Kalijodo dan Taman Ayodya

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Lainnya
dipublikasikan 17 Februari 2016
Kalijodo dan Taman Ayodya

Beberapa pekan terakhir dunia berita masih didominasi oleh topik seputar rencana penggusuran kawasan lokalisasi Kalijodo, misteri kematian Mirna Salihin dan isu lesbian, gay, biseksual dan transgender atau LGBT. Meski ada beberapa topik lain yang juga dibahas tetapi secara garis besar ketika saya melihat stasiun televisi, garis besar tema masih seputar ketiga hal tersebut.

Rencana penggusuran Kalijodo, Jakarta Utara, mengingatkan pengalaman pribadi saya ketika meliput penggusuran pedagang bunga dan ikan hias yang dulu lama mengelilingi taman Ayodya, dekat Blok M, Jakarta Selatan. Lumayan beberapa kali saya meliput dan menulis berita tentang taman Ayodya saat itu. Saya juga beberapa kali mewawancarai pedagang di sana, salah satunya perwakilan pedagang yang menolak penggusuran. Meski berbeda kasus, sebenarnya masalah mendasar dari setiap penggusuran di Jakarta kurang lebih sama yaitu soal perut.

Layaknya alasan yang dikemukakan oleh pedagang di taman Ayodya, warga Kalijodo juga beralasan tempat yang mereka tinggali sudah lama menjadi lahan penghidupan bagi mereka. Belum lagi alasan sosial, ikatan kekerabatan bertahun-tahun yang mereka jalani. Dulu pedagang di taman Ayodya juga mengemukakan alasan uang keamanan yang mereka beri ke aparat seharusnya menjadi bahan pertimbangan mereka tidak digusur.

Dari sisi pemkot DKI Jakarta, alasan pencegahan banjir dan pengembalian kawasan hijau selalu dikedepankan. Dulu saya berpihak ke pedagang taman Ayodya mengingat mereka membayar retribusi dan menggantungkan hidup mereka di tempat mereka berjualan saat itu tetapi kini saya mencoba berpikir lebih jernih. Bagaimana pun hukum harus ditegakkan sekali pun akan membuat sebagian orang merana, mudah-mudahan sementara saja.

Mereka yang memang tidak mempunyai sertifikat tanah resmi di Kalijodo hendaknya lebih baik mencari penghidupan yang lebih baik, apalagi menggantungkan hidup dari prostitusi bukanlah hal yang dianjurkan oleh Islam. Uang yang mengalir dari cara halal meski mungkin tak sebanyak sebelumnya saya yakin akan lebih membawa berkah dan menjauhkan orang dari sifat ketamakan.

Tentu praktek penggusuran akan jauh dari kata mulus. Aspek kemanusiaan harus tetap diperhatikan. Saya yakin satpol PP dan aparat keamanan lah yang akan pusing menjaga agar penggusuran tak memakan korban jiwa atau minimal tidak menimbulkan kerusakan. Pendekatan persuasif menurut saya harus menjadi pilihan nomor satu. Mengambil contoh penertiban kawasan lokalisasi Dolly di Surabaya yang cukup berhasil, saya kira layak dicoba bagi bapak Ahok untuk tetap memanusiakan warga Kalijodo agar tak perlu ada darah mengucur dalam penggusuran nanti.

Meliput dan menulis berita mengenai penggusuran bagi saya adalah hal yang cukup menguras emosi. Di satu sisi, saya tidak cukup kuat menahan sedih mendengarkan cerita mereka yang akan digusur, kehilangan rumah dan kerabat yang sudah bertahun-tahun mereka kenal. Tercerabut dari akar penghidupan dan sosial menurut saya adalah hal yang sungguh menyesakkan. Tetapi di sisi lain, saya paham bila pemkot DKI Jakarta meminta kembali lahan yang memang menjadi milik mereka demi kepentingan yang lebih besar di masa mendatang.

Saat penggusuran di taman Ayodya terjadi saya tidak meliputnya meski saya justru yang lebih sering memberitakannya saat sebelum terjadi penertiban. Selain karena saya ada tugas lain (saat itu sahabat saya yang meliputnya) saya tidak kuat menahan beban emosi apabila juga melaporkannya. Bukan cengeng tetapi saya manusia biasa yang turut merasakan kesedihan yang mereka alami.

Pada akhirnya, saya hanya bisa mendoakan agar mereka tetap diberkahi dengan rezeki yang lancar tetapi menjalin tali silaturahim satu sama lain meski sudah berbeda tempat lahan mencari nafkah, amiiiin.

Gambar diambil dari beritaindonesia24jam.blogspot.com

  • view 177

  • Pemimpin Bayangan III
    Pemimpin Bayangan III
    1 tahun yang lalu.
    Wacana tentang kalijodo memang polanya agak mirip dengan 'tempat2 lainnya', tapi semoga benar tetap tak butuh darah tercecer dari proses penggusurannya, aamiin... *** Salut buat kepemimpinan yang sekarang, karena setelah begitu banyak ''pemimpin", baru saat ini ada momentum untuk menormalisasi kalijodo, yang semoga sama berhasilnya juga sama berakhir baik seperti yang lainnya, aamiin...^_