Maaf Kazuo Ishiguro. Aku Lebih Tertarik Menunggu Pemenang Man Booker 2017

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Kesusastraan
dipublikasikan 11 Oktober 2017
Maaf Kazuo Ishiguro. Aku Lebih Tertarik Menunggu Pemenang Man Booker 2017

Kazuo Ishiguro minggu lalu baru saja memenangkan penghargaan prestisius Nobel bidang sastra. Penghargaan yang buat si penulis sendiri terasa mengejutkan sebab ia tak tanggung-tanggung mengungguli penulis yang lebih dahulu tenar, yakni Haruki Murakami dan Margaret Atwood.

Aku sendiri juga lebih mengenal dua nama tersebut ketimbang Kazuo Ishiguro. Setidaknya secara kuantitas Haruki Murakami dan Margaret Atwood lebih unggul. Sedangkan Kazuo Ishiguro sendiri aku kenal melalui versi film dari novelnya ‘Never Let Me Go’, judul yang sekadar aku tahu saja tanpa pernah berniat menontonnya. Sampai sekarang pun aku kurang tertarik membaca novel ini atas alasan yang sepele: aku cenderung malas membaca buku yang sudah terlebih dahulu aku ketahui dibuat menjadi film.

Kini, aku terbersit ingin menikmati karya pertama yang melejitkan nama Kazuo, “The Remains of the Day”, yang merengkuh Man Booker Prize for Fiction pada 1989. Man Booker Prize for Fiction atau cukup dikenal sebagai Man Booker Prize sendiri merupakan penghargaan sastra bergengsi yang digelar tiap tahun untuk novel berbahasa Inggris dan diterbitkan di Inggris.

Aku punya cerita unik dengan Man Booker Prize. Kisah antik yang sampai sekarang lebih mengakrabkanku dengan penghargaan ini ketimbang Nobel untuk Sastra.

Sekian tahun silam, lupa tepatnya tahun berapa, aku membaca ‘The God of Small Things’ karya Anundhati Roy. Aku membaca novel ini karena ingat dari opini seorang teman yang kemudian membuatku penasaran. Begitu aku baca aku benar-benar terbuai dengan tutur bahasa dan cara penuturannya.

Usai membacanya aku baru tahu Arundhati Roy meraih Man Booker Prize gara-gara novel ini pada 1997. Sejak saat itu Man Booker Prize jadi ada tempat tersendiri di hatiku, setidaknya aku mulai melirik pemenangnya untuk menjadi inspirasi bahan bacaan selanjutnya.

Aku membaca ‘Life of Pi’, “The White Tiger” hingga beberapa buku buatan Amitav Ghosh dengan sedikit dipengaruhi oleh hasil penjurian terkait siapa pemenang Man Booker Prize. Secara spesifik, hasil penghargaan ini mengantarkanku mengenal penulis kontemporer, lebih mengerucut lagi ke penulis India.

Buatku yang otaknya sudah kadung klasik banget ini, mengetahui ada judul novel modern yang bagus jadi berkah tersendiri sebab agak sulit mengarahkan hati berpaling dari novel buatan masa Victoria di Inggris.

Beberapa tahun tak menjamah Man Booker Prize secara fokus, tahun ini entah kenapa aku jadi penasaran mengetahui siapa pemenang tahun ini usai membaca artikel di BBC.com. Terlebih lagi saat aku mengetahui nama penulis yang novel debutnya bisa masuk daftar singkat kandidat pemenang. Ia adalah Fiona Mozley dengan ‘Elmet’. Aku selalu suka mengetahui penulis muda berbakat seperti dia yang bisa menjadi kuda hitam di antara nama besar lainnya, seperti George Saunders lewat ‘Lincoln in the Bardo’ dan Paul Auster melalui ‘4 3 2 1’.

Jujur saja aku baru mendengar pertama kali nama mereka. Kini aku pun ingin membaca tulisan mereka, setidaknya esai atau ulasan pendek. Ah, padahal novel tebal ‘Middlemarch’ masih belum setengah perjalanan tetapi kini aku sudah tidak sabar membaca ‘Elmet’ dan mungkin judul kepunyaan pesaing Fiona tahun ini. Hmm.. apa itu berarti aku lebih menjagokan Fiona menjadi pemenangnya tahun ini?

Sumber gambar

 

  • view 33