Lima Mispersepsi tentang Kutu Buku yang Patut Diluruskan

Eny Wulandari
Karya Eny Wulandari Kategori Buku
dipublikasikan 06 Juli 2017
Lima Mispersepsi tentang Kutu Buku yang Patut Diluruskan

Menjadi kutu buku di lingkungan yang mayoritas bukan pencinta buku terkadang menghadirkan rasa seperti seorang alien. Sementara teman yang lain suka bergerombol engkau asyik menyendiri di pojok membaca buku. Engkau biarkan wajahmu setengah tertutup oleh buku atau novel.

Saat yang lain mengisi akhir pekan dengan pergi ke bioskop engkau justru tak kemana-mana melainkan di kamar atau di rumah dengan agenda bacaan segudang. Sadar atau tidak sadar lambat laun orang dapat saja mengkategorikanmu ‘beda’ padahal kamu merasa biasa saja. Berikut beberapa persepsi atau pendapat kurang tepat yang banyak menggambarkan si kutu buku karena kebiasaannya ini. Silahkan didebat atau dibantah di kolom komentar. Aku tunggu loh, kawan inspirator semuanya..

  1. Anti sosial

Saking banyaknya waktu yang engkau pakai buat membaca dibandingkan bergaul tak mengherankan memang jika ada yang menilai engkau anti sosial alias tidak suka bersosialisasi dengan manusia. Padahal tidak semua kutu buku seperti itu. Ada kalanya kamu berbaur dengan teman atau saudara lalu pada banyak kesempatan lainnya engkau sibuk sendiri dengan bacaanmu.

Daripada ribut membantah bahwa kamu bukan anti sosial lewat ucapan atau unggahan status di media sosial, mending perbanyak waktu bergabung dengan komunitas atau ikut tur atau bergaul dengan orang. Intinya sih, jangan berat hanya di waktu membaca. Setuju dong?

  1. Berkepribadian tertutup

Istilah psikologinya sih ‘introvert’. Padahal tidak semua penyuka buku itu orangnya tertutup atau tidak suka banyak bicara. Banyak loh kutu buku yang tetap cerewet alias banyak omong. Bedanya mereka ini tahu kapan banyak bicara dan paham kapan waktu untuk membaca. Tergantung ke sifat lahiriah masing-masing orang. Mau ‘introvert’ atau ‘extrovert’, membaca itu hobi yang bisa dilakukan oleh orang dengan dua kepribadian tersebut atau campuran di antara keduanya.

  1. Tidak pandai bergaul

Paling sebal dibilang kutu buku itu tidak bisa bergaul di tengah masyarakat. Walau sering menggauli benda mati bukan berarti mereka tidak bisa membawa diri di tengah manusia loh. Penyuka buku justru bisa lebih memahami banyak karakter orang dan lebih empati sebab sudah biasa mengenal tokoh fiktif di dalam fiksi yang mereka baca.

  1. Arogan

Ini juga stigma yang paling bikin senewen. Hanya karena menghabiskan waktu dengan membaca di kendaraan umum atau di tengah orang asing bukan berarti kutu buku orang sombong atau tidak bisa disapa. Kutu buku diam selain karena memang ingin membaca, juga karena tidak mau terlalu ikut campur urusan orang. Sekali-kali coba deh sapa mereka secara sopan pasti akan dibalas dengan senyum manis. Di lain pihak, sekali-kali boleh lah kita para kutu buku melihat ke sekitar dan senyum ke orang asing. Asal terlalu sering senyum aja sih, hehe..

  1. Orang aneh

Hanya karena memiliki kesukaan yang berbeda dengan orang kebanyakan bukan berarti kutu buku orang aneh. Jika ada yang menganggap kamu aneh bilang saja kamu bukan orang aneh melainkan unik. Dan kamu tidak perlu malu mempunyai hobi yang membuatmu punya kebiasaan atau sifat berbeda dengan kawan atau orang lain.

 Foto berturut-turut diambil dari:

thumbnail

anti sosial 

tertutup

nggak gaul 

sombong

aneh 

  • view 107