Begini rasanya jadi pembaca akut novel klasik

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Buku
dipublikasikan 06 September 2017
Begini rasanya jadi pembaca akut novel klasik

Sudah lebih dari lima tahun bacaanku didominasi oleh novel atau buku klasik, yang rerata dibuat sebelum 1900. Penulis generasi Jane Austen dan setelahnya. Kebiasaanku ini gara-gara aku terpukau membaca ‘The Picture of Dorian Gray’ yang kemudian menggiringku menikmati alur cerita penulis yang satu generasi atau sebelum Oscar Wilde, si empunya buku, atau generasi penulis sebelumnya.

Beberapa kali sempat membaca banyak buku yang lebih ‘muda’ hingga penulis India pada akhirnya jodohku masih di buku genre klasik, hingga sekarang. Ditambah aku yang penyuka sejarah jadilah hobi membaca buku tipe ini semakin menjadi-jadi. Usai bertahun-tahun membaca novel tema vintage menjadikanku merasakan tiga hal di bawah ini:

  1. Lama-lama jadi orang yang sabar, sangat sabar malah

Bagaimana tidak? Buku klasik rata-rata sangat tebal, di atas 300 halaman dalam bahasa Inggris. Ditambah rata-rata novel jenis ini memiliki alur yang lambat, tidak langsung dar der dor. Puncak konflik pun baru terjadi setelah novel memasuki setengah cerita. Jadi membaca novel ini membutuhkan komitmen tinggi. Aku selalu bilang ke diriku sendiri menikmati novel klasik itu bak mengikat janji pada diri sendiri dimana kalau aku tidak menyelesaikannya maka aku akan marah pada diriku sendiri.

  1. Jadi ikut-ikutan melankolis, dramatis

Berasa jadi ikut melankolis terutama saat membaca novel karya Thomas Hardy. Keahlian penulis favoritku ini dalam menggambarkan alam, polah tingkah karakter-karakternya menjadi kunci tulisan-tulisannya kian berasa jleb.

Saat ini aku masih proses menyelesaikan membaca ‘Sense and Sensibility’ milik Jane Austen. Sementara aku mengagumi teknik kepenulisan Jane yang super sopan dan mengalir sangat cair, tak bisa aku pungkiri aku muak dengan drama tidak perlu yang dibuat oleh beberapa tokoh di dalamnya, terutama Nyonya Jennings. Mungkin memang Jane sengaja memasukkan manusia seperti dia untuk memaki orang dengan sifat seperti itu tetapi menilik kembali ‘Emma’ aku tak bisa berkata sepertinya orang zaman dulu suka sekali terjebak pada hal-hal kecil urusan orang lain. Dan aku jadi perlahan ikut arus..

  1. Semakin sering saja berucap “ah begitulah hidup..’

Meski banyak menampilkan cerita cinta tetapi novel klasik menurutku agak jauh dari kata romantis. Konflik, pertentangan keluarga, kelas sosial, harta benda, belum lagi perbedaan sikap pria dan wanita membuat cerita cinta mereka tak selalu mulus. Jadi walau pun pada akhirnya mereka menikah atau bersatu kembali setelah terpisah lama aku pun cuma bisa bilang ke diriku sendiri, “ah ya syukurlah akhirnya berakhir bahagia’.

Terkesan datar memang tetapi justru dari cerita-cerita penulis tersebut aku belajar kebahagiaan itu bukan hasil akhir atau mencapai suatu titik tertentu. Kegembiraan bisa didapat saat proses mencapai suatu keinginan tertentu. Makanya di akhir novel aku selalu merasa lega, ‘penuh’ bukannya selalu bahagia. Dan itu nilai plus plus hampir setiap novel klasik yang pernah aku baca yang selalu sukses mengajakku untuk tidak mau beralih ke novel tipe lainnya hingga kini. Sebab di balik tantangan, rasa sebal, antusiasme yang dirasa selama membaca, satu jaminan yang aku akan dapatkan saat menutup halaman terakhir yakni kepuasan.

 Foto diambil dari sini

  • view 85