Remehnya Liga Champions bagi Ballon D'Or

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Bola
dipublikasikan 20 Januari 2016
Sepakbola, Gengsi dan Harga Diri

Sepakbola, Gengsi dan Harga Diri


Bola adalah salah satu bagian dari hidup saya. Bikin senang, sedih, galau, pusing, marah-marah tetapi yang pasti bola bikin saya ketagihan.

Kategori Acak

1.8 K Hak Cipta Terlindungi
Remehnya Liga Champions bagi Ballon D'Or

Menyaksikan penghargaan tertinggi insan pesepakbola dunia FIFA Ballon D?Or lima tahun belakangan ini terasa seperti melihat piala bergilir. Kalau bukan Lionel Messi ya Cristiano Ronaldo yang menang. Untuk 2015, Lionel Messi kembali merengkuh piala ini dengan mengungguli Cristiano Ronaldo dan Neymar.

Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo begitu merajai dunia si kulit bundar beberapa tahun belakangan. Dua pesepakbola ini pun mendongkrak dua klub masing-masing, Barcelona dan Real Madrid, dan pastinya La Liga. Liga yang dulu masih kalah mentereng dibandingkan Liga Primer Inggris dan Liga Serie A Italia kini menjadi liga terbaik dunia padahal kalau dipikir-pikir liga ini termasuk yang paling kentara kesenjangan antara Barca dan Madrid dengan klub peserta lainnya, baik dari segi keuangan mau pun materi pemain.

Kehebatan Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo pastinya saya sepakat. Apalagi Messi yang menurut beberapa orang seperti bukan makhluk dari bumi sebab mempunyai bakat yang jarang dimiliki oleh orang lain. Lalu, Ronaldo mempunyai rekor gol fantastis yang membuatnya berhak menyabet penghargaan tersebut. Jika menilik pemenang piala ini yang mayoritas adalah pemain depan, lalu apa kabar dengan pemain di posisi lainnya? Bukankah sepakbola adalah permainan kolektif, yang saya yakin Lionel Messi dan Cristiano Ronaldo tak akan bisa mencetak banyak gol jika tidak didukung oleh rekan setim yang juga mumpuni di lininya masing-masing? Layakkah pemain beda posisi saling berebut gelar pemain terbaik dunia dengan pemain lain yang beda tanggung jawab?

Pertanyaan di atas semakin rancu dengan abstraknya kriteria yang ditetapkan oleh FIFA yang memilih pemain terbaik berdasarkan performanya secara keseluruhan baik di dalam mau pun di luar lapangan. Paling konkret memang menilai kehebatan seorang pemain dari raihan gelar yang ia dapat bersama tim karena menurut saya sepakbola adalah permainan tim yang berarti raihan jumlah gol yang banyak terasa hambar jika tidak membawa timnya menjadi juara.

Mari kita lihat mulai dari pemenang 2010 yang menjadi tahunnya Messi. Tahun ini sebenarnya tahun kejayaan Inter Milan yang meraih treble winners, yakni juara Liga Champions 2009/2010, Coppa Italiana dan Super Coppa Italiana. Tetapi, pemenangnya tetaplah Messi yang klubnya tidak meraih treble winner.

Tahun 2011 masih menjadi milik Messi. Kali ini penilaian FIFA saya rasa tepat sebab Barcelona menjadi kampiun Eropa dengan mengalahkan Manchester United 3-1 pada Liga Champions musim 2010/2011.

Tahun 2012 pun juga masih menjadi milik Messi padahal Barca gagal memenangi La Liga musim 2011/2012 dan gagal mempertahankan gelar Liga Champions yang pada akhirnya menjadi milik Chelsea.

Tahun 2013 sebenarnya lebih tepat menjadi milik salah satu pemain Bayern Munich, misalnya Arjen Robben. Ia sangat berperan mengantar timnya menyabet 'treble winners', yakni gelar Liga Champions, Bundesliga dan DFB-Pokal pada musim yang sama. Lalu mengapa Cristiano Ronaldo yang juara? Padahal Madrid musim ini hanya menjuarai Supercoppa De Espana.

Gelar pemain terbaik untuk Cristiano Ronaldo tahun 2014 saya rasa sudah pas mengingat ia turut mengantar Real Madrid memenangkan derby Madrid di final Liga Champions musim 2013/2014. Pun demikian untuk gelar tahun lalu bagi Messi juga sudah pas sebab Barca meraih treble winners musim 2014/2015.

Mengapa saya begitu memasukkan unsur capaian di Liga Champions untuk melakukan penilaian pemain terbaik? Hal ini adalah karena ini merupakan ajang tertinggi klub di benua biru, laganya kumpulan juara. Sehingga jika hanya menang di liga domestik atau piala liga lokal rasanya kemampuan pemain belum begitu teruji secara menyeluruh karena level liga yang berbeda-beda kualitasnya. Sebagai contoh, handalnya Messi di La Liga belum tentu sebagus jika dia bermain di Liga Primer Inggris mengingat atmosfir dan tekanan kompetisi yang berbeda.

Saya rasa FIFA perlu meninjau kembali pentingnya hasil Liga Champions sebagai standar menentukan pemain terbaik dalam satu musim mengingat prestise turnamen ini yang sangat tinggi. Akan menjadi kehormatan dan raihan prestasi terbaik bagi seorang pemain apabila bisa merasakan merengkuh gelar Liga Champions. Bahkan buat saya sendiri, kebanggaan meraih gelar juara Liga Champions adalah puncak prestasi seorang pemain profesional, yang hanya sedikit kalah bergengsi dengan menjadi juara Piala Dunia sebab memenangkan Piala Dunia berbonus plus nasionalisme yang tidak ada jika memenangkan Liga Champions.

gambar diambil dari www.101greatgoals.com

  • view 225