Se-cup Kopi

Estiana Arifin
Karya Estiana Arifin Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 11 Mei 2016
Se-cup Kopi

Setelah bertahun-tahun, mengamati punggung saja kami sudah saling mengenal dengan seketika. Tapi seperti halnya orang yang bermusuhan, hanya tak tahu apa yang dimusuhi, hal pertama yang mampir di kepala adalah : menyapa atau diam. 

Dan ajaib, ketika punggungku diamati, aku menoleh. Jangan katakan karena aku terlahir bisa melihat setan mana saja. Seolah-olah dia setan dari masa lalu, aku dapat melihatnya. Dia seperti dihempas dari tahun 2004 ke meja kopiku. Aku bersiap-siap untuk melontarkan sebaris kalimat paling dangkal agar bisa diucapkan dengan jelas dan tajam.

Tapi siapa sangka, mata tua yang memandang dengan terkejut, menukik iba hati dan seketika penuh derita. Sekelebat banyak peristiwa tumpang tindih seperti lipatan pakaian dalam kabinet, aneka ragam dan aku dapat melihat sudut bibirnya gemetar ingin menyebut sesuatu. Aku tahu, namaku.

Kau akan iba hati pada lelaki yang tak lagi muda yang telah melalui banyak persoalan hidup, kendati kau tidak memandangnya dengan bersahabat, tapi dia ingin belas kasihanmu. Kau akan memukulnya dengan kursi ini, andai saja.

Dia tetap berdiri di tempatnya dengan se-cup kopi.
Kau tetap duduk di tempatmu dengan se-cup kopi.
Pelan-pelan, kalian seperti dua batang pohon dalam belantara yang beku karena musim tak beranjak memberi perubahan.
Kau merasa masa lalu seperti lucunya poni kanak-kanak, yang tak dapat memperbaiki penampilan lugu diantara teman-teman yang menertawakan. Dia, hanya kau tatap, dan merasa terhukum. Kau tahu, mata perempuan seperti melesatnya sebuah meteor, kau takkan ucapkan apapun ketika menyaksikannya, kecuali sebuah harapan.

Pelan, akhirnya, kau memberi sebuah senyum.
Dan dia, seperti terlepas dari hukuman raja yang kejam, berlutut.

Se-cup kopi....tumpah di lantai starbucks.


  • Redaksi inspirasi.co
    Redaksi inspirasi.co
    1 tahun yang lalu.
    Catatan redaksi:

    Tulisan dengan ide sederhana tetapi dibawakan dengan bahasa kaya metafora dan cukup puitis. Nuansa filosofis juga bisa dirasakan dalam karya ini. Berkat teknik penceritaan yang sangat terperinci, imajinasi pembaca bisa terstimulasi dengan baik, terutama kondisi psikis dua tokoh dalam cerita ini. Tanpa dialog, pembaca sudah bisa menebak keduanya akhirnya seolah berdamai setelah mengalami masalah yang panjang. Satu senyuman si wanita seolah memupus rasa bersalah si pria.

  • dian agustina
    dian agustina
    1 tahun yang lalu.
    Keren!