Menyikapi secara bijak fenomena bunuh diri dengan membaca fiksi

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 26 Juli 2017
Menyikapi secara bijak fenomena bunuh diri dengan membaca fiksi

Little Father Time atau Jude menggantung dirinya sendiri dan kedua saudara tirinya sebab menganggap mereka sumber masalah yang dihadapi oleh keluarganya. Usia mereka masih sangat belia. Jude sendiri adalah anak dari Jude Fawley dengan istri pertamanya, Arabella. Sedangkan dua saudara tersebut merupakan buah hubungan terlarang antara Jude Fawley dengan Sue Bridehead, dimana keduanya sebenarnya masih saudara sepupu.

Begitu bagian dari novel ‘Jude the Obscure’ (1895) yang paling membuat saya tidak habis pikir. Tak cuma sedih tetapi juga marah. Padahal novel ini ditulis oleh salah satu penulis favorit saya, Thomas Hardy. Sementara buat pencinta sastra yang jadi buah perdebatan adalah kumpul kebonya Jude dan Sue, buat saya hal yang paling membuat saya jengkel dan ingin melempar buku ini adalah bagian bunuh diri ketiga anak Jude. Meninggal dunianya mereka merupakan simbol hukuman atas dosa hidup bersama tanpa menikah Jude dan Sue yang tidak sesuai norma sosial saat itu (pada akhirnya mereka menikah tetapi hanya untuk formalitas di masyarakat sebab publik menolak keberadaan mereka). Saya benci Thomas Hardy memutuskan akhir ketiga anak tersebut dengan cara bunuh diri seperti itu. Mereka seperti menanggung dosa orang tua yang tidak mereka paham dosa mereka itu apa.

Heathcliff jadi karakter fiktif lain yang sangat sukses membuat emosi saya acakadul. Ia tega menyiksa anak dari Cathy, perempuan yang sangat ia cintai tetapi tak ia miliki, secara fisik dan psikis. Ia menjebak si anak tersebut agar menikah dengan anak Heathcliff yang sakit-sakitan dan sangat manja. Bagian dimana anak Cathy dikurung di rumah Heathcliff lalu dia baru bisa pulang di saat terakhir sebelum ayahnya meninggal dunia adalah bagian yang paling membuat saya pilu.

Sebetapa saya sangat membenci tokoh Heathcliff saya juga sangat kasihan padanya. Hanya sebentar sekali ia merasakan kebahagiaan bersama Cathy, itu pun ia dapatkan secara diam-diam. Obsesi cintanya terhadap Cathy membuatnya tak bisa bahagia dengan orang lain, termasuk anak kandungnya sendiri. Heathcliff, figur sastra yang paling akan saya kenang karena kerumitan hidupnya dari remaja hingga akhirnya meninggal dunia.

Penggalan sinopsis ‘Wuthering Heights’ tersebut menambah beberapa referensi tokoh fiktif berpengaruh yang cukup mengubah cara pandang saya tentang manusia. Saya sendiri selalu berpendapat membaca fiksi, apa pun itu, sebenarnya cara paling asyik belajar tentang manusia dan kehidupan. Bisa menyelesaikan novel, seperti ‘Jude the Obscure’ dan ‘Wuthering Heights’ menjadi capaian tersendiri buat saya sebab banyak menantang kesabaran dan sisi humanis yang saya miliki.

Semakin sering saya menemukan tokoh karangan dengan sifat rumit seperti Heathcliff atau alur dengan akhir bunuh diri, bahkan pada anak-anak tak berdosa seperti Jude, semakin saya bisa menarik kesimpulan bahwa manusia merupakan obyek yang menarik untuk dijadikan tokoh, termasuk sisi gelapnya. Bahwa kita tidak bisa menyamaratakan satu individu dengan yang lain. Setiap dari kita membutuhkan pemahaman multi dimensi untuk memahami persoalan setiap orang, termasuk jika orang tersebut memutuskan mengakhiri hidup dengan cara tragis seperti bunuh diri.

Satu manfaat luar biasa yang kita dapat dengan banyak membaca fiksi adalah ia mengasah empati kita jika kita mau memperluas variasi bacaan, yang mengenalkan kita pada banyak aneka rupa karakter. Semakin sering kita banyak mengenal kepribadian semakin terasah pula cara kita menghadapi mereka. Kita tak serta merta menganggap mereka orang yang gila, cari sensasi atau jauh dari Tuhan.

Tulisan ini tidak bermaksud mendukung tindakan bunuh diri, menganggapnya solusi wajar terhadap masalah hidup. Saya hanya ingin mengajak kita lebih peduli kepada orang lain, apalagi yang kita anggap sedang mempunyai masalah hidup berat atau menunjukkan gejala psikologis tidak biasa, seperti banyak merenung, sering stres dan yang lainnya. Berlatih empati kepada orang lain jauh lebih dibutuhkan daripada mengutuki mereka yang nekad bunuh diri atau ramai menyebarkan video bunuh diri di media sosial lalu menulis komentar terhadap kejadian itu.

Sementara ajakan kembali kepada Tuhan bisa ditanggapi beda-beda oleh beragam individu, sastra bisa menjadi medium awal yang baik untuk terlebih dahulu mengasah empati lalu merangkul kawan atau saudara yang sedang dalam masalah pelik. Kadang yang mereka butuhkan paling awal adalah memperoleh orang tempat mereka bicara banyak. Yang sabar menjadi teman mendengarkan segala keluh kesah mereka. Dibutuhkan kesabaran luar biasa untuk menjadi teman dengar yang baik. Tetapi jika sudah terlatih membaca banyak karakter ekstrim dalam novel, setidaknya kita bisa menganggap apa yang kita baca pada akhirnya memang harus dipraktekkan.

 Foto diambil dari sini.

  • view 84