Perempuan dan Patriaki

Estiana Arifin
Karya Estiana Arifin Kategori Filsafat
dipublikasikan 12 Mei 2016
Perempuan dan Patriaki

Patriaki berawal dari dominasi otoritas yang disebabkan oleh perbedaan biologis antara laki-laki dan perempuan. Laki-laki dianggap memiliki keunggulan-keungulan fisik yang dibutuhkan untuk mempertahankan kehidupan, ketika dulu kala manusia harus melawan dinosaurus sebesar separuh bukit. Sementara perempuan dinilai dalam banyak hal memiliki ukuran dan keterbatasan fisik jika dibandingkan dengan laki-laki. Mungkin saja gender ini dulu pernah bertarung dalam sayembara Siapa yang Kuat untuk memilih pemimpin kelompok. Sudah pasti otot perempuan memang ala kadar untuk dapat memenangkan sebuah pukulan, tapi seharusnya Patriaki tidak mengabaikan kenyataan bahwa perempuan pemenang hampir semua pertarungan di tempat tidur. #eh

Sistem sosial ini dipakai setua peradaban manusia, menjadi bagian dalam semua budaya patrilineal, dan selama itu pula perempuan merasakan kerugian sebagai efek sampingnya. Pemberontakan terhadap sistem ini sulit dimenangkan oleh perempuan, dan perubahannya terjadi sangat lamban. Sejak zaman gajah bertelur dan sekarang beranak, yang dirasakan perempuan masa lalu dengan masa sekarang adalah sama : ketertekanan sosial, walau dalam kadar yang berbeda.

Perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan tidak dipandang sebagai bawaan lahiriah yang lumrah, tapi dipakai untuk menciptakan kesadaran berbau patriaki bahwa perbedaan fisik itu bukti nyata manusia memang membawa kelemahan kodrati dan oleh karena itu yang kuat memang layak mendominasi yang lemah, sesuai hukum alam. Hukum alam disebut-sebut sebagai hukum alamiah dasar, hukum yang tak dapat diganggu-gugat, dimana dalam kehidupan ada pihak yang superior dan inferior dan oleh sebab itu ada dominasi dan penaklukan. Ini saja sudah salah. Siapa lagi yang membentuk kesadaran yang tergelincir ini kalau bukan sistem.

Perbedaan ini dibentuk dengan sengaja untuk membuat landasan bagi ketidaksetaraan, agar dominasi dan penaklukan dapat terus berlangsung. Masyarakat modern mencoba memperkecil ketidaksetaraan ini, tapi secara mental perempuan telah beku dalam dominasi yang diciptakan oleh sistem tua yang merasuk ini. Setiap perempuan ingin melepaskan diri, mereka jadi teralienisasi dari kultur yang membesarkan mereka. Mereka dianggap pendendam, buruk tingkah laku, bahkan secara aneh mereka diduga ingin menyamai laki-laki karena itu mereka bukanlah perempuan. Seorang feminist seolah-olah yang menafikan payudara dan menginginkan penis.
Sungguh bisa seaneh itu dugaan itu.