Memihak dan Tersenyum

Estiana Arifin
Karya Estiana Arifin Kategori Inspiratif
dipublikasikan 14 Juni 2016
Memihak dan Tersenyum

Yang membekas dari didikan keras yang saya terima adalah: harus adil. Semakin dewasa kita semakin paham keadilan itu bukan cuma kata abstrak, keadilan juga sulit diterapkan. Berkali-kali saya cuma berakhir jadi orang yang memihak.

Pengajaran tentang pentingnya membela kemanusiaan membuat banyak teman saya terjun ke dunia bela-membela kepentingan kaum tertindas, kaum minoritas, korban diskriminasi dan orang-orang marjinal. Ini bagian dari bentuk didikan memperjuangkan keadilan. Mereka dididik sangat baik dalam keluarga, sehingga ketika keluar rumah mereka jadi pribadi-pribadi yang tak bisa menerima ketidakadilan dan penistaan terhadap nilai-nilai kemanusiaan. Benarkah?

Saya menjadi kecewa ketika semakin dewasa semakin sadar dunia ini terlalu rumit untuk dibahasakan dalam satu sisi saja. Jika kita mendefinisikan satu hal dalam satu sudut pandang, maka akan tertinggal makna tersembunyi dalam sudut lain, mengintai menunggu mencuat dan menampilkan diri sebagai ketakterdugaan di akhir kesimpulan. Saya pernah menduga tokoh A luar biasa memperjuangkan humanisme dan perubahan, saya terpukau laksana anak kecil mengagumi balon udara, dan tersentak bagai bertemu badut menyeramkan di tengah malam buta, ketika di akhir episode, tokoh A menampilkan wajah lain. Sangat lain dari definisi yang dia berikan pada kita. Saya bahkan belum tua dan pikun untuk menunggu makna tersembunyi itu mencuat.
Mengecewakan. Bagai percintaan yang diberikan kekasih yang culas.

Memihak dan tersenyum adalah dua hal yang mustahil buat saya. Terakhir saya memihak, saya tak sanggup tersenyum lagi.
Hidangan ini pahit, bahkan racun bisa lebih manis untuk berani kita telan.

  • view 87