Belajar dari Pinggir Sungai Eloprogo

Estiana Arifin
Karya Estiana Arifin Kategori Inspiratif
dipublikasikan 13 Mei 2016
Belajar dari Pinggir Sungai Eloprogo

 

Buatlah pagar
Batasi agar tak jatuh
Siapa yang berada di dalam
Supaya tak menerobos siapa yang ada di luar
Jagalah keluarga seperti menjaga jemari tangan
Karena jemari untuk bekerja
Tidak untuk menyakiti

Simbah Beji


Sony Santosa menghabiskan masa mudanya dengan melakukan apa saja kenakalan orang muda. Sebelum akhirnya memilih seni sebagai jalan hidupnya, Sony sudah jatuh bangun dan bangun lagi untuk mendapatkan jalan hidup yang sebenarnya.
Bagi kita orang muda, menemukan jalan itu perkara trial and error. Banyak kisah orang sukses tidak diawali dengan bentangan karpet merah begitu keluar dari rumah orangtua. Begitu melangkah memutar roda nasib kita sendiri, kita lebih sering menemukan: "Jalan terjal dan mendaki, penuh lubang dan berduri," seperti kata Iwan Fals.

Sampai akhirnya mempunyai arthouse di sepanjang pertemuan sungai Elo dan Progo yang selemparan batu dari Borobudur, Sony Santosa mengawali karrier melukis dari bawah, memulai dari Bali. Debut awalnya, lukisan arang, mendapat pujian pelukis senior terkenal Arie Smith. Pameran lukisan arang itu membuat Sony Santosa memperoleh sepuluh juta rupiah untuk tujuh lukisan yang terjual, yang dipakainya untuk membayar hutang makan selama setahun di Bali, masa itu sekali makan sebesar 350 rupiah. Setahun di Bali itu, dia memang tidak hidup enak. Tinggal di rumah beratap rumbia dan berlantai tanah, mandi di sungai. Sisa uang lukisannya dipakai kembali pulang ke Jakarta.

Sepertinya mudah sekali perjalanan hidup pelukis yang dikenal sebagai Pendekar Pinggir Sungai Eloprogo ini. Ternyata itu bagian yang asyiknya, hidup Sony Santosa sebelumnya justru dekat dengan seni jalanan alias kehidupan preman terminal. Luar biasa nakal sejak masa sekolah, karena kelebihan energi dan pilihan teman-teman masa mudanya, mengantarkan potensi jiwa senimannya justru mendarat di terminal Blok M. Petantang-petenteng dan pasti nyebelin, sang Bapak sampai bertanya cita citanya mau jadi apa, Sony muda malah menjawab tidak tahu. Sang bapak marah sekali, saking marahnya beliau tertawa keras sekali, beliau bilang kalau dia tau Sony ini tidak punya cita cita, waktu Sony lahir sudah dicekiknya. Orangtua manapun memang gemas menghadapi anak yang tak tentu-arah.

Jarak antara Bapak dan dirinya jugalah yang membuat Sony Santosa merenungi nasib. Setelah ayahandanya meninggal, ibunya meminta dia ke Bali saja untuk melukis karena di Jakarta kehidupannya tak pernah jelas. Keberhasilan awalnya menjual 7 lukisan justru tak membekas ketika dia kembali lagi ke pergaulan lama dan Blok M. Kembali dia dikacaukan lagi dari jalan yang dia telah temukan. Ternyata memang pengaruh sekeliling kita menentukan kita akan ke arah mana.

Akhirnya Sony memang memilih kembali Bali dan melukis banyak karya yang indah dan bernilai. Keinginan untuk berubah Sony memang diawali dari kesadaran dan perenungan. Jika tidak, dia hanya berakhir di Blok M dan kita tidak akan mendapatkan Eloprogo seperti saat ini, saat banyak anak-anak muda yang mencintai dan berdedikasi untuk seni dapat berkunjung ke sana dan bagai menemukan rumah untuk kembali.

Sekacau apapun hidup, akan tetap kacau kalau kita tidak menegaskan diri kita untuk merenung dan sadar. Banyak anak muda hidup bagai dalam pusaran yang memusingkan semua orang, tanpa tujuan dan berputar-putar arah sehingga usianya habis di situ. Tekanan dari luar akan menghukum cara kita yang seperti ini sehingga semakin bertambah usia kita, semakin kita terpuruk, bukannya keluar dari pusaran dan berenang ke pulau impian.

Tak ada orang yang mampu merubah kita kecuali tekad. Tak ada nasehat yang membekas kecuali kesadaran. Jika saat ini kita dalam pusaran, segeralah angkat kepala dan ganti keluhan dengan merenung secara sungguh-sungguh dan sadarlah ini semua harus diperbaiki. Tiap kita punya hak untuk sukses, baik hatilah kepada diri kita sendiri untuk memperoleh penghargaan sebagai pengganti cercaan orang-orang. Saya juga pernah jatuh dan terpuruk, kita semua kebanyakan begitu di awal. Karena itu jangan berlama-lama demikian. Ketika tekad telah tumbuh dan kesadaran bangkit, percayalah kita melihat lebih jelas jalan untuk kita lalui. Ketika itu terjadi, pilihlah teman yang menyokong. Buatlah pagar.

13 Mei 2016
Estiana Arifin

Foto : Koleksi Pribadi Sony Santosa

  • view 218