Zidane, Pertaruhan Baru Florentino Perez

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Bola
dipublikasikan 20 Januari 2016
Sepakbola, Gengsi dan Harga Diri

Sepakbola, Gengsi dan Harga Diri


Bola adalah salah satu bagian dari hidup saya. Bikin senang, sedih, galau, pusing, marah-marah tetapi yang pasti bola bikin saya ketagihan.

Kategori Acak

1.8 K Hak Cipta Terlindungi
Zidane, Pertaruhan Baru Florentino Perez

Legenda hidup Real Madrid Zinedine Zidane memulai debut sebagai pelatih Los Blancos dengan mulus; mengandaskan Deportivo La Coruna lima gol tanpa balas pada 10 Januari 2016 dini hari WIB. Dengan begitu banyaknya tuntutan gelar, perseteruan abadi Barcelona, apakah kemenangan tersebut cukup membuktikan pilihan Presiden Real Madrid Florentino Perez atas Zidane adalah tepat?

Dibilang modal awal pastinya iya. Buat tim bertabur bintang mahal seperti Madrid, mencetak lima gol banding nol adalah hal yang mutlak diraih. Apalagi lawan yang dihadapi adalah Deportivo La Coruna yang secara teori memang berada di bawah Madrid. Singkat kata, Zizou, begitu biasa Zidane dipanggil, sudah pas dan menebar ancaman bahwa meski masih minim pengalaman melatih tim profesional ia tetap bukan tanpa ide mau diapakan tim sekelas Madrid ini.

Saya sendiri antara terkejut dan tidak mengetahui kabar Zizou menggantikan Rafael Benitez. Tulisan ini sendiri lebih menyorot langkah gonta-ganti kepelatihan Madrid yang terjadi begitu cepat. Entah karena tuntutan kemenangan yang luar biasa yang harus berbanding lurus dengan gelontoran triliunan rupiah membeli pemain hingga setiap pelatih baru dituntut cepat gaspol atau memang pelatihnya itu sendiri yang terlihat kurang mumpuni atau bisa jadi memang Florentino Perez, selaku presiden Real Madrid saat ini, yang kurang sabar.

Statistik Rafa sendiri sebenarnya tidaklah buruk. Sejak dikontrak menangani Real Madrid pada 3 Juni 2015, Rafa membawa Madrid menang di La Liga musim 2015/2016 hingga pekan ke-10. ?Noda? yang membuatnya dipecat pada 4 Januari 2016 adalah saat Madrid keok 0-4 di Santiago Bernabeu dari Barca. Juga, meski menang 1-3 atas Cadiz CF di Copa del Rey, Real Madrid justru didiskualifikasi sebab menurunkan Deni Cheryshev yang sedang dilarang tampil.

Prestasi Rafa sebenarnya, jika Perez mau melihat secara lebih menyeluruh, bisa ?diimbangi? dengan keberhasilan Real Madrid nangkring di pucuk klasemen akhir babak kualifikasi Grup A Liga Champions musim 2015/2016. Ia unggul di atas Paris Saint-Germain/PSG, Malmo FF dan Shahktar Donetsk. Tetapi, hal itu masih belum bisa memuaskan Perez dalam kurun waktu enam bulan. Rafa tetap ditendang lalu muncullah Zizou.

Kejutan kedua bagi saya adalah terlalu cepatnya Zizou menjadi manajer Real Madrid. Meski sebagai pemain, Zizou dikenal sebagai salah satu yang terhebat di masanya tetap saja melatih beda urusan dengan berkreasi langsung di lapangan. Banyak yang dulu hebat sebagai pemain namun gagal sebagai pelatih dan begitu sebaliknya.

Setelah pensiun dari dunia kulit bundar, ia ditunjuk menjadi penasehat tim utama Real Madrid lalu menjadi direktur olahraga Madrid hingga menjadi asisten pelatih Carlo Ancelotti. Pada Juni 2014, Zizou menjadi pelatih tim Real Madrid Castilla lalu ia meraih lisensi kepelatihan profesional dari Uefa pada Mei 2015.

Capaian Zizou bersama Real Madrid Castilla, yang bertarung di kasta ketiga sepakbola Spanyol, kurang begitu mentereng sebab ia gagal membawa tim tersebut promosi ke Divisi Segunda atau kasta kedua sepakbola di negeri Matador setelah hanya berakhir di posisi ke-6 klasemen akhir. Tanpa bermaksud meremehkan kualitas Zizou sebagai pelatih tetapi tim besar seperti Madrid wajar bila seharusnya dibesut oleh pelatih yang memang sudah terbukti tangguh mengarahkan tim profesional.

Sebenarnya dengan materi pemain berharga aduhai seperti Cristiano Ronaldo dan Gareth Bale, Zizou tak perlu dipusingkan dengan stok talenta berbakat di tiap pertandingannya. Itulah sebabnya kemenangan Madrid atas Deportivo La Coruna bukanlah hal yang terlalu dibesar-besarkan yang bisa menjamin langkah kepelatihan Zizou akan lancar tiada hambatan.

Target yang harus dia penuhi bukan selevel dengan Deportivo La Coruna. Atletico Madrid dan pastinya Barcelona adalah dua tim domestik di Spanyol yang kerap menjadi batu sandungan tim ini. Dalam lima laga terakhir, Atletico lebih kerap memenangkan derby Madrid dengan mencatat tiga kali kemenangan, dua kali seri di ajang La Liga. Real justru gagal menang sekalipun dalam rentang lima laga terakhir tersebut. Bahkan musim 2014/2015, Real menderita kekalahan telak 0-4.

Dengan rival abadinya pun, Real Madrid menderita empat kali kekalahan dan hanya menang sekali dari Barcelona dalam liga laga terakhir di La Liga. Itu baru tingkat domestik belum lagi di ajang Liga Champions. Lawan berat menanti, yang akan dimulai dari AS Roma pada babak 16 besar ajang paling prestisius di benua biru tersebut.

Patut kita lihat apakah taktik dan strategi Zizou bisa bersaing dengan pelatih hebat lainnya. Layak ditunggu dukungan awal yakni stok pemain kelas kakap akankah berbuah gelar demi gelar? Dan bagi saya sendiri, seberapa lama durasi yang diberikan Perez bagi Zizou demi kesuksesan Madrid musim ini? 6 bulan? Satu musim? Atau lebih panjang dari itu?

Foto diambil dari www.buzznigeria.com

  • view 227