Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Inspiratif 12 Mei 2016   14:33 WIB
Keadilan dalam Logika Sersan Bruce Wine dalam Justice-nya Dicky Armando


"Menurut saya, arti ‘keadilan’ adalah penderitaan yang serupa!”

Kalimat Sersan Bruce Wine ini dikenal sebagai hukum Mata Ganti Mata,  dalam budaya muslim juga dikenal dengan sebutan Qisash. Hukum ini setua manusia itu sendiri. Nalar manusia dalam menegakkan keadilan adalah memihak kepada korban. Punishment adalah implementasi dari keadilan dimana pelaku kejahatan dikejar dengan hukuman dan jika hukuman telah diterapkan, maka keadilan itu berhasil ditegakkan. Ini terjadi berulang-ulang.

Hukuman dibuat atas dasar kesepakatan dalam sebuah masyarakat. Jika kita mengukur hukuman sebagai keadilan, akan timbul kritik pada hukuman. Karena hukuman sendiri adalah implementasi dari keadilan, sementara keadilan adalah memberikan sesuatu pada tempat yang seharusnya. Dengan kata lain, hukuman adalah pengejawantahan dari sikap menjaga segala sesuatu pada tempatnya.
Hukuman dibuat masyarakat atau pihak yang berkuasa, sementara keadilan itu inheren, melekat sebagai sebuah keniscayaan dalam kehidupan manusia. Disinilah kita menemukan bahwa hukuman menjadi keadilan yang relatif, karena dia dibuat berdasarkan situasi dan kondisi. Sepanjang manusia yang membuat hukuman itu menyepakati dan membutuhkan bentuk hukuman tersebut, maka dia menjadi keadilan saat itu. Tapi sebuah hukuman tidak menjadi keadilan mutlak dan sepanjang masa, karena hukuman bukan alat ukur keadilan, tapi implementasi dari keadilan.

Karena itu apa yang dilakukan Sersan Bruce Wine malam-malam dengan memutalisi kepala pelaku kejahatan mempunyai dua wajah dalam persepsi keadilan Sersan Bruce Wine dengan Letnan Kevin Lecht.

Bagaimana dengan kita yang di sini?

 

Estiana Arifin

Sumber foto: 1fotonin.com  (Dicky Armando)

Karya : Estiana Arifin