Invalid Urban; Happybalangsak#2

Erus Wandi
Karya Erus Wandi Kategori Budaya
dipublikasikan 17 Oktober 2017
Invalid Urban; Happybalangsak#2

Dulu, Sekarang dan Masa Depan adalah sebuah perayaan. Sebuah perayaan yang bebas di interpretasikan oleh siapapun sesuai dengan medan pengalamannya masing-masing individu yang pernah hadir atau bahkan terlibat dalam ritual eksperimental dan proses kreatif Invalid Urban. “Happybalangsak#2” yang di sajikan membuka ruang kemungkinan baru untuk bisa di potong bahkan dikuliti dari berbagai pendekatan disiplin ilmu, dinikmati bahkan di muntahkan kembali. Sajian “Happybalangsak#2” yang secara visual orang awam sangat mengganggu bahkan agak sulit dicerna secara estetika, mungkin perlu pengalaman tingkat dewa yang bisa memahami sampai keakar-akarnya. hahaha,,, terlalu lebay ya!

Bagaimana tidak membingungkan seni instalasi Happybalangsak#2 menghadirkan sampah-sampah yang di produksi oleh manusia modern, plastik,kertas,limbah elektronik,botol,kaleng dan lain sebagainya. Ketika memasuki Imah Budaya, mata disuguhi plastik-plastik panjang saling silang di ikatkan pada pohon dan tiang  seperti jaman dahulu ditengah sawah untuk mengusir burung-burung memakan padi. Masih di bagian depan, dinding kiri-kanan di respon penuh dengan kresek hitam putih seperti kelelawar yang sedang bergelantungan di dinding-dinding goa. Memasuki pintu utama tengah plastik-plastik menjuntai dari atas kebawah seperti gorden melambai-lambai tertiup angin. Tepat di tengah ruangan instalasi berbagai rongsokan hasil nafsu manusia hadir, drum yang secara mekanik terus berputar yang menghasilkan suara distorsi yang membuat bising, lampu-lampu menyala membuat mata silau, di beberapa bagian lagi suara mekanik yang dihasilkan dari berbagai barang elektronik menambah suasana crowded, ambigu bahkan absurd. Karya-karya instalasinya lebih dari 3-4 meter tingginya, di tambah di bagian dinding pose anak-anak  yang menginjak televisi bertuliskan “Dream” di lapisi plastik transparan yang hampir menutupi seluruh dinding ruangan seolah wallpaper imajinasi sekaligus mimpi. Di sudut belakang kanan seperti ubur-ubur raksasa dengan tentakel selang, Kepala manusia yang dijahit oleh kawat bagian pipi di beri potongan-potongan kain sebagai pakain menambah horor. Tapi ada juga foto-foto dengan frame yang ditata sedemikian rupa seolah ini adalah ruang keluarga tempat berdiskusi, berkeluh kesah, mengenai persoalan duniawi dengan segala kebalangsakannya sekaligus menyimpan harapan. Harapan itu tergambar lewat tulisan di drum yang terus berputar dan berdecit seperti “Lihat saja Aku Pasti Bisa Terbang”, Ku Selalu Berharap Hidup Bersama Kamu Selamanya”, “Aku ingin menjadi orang yang berguna di di masyarakat”, “Aku ingin jadi Santri Cigondewah”, “Aku ingin Memberangkat Orang Tua Ke Mekah”, “Aku ingin Menjadi Pemain Sepakbola Internasional”. Itulah gambaran harapan yang dituliskan oleh anak-anak yang terlibat dalam Happybalangsak#2 di Imah Budaya Cigondewah-Tisna Sanjaya dalam rangka SeniBandung#1. Pameran berlangsung dari 11-17 Oktober 2017.

