‘Middlemarch’, Satu Novel Sejuta Rasa

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 15 November 2017
‘Middlemarch’, Satu Novel Sejuta Rasa

Seperti halnya film, aku pribadi menilai sebuah novel itu bagus apabila usai menutup halaman terakhir ada pergulatan rasa di benak. Begitu banyak sensasi tertinggal di dalam hati yang aku tahu tak akan sanggup aku menuangkan segalanya menjadi berlembar-lembar tulisan. Bukan karena akhir yang menggantung, tak pula lantaran nasib tokoh yang sesuai prediksi, bukan itu. Buatku bagus atau tidaknya novel tak harus akhir yang indah atau sedih tetapi lebih karena keseluruhan atmosfir, emosi dan pesan universal yang bisa terhantarkan secara apik ke dalam sanubari tiap pembaca. Itulah yang membuat penulis itu berhasil. George Eliot sukses melakukannya kepadaku melalui ‘’Middlemarch’ ini.

Novel ini tebalnya hampir 690 halaman di versi yang aku baca. Butuh waktu sekitar dua bulan menyelesaikan membaca ini. Bukan buku yang gampang aku baca. Bukan lantaran karena berbahasa Inggris melainkan disebabkan George Eliot menulisnya dengan teramat sangat detail sehingga butuh tempo pelan untuk menerjemahkan apa yang ia tulis menjadi imajinasi di otakku selama proses membaca.

Tiba pada bagian yang menyampaikan pesan atau opini pribadi, George Eliot pun menuliskannya dengan bahasa yang tersirat, simbolis yang lagi-lagi meminta aku membayangkan terlebih dahulu, mengaitkannya dengan konteks para tokoh di dalam buku ini hingga pada akhirnya meresapinya secara mendalam sebagai petuah seorang penulis ke pembacanya, atau katakanlah, manusia secara umum, pendapatnya tentang masyarakat zaman itu, yang masih terkait dengan kondisi sekarang.

Novel ini secara garis besar berkisah tentang idealisme, sifat alamiah tiap orang yang ingin berkontribusi buat tetangga atau lingkungannya. Niat yang baik tetapi jika tak seimbang dengan kehidupan pribadi bisa berakibat runyam. Ada pula tema tentang cinta yang terhalang oleh harga diri, status sosial hingga pertimbangan pandangan masyarakat yang jadi poin tersendiri. Hal penting lainnya adalah tentang sikap mempercayai orang lain, nilai baik orang yang memperoleh tantangan tersendiri ketika dia dihadapkan pada suatu gosip. Akankah sifat baiknya yang selama ini sanggup membangun reputasi diri sebagai orang yang baik akan luntur begitu saja atau tetap bisa utuh? Bukankah ada pepatah yang mengatakan orang bisa saja berubah, dari baik jadi buruk dan sebaliknya?

Berbekal tema universal itulah, George Eliot meramu ‘’Middlemarch’ menjadi buku yang sangat, sangat bagus. Aku kehabisan kata-kata untuk memuji karya ini. Sepanjang buku aku sering berujar, “Bagaimana dia menulis ini semua?”.

Selain salut dengan daya imajinasi dia yang luar biasa, mulai dari melukiskan Middlemarch sebagai daerah yang indah hingga tak jarang menyinggung rumah-rumah yang dijadikan lokasi utama cerita ini. George Eliot juga piawai sekali menghidupkan sebuah karakter, tak hanya karakter utama, yakni Dorothea Brooke (lalu jadi Dorothea Casaubon, terakhir jadi Dorothea Ladislaw) dan Dr. Tertius Lydgate, melainkan juga tokoh minor, seperti Caleb Garth dan Fred Vincy.

Buat aku, novel ini komplit sekali. Dalam artian, aku bisa marah saat Mr. Brooke, paman Dorothea dan Celia, merendahkan peran wanita saat itu, abad ke-19 di Inggris, padahal Dorothea dalam fiksi ini termasuk tokoh yang mandiri, tak gampang goyah pendiriannya.

