‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ yang Bagusnya Bikin Ngilu..

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 23 November 2017
‘Marlina Si Pembunuh dalam Empat Babak’ yang Bagusnya Bikin Ngilu..

Berbekal sudah menonton film crime thriller bagus India, NH10, aku sesumbar ke kawan-kawan antusias dan sanggup melihat Marlina meski jujur saja aku keder mau menontonnya setelah menonton promosinya di YouTube. Tetapi akhirnya aku mengiyakan ajakan kawan sekantor untuk menyaksikan film ini kemarin (22/11/2017) usai selesai bekerja. Kami memilih salah satu bioskop di kawasan Bintaro, Tangerang Selatan.

Benar saja. Di pembukaan awal, film ini sudah membuat jantung berdesir dengan adegan Markus membaca nisan atas nama Topan di depan rumah Marlina. Kemudian Markus mengetuk pintu yang tak lama dibukakan oleh Marlina. Degup jantung mulai kembali bergetar begitu melihat sosok yang duduk di pojok ruang tamu tempat Marlina menerima Markus. Ada sosok pria memakai baju adat yang tampak diam. Awalnya aku pikir dia ayah atau suami Marlina yang sedang tertidur. Ternyata eh ternyata itu suami Marlina yang sudah meninggal dunia. Ia menjadi mumi yang duduk di pojokan sebab Marlina tidak mempunyai uang untuk menguburkan suaminya sendiri dengan upacara adat. Sedangkan Topan adalah anak Marlina yang keburu wafat saat berusia delapan bulan di kandungan Marlina.

Singkat kata, Markus blak-blak an ingin tidur dengan Marlina bersama enam teman lainnya, sesama bandit. Kata Markus, engkau wanita paling beruntung sementara kata Marlina, dia orang paling sial.

Saat dua dari tujuh orang tersebut pergi mengambil barang rampokan, empat orang duduk di ruang tamu sambil menunggu masakan Marlina dan Markus tiduran di ruangan yang lain. Usai memuji habis-habisan enaknya masakan Marlina, ke-4 teman Markus langsung tumbang satu per satu akibat ikut memakan racun yang Marlina masukkan ke dalam masakannya.

Bagaimana dengan Markus? Ia memang berhasil memperkosa Marlina tetapi tewas dengan kepala terpenggal saat sedang ‘di puncak’. Marlina tiba-tiba mengeluarkan pedang dan blas.. kepala Markus copot dari badannya.

Adegan ini langsung membuatku menundukkan kepala lalu membuka ponsel untuk mengusir rasa takut. Adegan pada bagian ini benar-benar sadis dan kaget sekaligus puas sebab Marlina memenggal kepala Markus. Keesokan harinya Marlina hendak pergi ke kantor polisi. Waktu itu aku pikir dua temannya bukanlah ancaman tetapi tak dinyana salah besar. Franz dan satu orang lainnya marah besar dan ingin mencari kepala Markus. Akhirnya ia bergerilya mencari Marlina dengan memanfaatkan kondisi Novi, teman Marlina, yang sedang hamil besar dan ditinggalkan oleh suaminya di tengah jalan.

Hingga bagian ini aku sanggup tahan menonton. Itu pun jujur di beberapa bagian aku tidak berani melihat, salah satunya mengantisipasi jika bayangan arwah Markus berupa badan tanpa kepala sambil memainkan alat musik tradisional tiba-tiba muncul. Hanya Marlina sih yang melihat ini. Cuma alunan melodi alat musik yang sebenarnya bagus itu oleh sang sutradara diwujudkan melalui tampilan arwah Markus tanpa kepala sungguh membuat syok, horor dan ngilu..

Praktis bagian-bagian akhir film aku menundukkan kepala. Terutama jika menampakkan Novi dengan pedangnya dan sebagainya. Setiap kali diperlihatkan mumi suami Marlina jantung juga mau copot. Kepala mulai pusing saat Frans menggeser badan Markus yang tanpa kepala untuk disandingkan dengan mumi suami Marlina. Rasanya mau pingsan. Setelah itu aku tidak lagi melihat akhir cerita.

Yang aku dengar dan tebak adegan akhir mirip dengan adegan awal tetapi pelakonnya bukan Marlina melainkan Novi. Yang ingin memperkosa pun Franz bukan Markus. Lalu adegan tebasan pedang berdesing di kepala yang mulai pusing karena sudah mengantuk plus tak tahan adegan sadisnya lalu diikuti oleh suara tangisan bayi anak Novi. Seperti halnya Marlina, Novi pun juga menjadi seorang pembunuh.

Ya begitulah kesanku menonton film ini. Buat yang selama ini cuma berani nonton film komedi romantis, Marlina sungguh revolusioner, hehee.. menyaksikan adegan demi adegan ingin rasanya mengumpat sekadar meluapkan kekaguman terhadap film ini. Dimulai dari pemilihan lokasi daerah Sumba yang memang sungguh elok, pengambilan gambar yang artistik hingga pemilihan karakter yang sangat kuat.

Marsha Timothy bagus sekali memainkan Marlina. Perempuan yang sangat kuat dan asyik jika melihat interaksinya bersama Novi dan Topan, anak sebatang kara pemilik warung yang sempat ia singgahi. Kekuatan Marsha di sini ia sanggup menghidupkan karakter Marlina yang minim ucapan namun mengundang penonton menempatkan diri di posisinya melalui ekspresi dan mimik wajah.

Sosok Novi memberikan angin segar dalam film ini. Sama-sama sebagai wanita tangguh, ia pribadi yang sangat kocak dan cerewet, beda dengan Marlina yang memang pendiam. Melalui sosok Novi lahirlah dialog vulgar dan kasar yang entah kenapa malah membuat aku dan penonton lainnya terbahak-bahak. Lewat ini seolah Mouly memberikan jeda sejuk dari berbagai adegan keji sebelumnya.

Entah kenapa film yang banyak adegan sadis ini malah membuat tertawa. Ibarat orang saking kerapnya menderita akhirnya ia menjadi kebal. Mungkin itulah yang dialami oleh Marlina dan Novi, yang kerap tersakiti oleh pria dalam film tersebut. Atmosfir itulah yang aku alami. Awal melihat kepala Markus ditenteng Marlina aku takut tetapi karena kerap ditampilkan di sepanjang film aku pun jadi lama kelamaan nggak begitu takut lagi.

Walau film ini menceritakan plot yang sederhana ada banyak isu penting yang diangkat dari sini. Mulai dari penindasan terhadap wanita, patriarki yang kelewat batas, polisi yang tidak ada gunanya hingga adat yang sangat tidak masuk akal hingga menyiksa orang miskin, seperti Marlina.

Film ini maksimal sekali sehingga tidak heran memperoleh banyak penghargaan di luar negeri. Buat yang suka film genre seperti ini kalian pasti akan puas. Aku saja yang cupu ini saja kagum sekali dengan ide dan eksekusinya menjadi karya ini. Salut buat Mouly Surya dan semua cast di film ini.

Sumber gambar 

  • view 201