Yin-Yang Kriminalitas -- Ketika Perempuan Indonesia diburu Secara Seksualitas

Estiana Arifin
Karya Estiana Arifin Kategori Inspiratif
dipublikasikan 31 Mei 2016
Yin-Yang Kriminalitas -- Ketika Perempuan Indonesia diburu Secara Seksualitas

 

Yin dan Yang adalah konsep dalam filosofi Tionghoa yang biasanya digunakan untuk mendeskripsikan sifat kekuatan yang saling berhubungan dan berlawanan di dunia ini dan bagaimana mereka saling membangun satu sama lain (Wikipedia).

Yin lebih bersifat pasif, tenang, feminin, simbol untuk kematian.
Yang lebih bersifat aktif, bergerak, maskulin, simbol untuk hidup.
Yin berhubungan dengan air, bumi, bulan, feminitas dan malam hari.
Yang berhubungan erat dengan api, langit, matahari, maskulinitas dan siang hari. Begitu penjelasan secara umum.

Saya melakukan sebuah pengamatan. Ketika saya mengukur grafik kejahatan dengan memakai publikasi media, dalam 3 bulan terakhir rating paling atas itu perkosaan terhadap perempuan, didominasi korban di bawah umur. Tipenya sadis, digangbang, disiksa. Korban rata-rata meninggal. Saya tidak sebukan kasus dan lokasi, karena gampang digugling. Silakan cari dan hitung untuk olahraga jantung.
Mengerikan? Sinting, bagi saya. Sebagai perempuan yang tak jantan, nyali saya digembosi oleh teror seksual ini. Kalau ada perempuan yang masih tenang dengan hal ini saya angkat jempol. Saya tidak. Saya ngilu sampai ke gigi ketika melihat akibatnya.

Yang saya baca itu keseimbangan, alam itu bersuara, alam itu memantulkan. Jika Yin pada masyarakat lemah, Yang kuat hasilnya adalah chaos, perang, kebakaran, udara panas, konflik. Jika Yin pada masyarakat kuat dan Yang lemah hasilnya adalah bencana alam, kematian massal, keculasan dan kebobrokan mental. Keduanya harus seimbang jika kehidupan sosial ingin damai dan bahagia.

Apa yang nampak dari pengamatan saya adalah unsur feminin diserang dengan keras tanpa ampun, dihina-dinakan dan bahkan begitu brutal. Akibatnya yang mendominasi suasana diantara kita saat ini adalah sikap menyerang, keagresifitas secara gencar, tidak menyesal dan konflik personal atau kelompok yang tak terhindari.

Saya tidak berani berkesimpulan, tapi saya hanya kawatir, jika perempuan di negara kita telah dijadikan objek kekerasan dengan mudahnya, itu fenomena gunung es, perendahan gender terhadapa perempuan telah lama berlangsung dengan merdekanya tanpa teguran dari etika, moral dan hukum. Ada yang salah dari cara asuh dan cara pandang. Ada yang salah dengan sikap memandang perempuan.
Dan yang paling bahaya dari semua itu adalah akibat yang kita tanggung.

Siksalah perempuan.
Kekacauan akan datang lebih cepat.
Wait and see, saya tidak berjanji karena saya tidak berharap demikian.

  • view 171