Menulis Versus Berbicara: Mana yang Lebih Sulit?

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 09 Agustus 2017
Menulis Versus Berbicara: Mana yang Lebih Sulit?

 Jika aku ditanya seperti judul di atas aku akan menjawab berbicara, terutama bagi mereka yang bisa ngomong di depan publik dengan tata bahasa teratur, pola atau struktur pikiran yang runut. Selain mempunyai kepercayaan diri oke, buatku orang yang bisa seperti itu dapat menguasai emosi diri secara bagus.

Aku sih selalu yakin orang yang bisa seperti itu pasti sebelumnya banyak berlatih. Well, keahlian apa pun dapat terasah jika mau berusaha secara disiplin, tak terkecuali berbicara. Selain itu, berbicara menurutku susah karena sekali kata keluar dari mulut kita, tak dapat kita menariknya kembali. Makanya, harus berhati-hati dalam berbicara supaya tidak menyinggung perasaan orang lain. Kalau sudah masuk tema begini, ada yang bilang mereka yang berbicara hati-hati dan normatif termasuk orang yang munafik atau tidak berani berkata jujur. Berseberangan dengan mereka yang ngomong blak-blakan dengan dalih tidak mau ngomongin orang lain di belakang. Ini sih kembali ke niat si pembicara dan yang melihatnya dari luar.

Aku menilai berbicara hal yang sulit sebab aku memang kurang nyaman ngomong, apalagi di depan banyak orang. Aku kurang percaya diri tampil di depan publik. Tak heran tiap kali diminta ngomong badan bisa panas dingin atau deg-deg an.

Dulu aku masih suka menantang diri sendiri untuk ngomong di depan umum. Pernah aku menganggap aku pengecut dan penakut. Kadang aku suka sebal pada diriku sendiri yang lebih banyak diam saat di grup dan lebih sering mendengarkan pendapat orang lain. Dunia sekarang ini terasa ‘kejam’ bagi mereka yang pendiam, apalagi di era media sosial dimana orang ingin banyak berekspresi.

Tapi kini, aku tak mau ‘memaksa’ diri melakukan hal yang memang tak membuatku nyaman. Lebih baik aku fokus menulis, hal yang dari kecil membuatku tenang, teman sejati yang tidak pernah pergi.

Ada pendapat yang berseberangan denganku. Ada teman yang bilang penulis itu orang yang hebat. Tanpa menafikkan pendapat temanku tadi sebab menulis memang bukan hal gampang, aku bilang kepadanya hal yang sederhana. Bahwa tiap orang diberi kecenderungan masing-masing. Mereka yang menulis berarti mengikuti kecenderungan hati yang memang lebih nyaman menulis daripada berbicara.

Terlepas dari persoalan kenyamanan hati, dalam bidang akademis, misalnya saat saya masih kuliah di jurusan Sastra Inggris, menulis menjadi keahlian yang paling lama ditempuh, yakni hingga semester ke-7. Berbicara, membaca dan mendengarkan lebih dulu rampung sebelum semester tersebut.

Selain karena menulis elemen penting untuk menulis skripsi, menulis memang bisa dibilang hal yang kompleks. Dimulai dari menemukan ide, yang terlebih dahulu melalui proses mendengarkan atau membaca, menuangkannya ke dalam deretan kata yang mudah dipahami sekaligus berbobot jadi urusan lain yang lebih maju.

Buatku yang suka menulis dari kecil, mampu menulis bak air mengalir lancar jadi hal yang selalu menantang, tak hanya untuk menulis berita, tulisan opini tetapi juga fiksi atau novel. Dapat menjembatani antar kalimat dan paragraf dimana setiap kalimat layak baca alias tidak hanya buang-buang kata demi tulisan yang sekadar panjang butuh latihan ekstra keras.

Sementara membuat jembatan antar kalimat dan paragraf saat menulis untuk tulisan berita atau features terlihat hal yang wajib dilakukan dan kentara dilihat, melakukannya untuk fiksi, cerita pendek atau novel agak susah diterapkan. Kadang gambaran orang, tempat atau cerita sampingan bisa membuat tulisan jadi ke sana dan kemari, lupa kreativitas pun membutuhkan panduan agar pembaca tidak bingung.

Terakhir aku ingin menyampaikan apa pun kecenderungan kita, menulis atau berbicara, dua-duanya sama-sama jadi anugerah yang jika kita kuasai dan manfaatkan secara baik akan bermanfaat dalam hal apa pun. Yang satu juga tak bisa hidup tanpa yang lain. Pergunakan keduanya secara pas pada tempat dan waktunya dan terhadap orang yang tepat.

Gambar diambil dari sini 

  • view 70