sebuah kontemplasi

erma nafiatulfuad.em
Karya erma nafiatulfuad.em Kategori Renungan
dipublikasikan 09 Agustus 2016
sebuah kontemplasi

Sedikit kontemplasi

__________________

 

Indonesia telah menerapkan berbagai macam sistem pendidikan yang dipatenkan dalam sebuah kurikulum selama perjalanan pasca kemerdekaannya.

Hingga yang terakhir diterapkan pula oleh mantan menteri pendidikan, bapak anies baswedan, adalah K13 yang masih menjadikan konsep pendidikan karakter sebagai salah satu jargonnya.

Dalam perkembangannya, kurikulum '13 yang pada mulanya dirasa sedikit 'ribet' oleh para pengajar serta pendidik, mulai terbiasa diterapkan pula pada akhirnya, dikarenakan esensi dari sistem pendidikan ini tak begitu berbeda dengan sebelum-sebelumnya.

Dan pasca pergantian menteri beberapa hari yang lalu, menteri pendidikan yang baru, bapak muhadjir, mencoba menawarkan satu terobosan sistem pendidikan tambahan guna diterapkan di Indonesia.

Sistem full day school, yang tak asing namun sedikit tabu bagi masyarakat indonesia yang beberapa masih didominasi dengan budaya lokal non liberal.

Sebagian besar masyarakat indonesia dengan kearifan lokalnya, masih menganggap bahwa sekolah sebagai lembaga pendidikan formal hanya menjadi salah satu wadah pengajaran dan pembelajaran bagi anak-anak. Selebihnya, keluarga masih memiliki dampak besar dalam pembangunan karakter anak-anak. Oleh sebab itu, sistem full day school dirasa sedikit kontroversi manakala diterapkan di seluruh lembaga pendidikan baik SD, SMP serta SMA.

Masyarakat menilai, meskipun sebagian orangtua dengan berbagai kesibukan aktivitasnya di era kapitalis ini merasa terbantu dengan sistem full day school, dikarenakan mereka memiliki keterbatasan waktu bersama anak-anaknya, namun tidak lantas hal tersebut dapat dipukul samaratakan untuk semua lapisan masyarakat. Beberapa masyarakat yang masih kental menegaskan peran ibu sebagai tonggak pendidikan dalam keluarga tentu saja merasa terenggut waktunya, sedangkan mereka sendiri tidak mampu menyerahkan tanggungjawab pendidikan anak-anak mereka pada sekolah dan guru-guru yang bahkan saat ini beberapa terlihat hanya memenuhi kewajiban, bukan sepenuhnya berbasis pengabdian, bukan lagi sebagai pendidik namun sebatas pengajar.

Sebenarnya, terkait sistem full day school ini, esensi penerapan waktunya sedikit banyak mirip dengan sistem pendidikan ala pesantren, yang mana anak-anak belajar tidak hanya full day school namun juga dipatok dalam jangka waktu tertentu. Ssdangkan masih kuat terbukti, sistem pendidikan ala pesantren ini terbilang sukses melihat hasil dari sistem ini akhirnya melahirkan generasi yang tidak hanya cakap secara intelektual, namun juga diimbangi dengan tingginya moral dan etika.

Namun yang menjadi pertanyaan pula, apakah sistem pendidikan serta para pendidik serta pengajar di lembaga pendidikan formal (sekolah) telah mampu secara kualitatif menerapkan pendidikan ala pesantren?

Mengingat secara basis substansi pada pendidikan pesantren adalah ketawadhu'an dan kepasrahan pada para asatidz, sedangkan dalam pendidikan sekolah formal ketawadhu'an menjadi perkara yang semakin jauh terlihat.

 

#fulldayschool

#pendidikanpesantren

#kearifanlokal

Dilihat 112