Tokoh Caleb Garth, di lain pihak, cukup berhasil membuatku gemas. Ia tokoh yang baik, terlampau baik, hingga ia dan keluarganya hidup miskin saking seringnya Caleb Garth tak mau dibayar untuk pekerjaan sebab ia menganggapnya amal.
Lalu ada pula tokoh Fred Vincy, yang sering membuat aku ingin bilang, “Dasar cowok ganteng doang. Otak nggak pernah dipakai!” Sebab meski hidup dari kalangan berada, Fred pria yang tak punya pendirian tentang masa depannya. Yang ia tahu hanyalah ingin membahagiakan Mary Garth, yang untungnya mau menikah dengannya di akhir buku.

Paling berkesan buatku tentu saja tokoh bernama Edward Casaubon, suami pertama Dorothea, yang sifat mayoritasnya mirip denganku. Pendiam, punya gengsi tinggi, terlalu serius, tidak suka dikritik, pendendam. Ia juga gampang tersulut api cemburu dan curiga pada istrinya sendiri.

Tokoh yang paling terlihat tidak bahagia adalah Dr. Tertius Lydgate, orang paling idealis dalam fiksi ini, yang paling tidak bersyukur dan menghargai dirinya sendiri. Padahal ia adalah tokoh muda yang sangat pintar, tak ragu dimusuhi banyak orang karena gagasannya yang memang berbeda. Tetapi dokter ganteng ini tak sanggup melawan cercaan orang, gosip yang menyerangnya hingga tuntutan hidup dari sang istri yang manja dan punya gengsi selangit. Kalah melawan tuntutan hidup (baca: uang), akhirnya sang dokter pindah ke kota lalu dikenal jadi dokter yang hebat. Namun ia mati tidak puas dengan kehidupannya sendiri sebab ia tak memenuhi keinginannya mengabdi pada rumah sakit yang ia rintis dari awal di Middlemarch. Yang membunuh dirinya sendiri adalah standar kesuksesan yang tak ia ubah seiring dengan perubahan kehidupannya nyatanya ketika di Middlemarch dan saat di London.

Pembaca kemungkinan besar akan jatuh cinta dengan Dorothea, wanita yang hatinya baik sekali sampai dia bingung hidup dengan harta yang berlimpah. Sosok idealis ini ‘untungnya’ tak seperti sang dokter. Sama-sama idealis dan perfeksionis, Dodo, begitu ia disapa oleh saudarinya, Celia, mau mengadaptasikan idealisme dengan kondisi kehidupan pribadinya. Ia yang dulu berambisi ingin membangun rumah murah buat kaum miskin pun rela ambisinya kandas setelah menikah.

Ia lalu mengubah kontribusinya dengan menyokong rumah sakit lewat uang peninggalan sang suami. Lalu ia juga banyak membantu hal-hal kecil hidup warga yang tinggal di sekelilingnya. Lewat hal kecil ini Dodo menyadari hidupnya ternyata tetap bermanfaat. Bahkan ia pun mau membantu membayar utang sang dokter ke tuan Bulstrode dan menengahi konflik keluarga sang dokter dengan Rosamund, istrinya.

Sederhana tetapi dari sini Dodo merasakan hidup yang terasa ‘’penuh’’, tak egois. Akhirnya ia bisa hidup bahagia menikah dengan Will Ladislaw meski harus menanggalkan hartanya, hidup jauh dari keluarga dan gosip orang-orang di Middlemarch. Dodo ini keren sekali deskripsinya dalam fiksi ini.

Mohon maaf banyak sekali spoiler di unggahan ini. Tetapi buat yang tetap mau baca silahkan loh. Novel sebagus ‘Middlemarch’ tetap sangat layak dibaca bukan karena akhirnya atau alurnya saja tetapi hampir semua aspek terbaca sangat total di sini. Siapa tahu kalian pun bisa merasakan sejuta rasa seperti yang aku masih rasakan hingga sekarang. Sampai hingga kata terakhir di unggahan yang panjang ini aku tetap merasa tidak cukup. Jadi, lebih baik aku hentikan sekarang saja. Makasih udah ada yang mau baca tulisan sepanjang ini.

Sumber gambar 

  • view 67