Teman Fiksi Terbaikku (Bag 1): Edward Casaubon

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 22 November 2017
Teman Fiksi Terbaikku (Bag 1): Edward Casaubon

Mempunyai tokoh dalam novel atau buku yang kamu anggap sebagai teman bisa merujuk pada banyak hal. Mereka yang mempunyai karakter bagus yang membuatmu bisa berucap,”Ah, tokoh ini keren sekali. Aku ingin seperti dia atau dia.” Atau tokoh yang membuat kamu jengkel yang digambarkan secara total oleh si penulis hingga engkau teringat dengannya hingga bertahun-tahun.

Bagi aku sendiri teman fiksi terbaik berarti orang rekaan yang meninggalkan jejak penting dalam benakku. Mereka begitu berkesan bagiku dalam hal tertentu. Berhubung baru saja aku menemukan tokoh fiktif bernama Edward Casaubon dalam ‘’Middlemarch’, rasanya menyenangkan bisa mengunjungi kembali karakter lain di buku-buku sebelumnya yang pernah membuatku terkenang akan mereka, nama yang akan selalu aku sebut jika aku membuat daftar tokoh sastra favorit, misalnya. Untuk unggahan pertama dari serial ini aku mengajak teman membaca analisaku tentang Edward Casaubon.

Versi gelapku ada di dalam diri Edward Casaubon

Awal mengenal tokoh bernama Edward Casaubon aku pikir tidak ada yang istimewa darinya. Seorang pria cerdas nan kaya yang memikat hati Dorothea Brooke, gadis pintar dengan jiwa sosial sangat tinggi. Saat proses romansa keduanya terjalin tak ada seorang pun yang setuju keduanya menikah di kemudian hari. Celia, saudari dekat Dodo, begitu biasa Dorothea dipanggil, secara terang-terangan mengaku tidak merestui langkah saudarinya tersebut. Celia menganggap Edward sosok yang dingin dan kaku. Hingga tahap ini aku merasa sikap Edward masih ‘biasa saja’.

Tetapi pada akhirnya Dodo tetap menikah dengan Edward. Aku tidak bisa membayangkan jika aku mengalami pernikahan seperti Dodo dan Edward. Alih-alih menikmati bulan madu romantis, Edward malah sibuk mengurus penelitiannya, ‘The Key to All Mythologies’, yang akhirnya gagal. Dodo pun malah mengisi hari-harinya di Roma dengan kesendirian yang lalu di situlah sosok Will Ladislaw kembali muncul.

Mulai dari sini aku mulai mengasosiasikan Edward dengan diriku yang terlalu serius. Kadang waktu santai pun aku pakai untuk melakukan hal yang produktif. Rasanya bersalah jika membiarkan diri bersenang-senang dalam jangka waktu lama. Edward dan aku mempunyai masalah yang sama: tidak tahu (tidak mau) membuat diri santai untuk jangka waktu tertentu.

Sementara kebiasaan Edward ini membuat Dodo merasa terasing, alhamdulillah aku belum sampai demikian. Hanya terkadang merasa berdosa pada diri sendiri yang masih jarang menikmati hidup dengan melakukan hal-hal sepele dan konyol demi menyenangkan diri sendiri.

Sikap Edward yang mempunyai gengsi tinggi membuat rumah tangganya bersama Dodo semakin runyam. Mungkin saking terpelajarnya, Edward pun menerapkan komunikasi yang seperti antara majikan dan bawahan. Bahasanya kebanyakan formal. Tak ada bercanda spontan, seperti antara Dodo dan Will nanti sebagai suami keduanya.

Kecenderungan ini mencapai puncaknya ketika Edward mencium aroma suka antara Will dengan Dodo. Sebenarnya jika Edward terus terang mengaku dia cemburu dia tak perlu menderita dalam segala kecurigaannya. Masalahnya, Edward ogah berterus terang sehingga yang ada prasangka dan asumsi yang pada akhirnya membuatnya menulis warisan yang tak masuk akal, yakni tidak akan memberikan warisannya kepada Dodo jika ia menikah dengan Will.

Dalam hubungan dengan banyak orang aku juga tipikal orang seperti ini. Bermula dari ekspektasi yang tinggi terhadap orang lain, aku menjadi cenderung posesif dan bahkan iri, cemburu. Alhamdulillah sekarang jadi lebih bisa mengendalikan sifatku yang satu ini sebab aku meyakini manusia tidak ada yang sempurna. Dan aku tidak bisa mengubah sifat seseorang seperti yang aku mau. Lebih baik bilang secara langsung lalu move on atau jika tidak, maka bersabar dan berkaca pada diri sendiri bahwa aku juga sangat jauh dari kesempurnaan.

Yang terakhir adalah sifat Edward yang tidak mau menerima kritikan. Aku dulu juga susah sekali menerima kritik. Aku merasa seperti dihakimi buruk, jelek, hanya dengan dikritik padahal itu sama sekali tidak benar. Alhamdulillah perlahan aku mulai belajar berbesar hati bahwa menerima kritik atau saran itu justru pertanda mereka memperhatikan ideku.

Edward sangat membenci Will sebab apa yang dikatakan Will benar adanya, terutama terkait penelitian bukunya yang memang gagal. Perdebatan mereka soal ilmu menarik untuk disimak dimana Will memang benar tetapi Edward tak mau terima. Salahnya Edward adalah alih-alih mengajak Will berargumen secara ilmiah, Edward justru meminta Will tak boleh mendekatinya dan Dodo. Entah alasannya semata cemburu atau yang tidak, yang pasti Edward sangat malas mendengar kritik dari Will atau dengan kata lain Edward tak mau melihat kekurangan dirinya sendiri.

Mengetahui pelan tetapi pasti bahwa Edward mirip denganku, hal yang kurasakan pertama terkejut, malu kemudian lega sebab jauh sebelum aku lahir, George Eliot telah menulis tokoh seperti Edward. Aku merasa diriku yang banyak kekurangannya ini ternyata mempunyai kembaran. Aku merasa tak sendirian. Dan yang terpenting di atas hal tersebut, aku merasa sifat dan karakterku ini normal, tak perlu ada yang harus aku sembunyikan. Lebih baik mengakuinya dan mencari cara mengendalikan atau mengatasinya daripada tidak mau mengakui, menghindar lalu meledak secara ‘sembunyi-sembunyi’, seperti yang terjadi pada diri Edward.

Sumber gambar 

  • view 182