesti berkepribadian baik, berpengetahuan luas, berpendidikan, sebab darinya sentuhan tanganya lah peradaban hebat dimulai.

Dalam bahasa Alquran, ibu dinamai Umm yang dibentuk dari akar kata yang sama dari Imam (pemimpin) dan Umat. Ketiganya bermuara pada makna yang sama, yakni yang dituju atau yang diteladani. Dalam penjelasannya, Umm atau Ibu dapat menciptakan Imam dan membina Umat melalui perhatian serta keteladanannya kepada anak. Bahkan, disebutkan bahwa jika perempuan tersebut tidak dapat berfungsi sebagai Umm, Umat akan hancur dan Imam yang bisa diteladani pun tidak akan lahir (Quraish Shihab, dalam Lentera Hati).

Konsep Umm, Imam, dan Umat tersebut sudah terbukti sejak ribuan tahun lalu, bahkan beberapa teladan ibu hebat tersebut diabadikan dalam Alquran. Diantaranya, sejarah ibu Ismail as (Siti Hajar) ketika ditinggal Ibrahim as di tengah gurun dan mampu membangun peradaban di sana. Juga kisah ibu Musa as yang rela menjalankan perintah Allah SWT untuk menghanyutkan anaknya ke sungai demi menyelamatkan masa depan umat. Atau ibu angkat Musa as (Asiyah) yang merawat dan mendidik Musa as sekalipun suaminya (Firaun) menentang. Tidak lupa kisah ibu Isa as (Maryam) yang terjaga akhlaknya, sukses membesarkan Isa as tanpa suami di tengah fitnah masyarakat. Bahkan, kualitas Maryam telah dimulai dari kemuliaan ibunya yang disebutkan dalam Quran (3:35-36).

Dalam tradisi keilmuan Islam pun, telah banyak diketahui ibu-ibu hebat yang melahirkan ?ulama hebat pula. Ibu Urwah bin Zubair (Asma? binti Abu Bakar) dikenal dengan keilmuan dan ketakwaannya. Dibesarkan dalam didikan Abu Bakar as, ibu Urwah tumbuh menjadi perempuan terdidik yang bukan hanya melahirkan ?ulama penuntun umat sebesar Urwah, tetapi juga imam-imam besar seperti khalifah Abdullah bin Zubair dan gubernur Mus?ab bin Zubair.

Ibu dari Imam asy-Syafi?i juga dikenal cerdas dan mencintai ilmu. Beliau rela melepaskan anaknya merantau untuk belajar di usia 10 tahun, juga membersamainya dalam beberapa perjalanan menuntut ilmu sebelum menetap di Mina. Guru dari Imam Syafi?i, yakni Imam Malik bin Anas, juga dikenal memiliki ibu yang berilmu dan bijaksana. Beliau menjadi orang pertama yang mendukung Imam Malik mempelajari ilmu agama, dengan sebelumnya meminta Imam Malik untuk mempelajari adab guru sebelum ilmunya.

Dalam sejarah Islam, banyak kita temui perempuan-perempuan terbaik yang dimuliakan karena mendidik dan membangun umat melalui peran mereka sebagai ibu. Meski begitu, tidak semua perempuan mulia berkesempatan mendapatkan peran ini, seperti Aisyah ra. Meski begitu, beliau tetap dikenal sebagai ibu dari orang-orang beriman, bukan hanya sebagai sebutan bagi para istri Rasulullah SAW. Sekalipun tidak dikaruniai anak secara biologis, Aisyah ra tetap menjalankan fungsi ibu sebagai "yang dituju dan yang diteladani"?dalam majelis-majelis keilmuan yang dipimpinnya. Salah satu ?ulama hebat yang lahir dari rahim majelis ilmunya yaitu Urwah bin Zubair.

Menjadi ibu berarti mengambil bagian dalam tugas besar peradaban, maka tidak heran jika Dia meletakkan surga di bawah pengabdian kepada perempuan-perempuan yang berani menghayati peran mulia ini. Mari menjemput cinta-Nya dengan mencintai para ibu, juga terus belajar menjadi ibu yang cerdas dan mencerdaskan :)?

  • view 283