Dari Rongsok Ke Dialogis

Seni Instalasi Happybalangsak#2 membawa tanya, apa gerangan yang ingin Invalid Urban Suguhkan dengan karya semacam ini yang jauh dari yang namanya keindahan untuk sebagian orang? Apakah tidak ada medium lain untuk di olah menjadi sebuah karya yang laku dijual atau bisa di pajang digaleri nasional dan menjadi perbincangan yang tak pernah habis? Apa bedanya Invalid Urban dengan tukang rongsok? Pertanyaan-pertanyaan itu pasti muncul di sebagian benak orang yang berkunjung di Pameran tersebut.

Rongsokan adalah sebuah medium untuk bereksperimen, kerja kreatif sekaligus membangkitkan daya hidup seniman dan publik seni. Menjadi salah satu cara meditasi dan dialogis akan kebermaknaan. Menjadi tempat melepas segala keegoisan manusia mengenai budaya konsumsi tanpa memperhatikan dampak terhadap diri dan lingkungan. Bagaimana manusia hanya mengejar kesenangan-kesenangan ekonomi, biologis atau duniawi padahal kita itu “balangsak-Miskin” antara hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan alam, manusia dengan Tuhannya. Dalam artian harfiah kita tidak bisa menjaga keseimbangan tersebut. Invalid Urban mencoba mendekatkan kembali budaya dialog, membuka ruang tersebut menggunakan medium yang sebenarnya sangat dekat dengan kehidupan kita, tetapi kita lupa seperti halnya kita pergi Ke kamar mandi terus buang air besar, cebok, dan menyiramnya dengan air. Kita tidak pernah mengungkit atau mengingat kotoran yang kita keluarkan, warnanya apa, baunya apa, pekat atau encer, dan paling di ingat adalah saya makan apa tadi?. Rongsokan adalah cara daya ungkap Invalid Urban menangkap gejala-gejala yang berkembang di masyarakat Urban Kota Bandung, rongsokan menyimpan memori setiap individu oleh karenanya Invalid Urban seolah sedang mengumpulkan memori tersebut menyajikannya dalam ruang yang berbeda sehingga sang Mpu memori dapat bersikap positif.

 

Memori Kolektif namun tetap Balangsak

Kota Bandung terkenal dengan berbagai julukan Paris Van Java, Kota Kreatif, dan segudang penghargaan. Itu mengisyaratkan identitas Kota mulai tumbuh. Ridwan Kamil sebagai Walikota yang paling progresif membangun infrastruktur dan meningkatkan indeks kebahagiaan penduduk kota Bandung. Ruang terbuka hijau dan taman-taman menjamur dimana-mana dan menjadi pilihan piknik masyarakat Urban Kota Bandung, malahan bisa ngobrol langsung dengan walikota lewat media sosial, keren kan? Mengobrol diruang-ruang publik, berekspresi, muda-mudi yang melepas rindu dan lain sebagainya. Indeks kebahagian berbanding terbalik dengan kenyataan, ketika kembali kerumah masing-masing kita tetap balangsak-miskin dalam artian sangat luas. Di tempat kongkow buang sampah sembarangan, tetap berkutat dengan mencari pekerjaan, mengurus biaya rumah sakit, persoalan sekolah tak kunjung selesai, transportasi konvensional harus bersaing dengan online. Itulah yang ingin disuguhkan dalam medium rongsok karya Invalid Urban Happy tapi tetap balangsak, penuh dengan absurditas. Persoalan-persoalan kebutuhan mendasar belum sepenuhnya terpenuhi, inilah daya kritik yang ingin di ungkapkan dalam Happybalangsak#2 walaupun tidak bisa di pungkiri Invalid Urban dalam pusaran dan arus yang sama SeniBandung#1. Tapi ini menarik, Invalid Urban sadar atau tidak sadar sedang berada pada arus birokrasi yang oleh sebagian orang di cibir. Karya Happybalangsak#2 ini secara tidak langsung juga sedang memberikan daya tawar tanpa harus teriak-teriak, mengajak pemerintah dan Seniman duduk Bersama membicarakan Perencanaan kota yang ideal.

  • view 87