Yang Belum Tuntas dari Keikutsertaan Rio Haryanto ke F1

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Bola
dipublikasikan 04 Maret 2016
Yang Belum Tuntas dari Keikutsertaan Rio Haryanto ke F1

Mencuatnya polemik seputar besarnya dana setoran ke Manor Racing demi memuluskan langkah pembalap nasional Rio Haryanto cukup mengutik saya untuk berkomentar. Sulit sebenarnya mengambil posisi tegas dalam hal ini.

Beberapa tahun lalu, kawan saya yang juga jurnalis olahraga pernah bilang bahwa Rio Haryanto adalah calon atlet berprestasi nasional yang akan tetap menjadi dirinya sendiri meski sukses. Ia tidak akan seperti atlet lain yang sombong setelah membintangi iklan atau menjadi bintang film. Kata-kata kawan saya tersebut kini terbukti.

Selain bergelimang prestasi, Rio adalah pribadi yang alim, kaya tetapi rendah hati. Saya nilai panutan tepat bagi generasi sekarang. Mengawali karir sebagai pembalap go-kart pada 2002, Rio perlahan namun pasti lolos melewati fase hingga bisa menjadi pembalap Formula 1 tahun ini. Ia sebelumnya sukses bersaing di ajang Formula Asia 2.0, GP3 Series hingga yang terakhir beberapa kali naik podium di ajang GP2 Series.

Dunia pemberitaan nasional cukup heboh tatkala keluar angka fantastis 15 juta euro atau kira-kira setara dengan Rp225 miliar ke tim Manor Racing demi memuluskan langkah Rio berlomba hingga sepanjang tahun ini.

Ramai-ramai muncul penggalangan dukungan demi membantu Rio. PT Kiky Sport, selaku manajemen Rio, masih harus melunasi jutaan euro hingga Mei 2016 agar pria kelahiran Solo, Jawa Tengah, tersebut bisa mulus bertanding. PT Pertamina dan Komite Olahraga Nasional Indonesia/KONI masing-masing mengucurkan 5,2 juta euro dan 5,1 juta euro tetapi masih kurang untuk menjamin hingga Rio bisa berlaga sampai musim berakhir.

Tak kurang ide. Menteri Pemuda dan Olahraga Imam Nahrowi memunculkan ide sumbangan dari Pegawai Negeri Sipil untuk menutupi kekurangan biaya tersebut.

Di satu sisi, saya senang akhirnya belasan tahun mimpi Rio berlaga di ajang Formula 1 terkabul. Tak ada hal yang membanggakan bagi seorang atlet bisa bertanding di kancah tertinggi suatu cabang olahraga, dimana urusan balapan mobil Formula 1 adalah yang paling prestisius. Belum lagi saya turut bangga bisa melihat akhirnya ada anak muda nasional yang bisa mewakili merah putih bersaing melawan pembalap tenar, macam Kimi Raikonen dan Lewis Hamilton. Dipandang dari sisi komersialisme, tak perlu ditanya lagi seberapa menterengnya.

Tetapi Rp225 miliar demi satu atlet yang bahkan olahraganya tak dipertandingkan di Olimpiade, is it worth it?

Tergantung bagaimana sudut pandang masing-masing dari kita sebenarnya. Jika anda melihat dari sudut pandang bisnis, pasti sangat layak angka tersebut. Tetapi dari lubuk hati seorang pecinta olahraga nasional, saya merasa harga segitu sangat disayangkan.

Saya berharap uang ratusan miliar itu lebih baik untuk cabang olahraga yang memang menyumbang emas di Olimpiade. Urusan kebanggaan nasional, saya akan lebih bangga bila merah putih berkibar di ajang Asian Games atau Olimpiade. Lebih baik KONI atau Menpora menggunakan uang tersebut ke cabang olahraga lain yang memang potensial mendulang emas, seperti angkat besi dan panahan. Atau bisa juga renang, atletik dan senam sebagai cabang olahraga yang memiliki lumbung emas terbanyak. Bulutangkis sebagai andalan kita sayangnya paling pol hanya tujuh emas jika semuanya bisa dimenangkan.

Atau bisa pula uang tersebut untuk memperbaiki stadion, peremajaan alat olahraga, penyediaan uang latih tanding atlet ke luar negeri bila perlu. Hasil mungkin tak terlihat secara cepat tetapi untuk masa depan saya yakin akan bisa terlihat buahnya.

Sayangnya komersialisme merambah semua ranah termasuk olahraga, hingga terkadang nasionalisme dalam bidang olahraga menjadi terdeviasi maknanya bagi sebagian orang. Untungnya saya tidak dan semoga tetap demikian.

Gambar diambil dari olahraga.kompas.com.

  • view 147