Penyair Patah Hati

Erma Yasinta
Karya Erma Yasinta Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Februari 2016
Penyair Patah Hati

Malam itu, di kamarmu. Aku yang tak tahu harus melakukan apa di akhir pekan, memilih bermalam di rumahmu walau hanya sekedar berbincang atau sibuk dengan gadget masing-masing, tapi setidaknya aku tak sendirian.

"Nih..", kamu menyodorkan 'ponsel pintarmu' kepadaku. Dan aku menerimanya. Sebuah quote dari blog yang kamu suguhkan padaku.

Patahkan hati seorang penulis, karyanya akan menggema.

(ahmadkrishar, 2015)

"Terus?", aku bertanya bingung padamu.

"Itu quote, kamu banget. hahahaha..", jawabmu.

"Maksudmu? Aku bukan seorang penulis sekelas penulis-penulis yang kamu baca tulisannya. Yang karyanya terkenal dimana-mana", ujarku.

"Iya, kamu memang bukan penulis seperti itu, tapi kamu penyair. Penyair patah hati. hahaha..", kamu terus menertawaiku.

"Patah hati? Aku nggak sedang patah hati, Buktinya sekarang aku baik-baik saja, nggak keliatan galau kan?", aku mengeryitkan dahi.

"Kamu memang sekarang nggak sedang galau, tapi ketika masa galaumu tiba, tulisanmu menggema seperti penyair dan isinya terkesan sedih seperti orang yang patah hati. Sebentar-sebentar aku tunjukkan salah satu karyamu.", katamu.

Aku menunggumu yang berkutat dengan gadgetmu. Aku masih belum bisa terima tentang julukan Penyair patah hati dari-mu.

"Nih, coba baca tulisanmu sendiri.", katamu tak berapa lama.

Aku menerima 'ponsel pintarmu' dan segera kubaca. Tulisan yang ada di blogku beberapa waktu silam.

?

Sudah kutitipkan pada-Nya sebentuk benda bernama?hati

yang sangat perasa dan

sering mendamba

?

Sudah kutitipkan pada-Nya sebentuk rasa bernama?cinta

yang katanya indah dan

membuat buta

?

Sudah kutitipkan pada-Nya ukiran nama bertulis?kasih

entah untuk yang terkasih, atau

sang pengasih

?

Dan sepertinya sudah kutitipkan pada-Nya semua hal yang berhubungan dengan?rasa

manis, asam, asin

rame rasanya

*eh, fokus ?( ???)???( ???)??

?

Pada akhirnya memang sudah kutitipkan pada-Nya, serangkaian kata bernama hati, cinta, kasih, dan rasa

yang membawa kata?dag.dig.dug?di sela hurufnya. Yang membuat gelisah dalam rentetan suku katanya. Karena mungkin hati sudah lelah mencari, menunggu, dan terluka.

?

Coretan ini ada ketika seseorang benar-benar pasrah. Bukan ia tidak mau berusaha. Hanya saja belum terpikir olehnya terusik kembali dengan kata bernama rasa.

Coretan ini ada ketika rasa belum benar-benar berbentuk rasa, ia takut akan menjelma menjadi segores luka

Coretan ini ada karena?sekelumit?rasa percaya bahwa apa yang sudah dititipkan pada-Nya akan benar.benar kembali berbentuk sebuah rasa

?

Aku meninju pundaknya pelan sambil tersenyum.

"Sial.."

'Betul apa katanya', batinku.

  • view 264